BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai dampak positif pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah adalah adanya pergeseran pola penyakit di Indonesia. Penyakit infeksi dan kekurangan gizi berangsur turun, diikuti dengan meningkatnya penyakit degeneratif atau tidak menular. Salah satunya adalah Diabetes Mellitus.
Jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) di dunia mengalami peningkatan dengan data yang ada pada tahun 1994 = 110,4 juta, 1998 = ±150 juta, tahun 2000 = 175,4 juta, tahun 2010 = 279,3 juta dan tahun 2020 = 300 juta. Sedangkan di Indonesia atas dasar prevalensi ± 1,5 % dapatlah diperkirakan jumlah penderita DM pada tahun 1994 = 2,5 juta, 1998 = 3,5 juta, tahun 2010 = 5 juta dan 2020 = 6,5 juta (Majalah Diabetes Surabaya, 2001: volume 1).
Meningkatnya prevalensi DM di Indonesia, diduga ada hubungannya dengan cara hidup (pola makan) seiring dengan kemakmuran yang meningkat, hal ini tercermin dari pendapatan Indonesia tahun 1995 setinggi US $ 1030. Pola makan bergeser dari pola makan tradisional yang banyak mengandung karbohidrat, serat dan sayuran ke pola makan kebarat-baratan dengan komposisi yang terlalu banyak mengandung protein, lemak, gula, garam, dan sedikit serat. Hal ini juga didukung oleh kurangnya peran keluarga dalam pengelolaan pada salah satu anggota keluarga yang menderita Diabetes Mellitus. Selain juga pola makan, gaya hidup yang sangat sibuk, duduk di belakang meja menyebabkan tidak adanya kesempatan untuk rekreasi atau olah raga sehingga menyebabkan tingginya angka penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes dan hiperlipidemia. Di samping cara hidup dan gaya hidup, peran keluarga dalam pengelolaan pasien Diabetes Mellitus juga belum optimal.
Diabetes Mellitus jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, syaraf dan lain-lain. Dengan pengalaman yang baik, yaitu kerja sama antara pasien, keluarga, dan petugas kesehatan, diharapkan komplikasi kronik DM akan dapat dicegah, setidaknya dihambat perkembangannya. Untuk mencapai hal tersebut, keikutsertaan pasien, keluarga untuk mengelola anggota keluarganya menjadi sangat penting. Demikian pula adanya para petugas kesehatan sebagai penyuluh bagi keluarga dalam membantu pasien dengan Diabetes Mellitus. Guna mendapatkan hasil yang maksimal, penyuluhan bagi para petugas kesehatan sangat diperlukan agar informasi yang diberikan pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus bermanfaat.
Berdasarkan penemuan fakta di atas, maka perlu dilakukan penelitian guna membuktikan pengaruh konseling keluarga terhadap peran keluarga dalam mengelola anggota keluarga dengan DM, sehingga peneliti ingin meneliti pengaruh konseling keluarga terhadap peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus di wilayah kerja Puskesmas Torjun.
Perumusan Masalah
Pernyataan Masalah
Keluarga dengan salah satu anggotanya menderita DM belum berperan secara optimal dalam mengelola anggota keluarga dengan DM tersebut. Belum berperannya keluarga secara optimal itu disebabkan oleh kurangnya informasi tentang pengelolaan penderita DM yang diperoleh keluarga. Kurangnya informasi tentang pengelolaan DM yang diperoleh keluarga dapat menyebabkan ketidaktahuan keluarga yang berarti akan mengurangi peran dari keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pernyataan masalah tersebut maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian, yaitu:
Bagaimanakah pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Mempelajari dan membuktikan pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Tujuan Khusus
1)Mengidentifikasi peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM.
2)Mengidentifikasi peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM.
3)Mengidentifikasi peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM.
4)Mengidentifikasi peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemi pada anggota keluarga dengan DM.
5)Membuktikan pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam mengelola anggota keluarga dengan DM.
Manfaat Penelitian
1)Hasil penelitian ini dapat meningkatkan perkembangan ilmu tentang pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan pasien Diabetes Mellitus.
2)Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi tempat pelayanan kesehatan untuk meningkatkan pelayanan terutama dalam bidang konseling.
3)Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan konseling keluarga.
4)Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, dan dapat dimanfaatkan ilmuwan lain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Relevansi
Pola makan dan gaya hidup merupakan penyebab terjadinya penyakit DM. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi pada penderita DM adalah dengan adanya peran keluarga dalam hal pengaturan pola makan, latihan jasmani, perawatan kaki dan pengelolaan obat hypoglikemia, sehingga konseling tentang hal itu perlu diberikan pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan disajikan konsep dasar konseling keluarga, peran keluarga dan pengelolaan Diabetes Mellitus.
Pertama konseling keluarga yang meliputi pengertian konseling keluarga, masalah-masalah keluarga, pendekatan konseling keluarga, tujuan konseling keluarga, bentuk konseling keluarga, proses dan tahapan konseling keluarga dan faktor yang mempengaruhi keberhasilan konseling.
Kedua peran keluarga yang meliputi pengertian keluarga, fungsi keluarga, peran keluarga.
Ketiga pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang meliputi pengertian DM, tujuan pengelolaan, kriteria pengendalian, cara menentukan status gizi, perencanaan makan, latihan jasmani, pemeliharaan kaki dan obat hipoglikemi.
Konseling keluarga
Pengertian
Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi khusus yang berfokus pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga (Latipun, 2001: 174-175). Konseling keluarga merupakan bagian penting dalam pengelolaan DM karena pada konseling keluarga memandang bahwa keluarga tidak hanya dilihat sebagai faktor yang menimbulkan masalah, tetapi menjadi bagian yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah, dimana keluarga dan anggota keluarga merupakan sistem yang saling mempengaruhi sehingga untuk mengubah masalah yang dialami anggota keluarga diperlukan perubahan dalam sistem keluarganya dan permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain.
Masalah-masalah keluarga
Berdasarkan pengalaman dalam penanganan konseling keluarga masalah yang dihadapi adalah: Keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orang tua, konflik antar anggota keluarga, perpisahan dengan anggota keluarga karena kerja diluar daerah, anak yang mengalami kesulitan belajar atau sosialisasi dan salah dalam memberi pengelolaan pada anggota yang bermasalah. Berbagai permasalahan tersebut dapat terselesaikan melalui konseling keluarga. Konseling keluarga ini menjadi lebih efektif untuk mengatasi masalah jika semua anggota mau merubah sistem yang ada dengan cara yang baru untuk membantu mengatasi anggota keluarga yang bermasalah.
Pendekatan Konseling Keluarga
Dalam pelaksanaan konseling keluarga dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu:
1.Pendekatan sistem keluarga.
Menurut Murray Bowen anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (Disfunctioning Family). Karenanya dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama atau melawan yang mengarah pada individualitas.
2.Pendekatan Conjoint
Menurut Satir (1967) (dikutip dari Latipun, 2001) anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain, karena keluarga adalah fungsi bagi keperluan komunikasi dan kesehatan mental sehingga masalah yang dihadapi adalah harga diri (Self Esteem) dan komunikasi, dimana masalah terjadi jika self esteem yang dibentuk oleh keluarga itu sangat rendah dan komunikasi dalam keluarga itu juga tidak baik.
3.Pendekatan struktural
Minuchin (1974) (dikutip dari Latipun, 2001) beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun tidak tepat, dimana batas – batas antara subsistem dari sistem keluarga itu tidak jalas, sehingga untuk mengatasi keluarga yang bermasalah perlu dirumuskan kembali struktur keluarga itu dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai.
Dari berbagai pandangan para ahli tentang pendekatan konseling keluarga maka akan memudahkan penetapan strategi yang tepat untuk membantu keluarga.
Tujuan Konseling Keluarga
Tujuan konseling keluarga oleh para ahli dirumuskan secara berbeda sesuai dengan pendekatan yang dikemukakan di atas. Pada umumnya tujuan konseling keluarga adalah:
1.Memfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antar anggota.
2.Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi.
3.Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditujukan kepada anggota keluarganya yang lain.
Bentuk Konseling Keluarga
Dalam pelaksanaannya konseling berbentuk:
1.Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks system
Pada pelaksanaan bentuk konseling ini klien merupakan bagian dari system keluarga, sehingga masalah yang dialami dan pemecahannya tidak bisa mengesampingkan peran keluarga.
2.Berfokus pada saat ini
Pelaksanaan bentuk konseling ini adalah mengatasi masalah yang dihadapi klien saat ini, bukan masa lampau.
Untuk bentuk konvensionalnya, konseling disesuaikan dengan keperluannya dimana seluruh anggota keluarga harus ikut serta dalam konseling karena mereka tidak hanya berbicara tentang keluarganya tetapi juga terlibat dalam penyusunan rencana perubahan dan tindakannya.
Proses dan Tahap Konseling Keluarga
Dalam mengatasi masalah pada keluarga terjadi beberapa tahap:
1.Sesi pengenalan
Pada sesi ini terjadi perkenalan antara petugas dengan keluarga , dan juga adanya identifikasi masalah.
2.Sesi Pengajaran
Pada sesi ini keluarga mendapatkan pendidikan dalam bentuk perilaku.
3.Sesi Model
Pada sesi ini keluarga melihat cara mengimplementasikan perilaku yang telah dipelajari pada sesi pengajaran.
4.Sesi Terapis/trial
Dimana sesi ini keluarga mencoba mengimplementasikan perilaku yang telah didapat.
5.Sesi penerapan dan evaluasi
Pada sesi ini keluarga menerapkan apa yang telah didapat dan perawat mengevaluasi dengan cara melakukan kunjungan rumah.
Faktor yang berpengaruh pada keberhasilan konseling yang berhubungan dengan karakteristik subyek.
Usia klien
Usia dapat mempengaruhi hasil konseling. Klien berusia dewasa dimungkinkan lebih sulit dilakukan modifikasi persepsi dan tingkah lakunya dibandingkan dengan klien yang berusia belasan tahun, karena berhubungan dengan fleksibelitas kepribadiannya.
Jenis kelamin
Jenis kelamin, terutama berkaitan dengan perilaku model, bahwa individu melakukan modeling sesuai dengan jenis seksnya. Dalam proses konseling, factor modeling ini sangat penting dalam upaya pembentukan tingkah laku baru.
Tingkat pendidikan
Pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandangnya terhadap diri dan lingkungannya, sehingga akan berbeda cara menyikapi proses berlangsungnya konseling pada klien yang berpendidikan tinggi dengan berpendidikan rendah.
Intelegensi
Intelegensi pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri dan cara – cara pengambilan keputusan. Klien yang berintelegensi tinggi akan banyak berpartisipasi dalam proses konseling, lebih cepat dan tepat dalam membuat keputusan.
Status sosial ekonomi
Status social ekonomi berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Individu yang berasal dari keluarga status social ekonomi yang baik akan mempunyai sikap dan pandangan yang positif tentang masa depannya dibandingkan mereka yang berstatus social ekonomi rendah.
Sosial budaya
Yang termasuk dalam social budaya adalah pandangan keagaman, kelompok etnis dimana hal ini sangat berpengaruh pada proses berlangsungnya konseling.
Peran Keluarga
Pengertian
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan didalam perannya masing – masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Salvian G Bailon dan A. Maglaya, 1989).
Fungsi Keluarga
Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga, yaitu:
1.Fungsi pendidikan
Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan bila kelak dewasa nanti.
2.Fungsi sosialisasi anak
Tugas keluarga adalah mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3.Fungsi perlindungan
Dalam hal ini keluarga bertugas melindungi anak dari tindakan – tindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan aman
4.Fungsi perasaan
Tugas keluarga adalah menjaga secara intuitif, merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5.Fungsi religius
Dalam fungsi ini keluarga bertugas memperkenalkan dan mngajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama dan kepala keluarga bertugas menanamkan keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan ini serta ada kehidupan lain sebelum ini.
6.Fungsi ekonomis
Dalam fungsi ini kepala keluarga bertugas mencari sumber penghidupan dalam memenuhi fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja memperoleh penghasilan, mengatur penghasilan sehingga dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
7.Fungsi rekreatif
Pada fungsi ini tidak berarti harus pergi ke tempat rekreasi, tetapi bagaimana untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga dapat mencapai keseimbangan kepribadian masing – masing anggotanya.
8.Fungsi biologis
Yang utama dalam tugas ini adalah untuk meneruskan keturunan sebagai generasi penerus dalam keluarga.
Dari berbagai fungsi di atas ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarga, yaitu:
Asih, yang berarti memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga, sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.
Asuh, yaitu menuju pada kebutuhan dan perawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara, sehingga mereka menjadi anak – anak yang sehat baik fisik, mental, social dan spiritual.
Asah, yang berarti memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.
Peran Keluarga
Keluarga merupakan system pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan baik sehat maupun sakit pada anggota keluarga yang lain.
Umumnya keluarga meminta bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak lagi sanggup merawat. Oleh karena itu asuhan keperawatan yang berfokus pada keluarga bukan hanya memulihkan keadaan anggota keluarga yang sakit, tetapi juga mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan dalam keluarga tersebut.
Dari bermacam pandangan teori yang ada disebutkan bahwa keluarga adalah sebagai faktor kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus. Faktor kontribusi tersebut adalah
Menurut L. Green yang dikutip oleh Herawati …(et. al) (2001) mengemukakan teori yang menggambarkan hubungan pendidikan kesehatan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan menjadi 3 faktor yaitu faktor predisposisi yang merupakan faktor internal yang ada pada diri individu, keluarga dan kelompok/masyarakat yang mempermudah individu untuk berperilaku. Faktor yang kedua adalah faktor pemungkin yaitu yang memunkinkan individu untuk berperilaku karena tersedianya sumber daya, keterjangkauan, rujukan dan keterampilan. Sedangkan faktor yang ketiga adalah faktor penguat yaitu yang menguatkan perilaku seperti sikap dan keterampilan petugas, teman sebaya, orang tua dan anggota keluarga yang lain.
Dari bermacam pandangan teori yang ada disebutkan bahwa keluarga adalah sebagai faktor kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus. Faktor kontribusi tersebut adalah :
Tingkat pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. (Notoatmodjo, 1997 ). Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni; indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan suatu keluarga, karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974)(dikutip dari Friedman) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, begitu juga dalam keluarga, yaitu :
1.Awareness (kesadaran) dimana orang atau keluarga tersebut menyadari dalam arti lebih mengetahui lebih dulu terhadap stimulus atau obyek.
2.Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut, disini sikap subyek sudah mulai timbul.
3.Evaluasion (menimbang – nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi diri atau keluarganya. Dalam hal ini sikap responden sudah lebih baik lagi.
4.Trial, dimana subyek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
5.Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap seperti tersebut di atas.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan , kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng dan sebaliknya jika tidak didasari oleh pengetahuan , kesadaran dan sikap yang positif perilaku tersebut akan bersifat tidak langgeng.
Menurut Bloom, pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni:
1.Tahu
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang dipelajari sebelumnya, termasuk didalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2.Memahami
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyak yang diketahuai, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang atau keluarga yang telah paham terhadap materi harus dapat menjelaskan, menyimpulkan terhadap obyek yang dipelajari.
3.Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi-materi yang dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
4.Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masalah didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masalah tersebut ada kaitannya satu sama lain.
5.Sintesis
Sintesis menunjukkan kepada suatu bentuk kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau menyusun formulasi baru yang ada.
6.Evaluasi
Ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
Mengacu pada konsep pengetahuan di atas, bila kita kaitkan dengan berbagai alasan ketidakmampuan dalam melaksanakan tugas-tugas keluarga, maka perawat bertugas membantu keluarga dalam melakukan 5 tugas keluarga dalam memahami kebutuhan kesehatan anggotanya. Baylon dan Maglaya (1978) menyatakan bahwa 5 tugas keluarga tersebut adalah :
a.Mengenal masalah kesehatan keluarga.
b.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat.
c.Merawat anggota keluarga yang sakit.
d.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga .
e.Menggunakan sumber di masyarakat guna memelihara kesehatan.
Keluarga yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah adalah dapat mencegah (pencegahan primer), menanggulangi (pencegahan sekunder) dan memulihkan (pencegahan tersier) untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka keluarga perlu mendapat konseling agar peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetus Mellitus bisa optimal.
Tingkat kemampuan keluarga
Yang dimaksud kemampuan keluarga adalah menyangkut tingkat ketrampilan keluarga dalam merawat anggota keluarganya yang mengalami gangguan kesehatan. Ketrampilan dapat berkembang bukan hanya dengan cara membaca ataupun mendengar tetapi juga dengan mengerjakan secara berulang-ulang setelah diberikan pembelajaran. Sedangkan bentuk ketrampilan tersebut dapat berupa ketrampilan bergerak atau bertindak dan ketrampilan verbal atau nonverbal.
Wahyo Samijo, (1987) mengungkapkan bahwa ketrampilan merupakan salah satu factor yang mendorong keluarga untuk berperilaku. Pendapat lain mengungkapkan ketrampilan merupakan penguatan bagi perilaku yang dikehendaki dan sebaiknya dilakukan secara konsisten (BF. Sekiner, 1997) (dikutip dari Notoatmodjo,93).
Sehubungan dengan peran dan tugas dalam kesehatan, keluarga diharapkan memiliki kemampuan yang dapat mengatasi problem-problem kesehatan dalam anggota keluarganya. Nasrul Efendy, (1998) menyatakan bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh keluarga dalam melakukan tugas kesehatan keluarga tersebut meliputi:
1.Mengenal masalah kesehatan keluarga
2.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat
3.Merawat anggota keluarga yang sakit
4.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga yang sakit
5.Menggunakan sumber dimasyarakat guna memelihara kesehatan.
Pengelolaan Anggota Keluarga Dengan Diabetes Mellitus
Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus merupakan sekumpulan gejala pada seseorang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif, dengan tanda dan gejala awal yang sering dikeluhkan pasien atau penderita DM adalah rasa haus, banyak kencing, rasa lapar, badan terasa lemas, dan berat badan yang turun (Dalimartha Setiawan, 2002 ).
Tujuan Pengelolaan
Untuk dapat berhasil mengelola pasien dengan baik diperlukan perencanaan yang matang berupa tujuan jangka pendek, tujuan jangka panjang, tindakan dan kegiatan yang dilakukan, pemeriksaan berkala, serta penyuluhan. Berikut ini perencanaan yang dimaksud:
1.Tujuan jangka pendek
Yaitu menghilangkan keluhan dan gejala penyakit Diabetes Mellitus.
2.Tujuan jangka panjang
Yaitu mencegah komplikasi kronis yang dapat menyerang pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, syaraf, kulit dan kaki.
3.Tindakan yang dilakukan
Adalah menormalkan kadar glukosa, lemak, insulin dalam darah dan memberikan pengobatan bila terdapat penyakit kronis lainnya.
4.Kegiatan yang dilakukan
Kunjungan pertama dilakukan pemeriksaan fisik lengkap untuk mengetahui status gizi, komplikasi yang mungkin sudah timbul, dan adanya penyakit kronis lainnya. Pemeriksaan fisik lengkap meliputi:
Pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah
Menanyakan dan mencari tanda gangguan syaraf seperti rasa
kesemutan
Memeriksa keadaan kaki dan denyut nadi
Pemeriksaan EKG
Rotgen dada
Pemeriksaan fundus mata.
Pemeriksaan laboratorium standart, yang meliput:
a.Darah; darah rutin, gula darah puasa dan dua jam setelah makan, albumin, kolesterol total, HDL & LDL kolesterol, HbA1c, kreatinin, SGPT (ALT) serta trigliserida.
b.Urine; sedimen, albumin, bakteri
c.Laboratorium tambahan yang sesuai dengan kebutuhan.
Pemeriksaan HbA1c, gula darah puasa dan dua jam setelah puasa setiap tiga bulan.
Pemeriksaan fisik lengkap diulang tiap satu tahun
Penyuluhan.
Kriteria pengendalian
Kriteria pengendalian penyakit Diabetes Mellitus meliputi
No
Bagian yang diperiksa
Baik
Sedang
Buruk
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Kadar glukosa darah (plasma vena mg/dl)
a.puasa
b.2 jam pp*
HbA1c (%)
Kolesterol total (mg/dl)
Kolesterol LDL (mg/dl)
a.Tanpa PJK **
b.Dengan PJK
Kolesterol HDL (mg/dl) Trigliserida (mg/dl)
a.Tanpa PJK
b.Dengan PJK
Indeks massa tubuh***
Wanita
Pria
Tekanan darah (mmHg)
80-109
110-159
4-5,9
< 200
< 130
< 100
45
< 200
< 150
18,5-22,9
20-24,9
< 140/90
110-139
160-199
6-8
200-239
130-159
100-129
35-45
200-245
150-199
23-25
25-27
140-160/90-95
140
200
8
240
160
130
< 35
250
200
25/ <18,5
27/ <20
> 160/95
Sumber : Dalimartha Setiawan, (2002 hal 22)
Keterangan :
*) PP = Post Prandial, sesudah makan
**) PJK = Penyakit jantung koroner
***) Indeks masa tubuh (IMT) = Body mass indeks (BMI)
Pasien dengan usia >60 tahun, nilai normal glukosanya adalah: puasa <150 mg/dl, sesudah makan <200 mg/dl. Hal ini disebabkan karena sifat khusus dari usia lanjut dan mencegah kemungkinan timbulnya hipoglikemia.
Cara menentukan status gizi (Dalimartha Setiawa, dr hal 23 - 24)
Indeks Masa Tubuh (IMT)
Keterangan :
BB : Berat Badan
TB : Tinggi Badan
BB Idaman (100%) : IMT Normal
Wanita = 18,5 – 22,9 kg/m2
Pria = 20 – 24,9 kg/m2
BB Normal : 90 – 110% BB Idaman
BB Kurang : <90% BB Idaman
BB over (Gemuk) : 110 – 120% BB Idaman
Obesitas (tambun) : > 120% BB Idaman
Berat Badan Relatif (BBR)
Keterangan:
Normal (ideal) : BBR 90 – 110%
Kurus (underweight) : BBR <90%
Gemuk (over weight) : BBR >110%
Obesitas (tambun) : BBR >120%
Obesitas ringan : BBR 120 – 130 %
Obesitas sedang : BBR 130 – 140%
Obesitas berat : BBR 140 - 200%
Obesitas morbid : BBR >200%
Berat Badan Ideal (BBI)
Rumus Broca :
Bbi (kg) = (TB(cm) – 100) – 10% (BB)
Dengan catatan orang yang berusia > 40 tahun dan tinggi badan <150 cm tidak dikurangi dengan 10 % berat badan (Dalimartha Setiawan, 2002 hal 24 )
Perencanaan makan
Dalam buku yang berjudul ramuan tradisional untuk pengobatan Diabetes Mellitus, Dalimartha Setiawan menyebutkan bahwa perencanaan makan sebenarnya merupakan penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori penderita sesuai dengan usia, berat badan (status gizi), aktivitas sehari – hari, jenis kelamin, beratnya penyakit yang diderita serta penyakit lainnya. Sehingga total kalori dan komposisi makanan ditentukan dalam range (kisaran persentasi, bukan suatu angka mutlak).
Dalam penyusunan menu sebaiknya diusahakan mendekati kebiasaan makan sehari – hari, sederhana, bervariasi, dan mudah dilaksanakan, seimbang serta sesuai kebutuhan dengan tidak mengesampingkan cara hidup, selera, adat serta kebiasaan penderita. Kalau tidak pasti akan ditinggalkan (Dalimartha Setiawan, 2002).
Jadwal makan penderita DM adalah porsi kecil tapi sering. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah peningkatan kadar glukosa darah yang sekaligus tinggi dan juga hipoglikemia bagi pemakai insulin.
Komposisi menu pada makanan sehari – hari dianjurkan seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah – buahan. Komposisi standart makanan yang dianjurkan pada penderita DM sehari – hari adalah:
Karbohidrat : 60 – 70 %
Protein : 10 – 15 %
Lemak : 20 – 25 %
Jumlah kandungan kolesterol < 300 mg/hari, dengan mengutamakan serat yang larut dalam air
Garam secukupnya untuk menghindari darah tinggi.
Pemanis secukupnya.
Untuk jumlah kalori yang dibutuhkan penderita DM setiap hari yang bekerja biasa adalah:
Kurus : BB x 40 – 60 kalori / hari
Normal : BB x 30 kalori / hari
Gemuk : BB x 20 kalori / hari
Obesitas : BB x 10 – 15 kalori / hari
Adapun jumlah kalori yang terkandung dalam zat makan pada setiap gramnya adalah:
No.
Zat Makanan
Jumlah kalori
1.
2.
3.
4.
1 gram karbohidrat
1 gram protein
1 gram lemak
1 gram alkohol
4 kalori
4 kalori
9 kalori
7 kalori
Sumber : Dalimartha Setiawan, (2002 hal 26).
Apabila terjadi keseimbangan antara makanan yang masuk dengan kebutuhan, dan kemampuan tubuh untuk mengolahnya maka diharapkan glukosa darah terkontrol dalam batas – batas normal. Selain itu juga tersedia cukup tenaga untuk kegiatan sehari – hari penderita dan berat badan juga ideal.
Latihan Jasmani
Menurut Dalimartha Setiawan (2002), yang dimaksud dengan latihan jasmani bagi penderita DM adalah Aerobik yaitu olahraga yang berjalan terus menerus dan berlangsung dalam waktu cukup lama serta dilakukan secara sadar. Dengan melakukan latihan jasmani secara teratur dan berkesinambungan diharapkan kadar glukosa darah akan turun.
Untuk penderita yang tergantung insulin ringan atau sedang latihan jasmani bisa dilakukan dengan aman, tapi bagi penderita yang mempunyai resiko atau disertai komplikasi maka latihan jasmani sebaiknya dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu.
Manfaat dari latihan jasmani adalah untuk kesegaran tubuh, membuang kelebihan kalori, mengontrol glukosa darah, mengurangi kebutuhan obat atau insulin, dan untuk penderita yang beresiko latihan jasmani berguna untuk menurunkan tekanan darah tinggi, mengurangi resistensi insulin, dan memperbaiki profil lemak darah yang terganggu.
Latihan jasmani dilakukan selama 50 – 60 menit, dan selama latihan denyut nadi harus mencapai zona latihan yaitu denyut nadi yang harus dicapai selama latihan untuk memperoleh suatu manfaat. Untuk mengetahui denyut nadi yang diperbolehkan selama latihan, dapat dihitung dengan rumus :
Denyut nadi maximal = 220 – umur
Zona latihan = 70 – 85 % dari denyut nadi maximal
Latihan jasmani sebaiknya dilakukan sesuai dengan program CRIPE yaitu :
Continuous : Latihan jasmani dilakukan secara terus menerus selama 50 – 60 menit tanpa berhenti.
Rhytmical : Latihan dilakukan secara berirama dan teratur.
Interval : Latihan dilakukan berselang – seling, kadang cepat, kadang lambat tetapi tanpa berhenti.
Progresive : Latihan dilakukan secara bertahap dengan beban latihan ditingkatkan perlahan – lahan.
Endurance : Latihan ketahanan untuk meningkatkan kesegaran jantung dan pembuluh darah
Pemeliharaan Kaki
Pemeliharaan kaki adalah usaha yang dilakukan dengan selalu memperhatikan dan menjaga kebersihan, serta melakukan latihan secara baik sebelum terjadi gangguan atau komplikasi (Dalimartha Setiawan, 2002 : 31 ).
Dalam pemeliharaan kaki ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu :
Perawatan Kaki
Yaitu segala usaha yang dilakukan untuk menjaga kebersihan kaki. Langkah – langkahnya meliputi:
Periksalah kaki tiap hari untuk menemukan lecet atau luka secara dini.
Cuci kaki setiap hari dengan air hangat dan sabun, lalu keringkan terutama sela jari.
Oleskan cream atau lotion pelembut untuk kaki yang pecah – pecah tapi hindari sela jari.
Gunakan alas kaki baik didalam maupun luar rumah.
Gunakan kaos kaki tiap hari.
Gunakan sepatu yang sesuai, jangan terlalu sempit. Dan periksa sepatu setiap hari untuk menghindari hal yang menyebabkan luka pada kaki.
Gunting kuku secara melintang. Bila terjadi infeksi segera ke dokter.
Jangan mengompres atau merendam kaki dengan air panas, karena respon panas pada kaki menurun sehingga tidak terasa jika sampai melepuh.
Latihan Kaki
Menurut Dalimartha Setiawan (2002) yang dimaksud latihan kaki yaitu gerakkan yang dilakukan untuk melatih jari dan otot kedua kaki serta mengaktifkan aliran darah, dimana dilakukan secara teratur. Latihan kaki yang dapat dilakukan antara lain :
Berjalan cepat setiap hari selama ½ - 1 jam dengan jarak tempuh yang makin hari makin jauh.
Naik tangga dengan menggunakan telapak kaki bagian depan atau jalan ditempat dengan hanya menggunakan jari – jari kaki.
Duduk tegak dibelakang kursi, kedua tangan memegang sandaran kursi, angkat kedua tumit secara serentak keatas dan kebawah secara berulang – ulang.
Duduk tegak disamping kursi, satu tangan memegang sandaran kursi lipat kedua lutut secara serentak sampai paha dengan posisi horizontal dan kedua tumit terangkat, kemudian berdiri tegak lakukan berulang – ulang.
Duduk tegak pada kursi, kedua tangan dilipat dan didekapkan kedada, lakukan gerakan duduk dan bangun berulang – ulang.Berdiri tegak pada satu kaki pada alas setebal 10 cm, satu tangan berpegangan pada dinding atau sandaran kursi, ayunkan kaki kedepan dan kebelakang lakukan berulang – ulang dan bergantian.
Duduk pada lantai sambil bersandar kedinding, kedua kaki lurus kedepan, naikkan sebelah kaki keposisi lurus, lalu putar pada pergelangan kaki searah jarum jam, lakukan berulang – ulang dan bergantian.
Latihan kaki setiap kali dilakukan sampai 10 kali hitungan dan dapat diulang bila perlu dan penderita tidak merasa lelah.
Obat Hipoglikemik
Menurut Dalimarta Setiawan, (2002) obat hypoglikemia adalah obat untuk penderita DM yang berguna untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai petunjuk dokter.
Ada dua macam obat hipoglikemik, yaitu berupa suntikan dan tablet dapat diminum dan biasa disebut OHO atau OAD.
Obat tablet
Yang dimaksud obat tablet adalah obat yang cara penggunaannya dengan diminum.
Berdasar waktu paruh masing – masing OHO, obat dibagi atas tiga jenis :
Short – acting : waktu paruh 4 jam, diberikan 1 – 3 x/hari
Intermediate : waktu paruh 5 – 8 jam, diberikan 1 – 2 x/hari.
Long – acting : waktu paruh 24 36 jam, diberikan tiap pagi.
Cara minum obat dengan dosis terbagi adalah:
Pemakaian 1 x/hari : pagi hari
Pemakaian 2 x/hari : pagi dan siang hari
Pemakaian 3 x/hari : pagi, siang dan sore hari
Apabila obat jenis intermediate perlu diberikan 2x/hari, sedangkan penderita butuh 3 tablet maka obat diberikan pagi hari dua tablet dan siang satu tablet.
Golongan obat ini tidak diminum pada malam hari karena akan menyebabkan hypoglikemia serta menyebabkan dikeluarkannya beberapa hormon misal katekolamin, kortisol dan growth hormon, dimana dalam jangka lama akan mempercepat kerusakan pembuluh darah.
Untuk menambah khasiat menurunkan kadar glukosa darah, maka obat diminum ½ jam sebelum makan.
Obat Suntik / Insulin
Yaitu obat anti hypoglikemia yang pemberiannya melalui suntikan,baik secara intra muscular, subcutan maupun intra vena. Obat jenis ini biasanya diberikan pada penderita DM tipe I, DM dengan gangren, ketoasidosis, koma, DM dengan kehamilan, berat badan penderita menurun cepat,tidak berhasil dengan tablet hypoglikemik,dan DM yang disertai gangguan hati dan ginjal.
Tempat atau lokasi penyuntikan insulin adalah lengan atas, dinding perut, paha dan pantat.
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
Pada bab ini akan dibahas mengenai kerangka konseptual dan hipotesis.
Kerangka Konseptual
Gambar 3.1 Kerangka konseptual interaksi pengaruh konseling keluarga dalam perbaikan peran keluarga terhadap pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Dari gambar 3.1 dapat dijelaskan pengaruh konseling terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Pengetahuan keluarga dengan DM adalah serangkaian usaha yang dilakukan keluarga untuk menghilangkan keluhan, mencegah komplikasi dengan tindakan yang dilakukan untuk menormalkan kadar glukosa, lemak dan insulin di dalam darah, serta memberikan pengobatan bila terdapat penyakit kronis lain pada pasien DM. Di mana pengelolaan DM ini meliputi ; perencanaan makan,latihan jasmani, pemeliharaan kaki dan pengelolaan obat hypoglikemia. Perencanaan makan adalah penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori pasien sesuai dengan usia, berat badan, aktivitas sehari-hari, jenis kelamin, berat ringannya penyakit yang diderita. Latihan jasmani yaitu aerobik/olahraga yang berjalan terus menerus dan berlangsung dalam waktu cukup lama serta dilakukan secara sadar, dimana pelaksanaannya secara continous, rhytmical, interval, progresif dan endurance. Sedangkan pemeliharaan kaki adalah usaha yang dilakukan dengan selalu memperhatikan dan menjaga serta melakukan secara baik sebelum terjadi gangguan/komplikasi yang dibagi menjadi 2 yaitu perawatan kaki dan latihan kaki. Obat hypoglikemia adalah obat untuk pasien DM yang berguna untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai petunjuk dokter, obat ini dibedakan menjadi dua yaitu obat tablet dan obat suntik.
Konseling keluarga adalah merupakan penerapan konseling pada situasi khusus yang berfokus pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga. Keluarga sebagai faktor kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Faktor kontribusi tersebut adalah pengetahuan. Pengetahuan adalah hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu (Notoatmodjo, 1997). Salah satu penginderaan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan konseling keluarga. Pada pelaksanaannya konseling ini akan merubah perilaku orang/keluarga. Dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM konseling ini akan meningkatkan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Hipotesis
Ha dalam penelitian ini yakni :
Ada pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
BAB 4
METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan dibahas tentang metode yang akan digunakan dalam penelitian ini yang meliputi: 1) Desain penelitian, 2) Kerangka kerja 3) Populasi, sample dan sampling, 4) Identivikasi variabel dan definisi operasional, 5) Pengumpulan dan pengolahan data, 6) Masalah etika, dan 7) Keterbatasan.
Desain Penelitian
Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin timbul selama proses penelitian (Burns & Goreve, 1991 :171)
Dalam penelitian ini menggunakan ”pre post test non control group design” dimana suatu kelompok sebelum dilakukan perlakuan tertentu ( x ) diberi pretest, kemudian diberikan perlakuan dan sesudah perlakuan tersebut dilakukan post test atau suatu pengukuran untuk mengetahui akibat dari perlakuan.
Subyek
Pre-test
Perlakuan
Post-test
K
O
X
O1
Keterangan :
K : Subyek
O : Pretest (sebelum konseling)
X : Perlakuan (konseling)
O1 : Post test (sesudah Konseling)
Gambar 4.1 Desain penelitan ”pre post test non control group design” pada penelitian yang berjudul ”Pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Kerangka Kerja
Gambar 4.2 Kerangka kerja penelitian dengan judul ”Pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian atau yang akan diteliti (Notoatmodjo, 1993 :35)
Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus yang ada diwilayah kerja Puskesmas Torjun sampang.
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti dengan ”sampling” tertentu untuk bisa memenuhi/mewakili populasi (Nursalam & S. Pariani, 2001: 64).
Kriteria Inklusi dalam penelitian ini:
Keluarga bersedia untuk diteliti
Keluarga yang mendapatkan konseling suami, istri, anak ,cucu dan lain-lain.
Keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus
Kriteria Ekslusi dalam penelitian ini:
Keluarga tidak bersedia untuk diteliti
Keluarga yang tidak mendapatkan konseling
Keluarga yang tidak/kurang memperhatikan keluarga yang menderita daibetes mellitus
Besar sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel (Chandra, 1995: 41)
Sehubungan dengan keterbatasan biaya dan waktu yang dimiliki peneliti, sehingga tidak memungkinkan mengambil semua populasi. Oleh karena itu kami mengambil sampel yang kami anggap representatif, 30 keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus dengan perhitungan:
Sampling
Sampling adalah suatu proses dalam penyeleksi porsi dan populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam & S, Pariani, 2001: 66)
Penelitian ini menggunakan ”purposive sampling”. Pada sampling ini dipilih keluarga yang memenuhi criteria dan dapat mewakili karakteristik populasi yaitu keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus. (Nursalam & Siti Pariani, 2001)
Idetintifikasi Variabel
Variabel Independen
Variabel Independen adalah factor yang diduga mempengaruhi variabel dependen (Nursalan & S, Pariani, 2001)
Variabel independen adalah konseling keluarga yang meliputi :
1.Pengertian
Konseling keluarga adalah penerapan konseling pada situasu khusus yang berfokus pada masalah – masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga.
2.Pendekatan konseling keluarga
Dalam pelaksanaannya konseling keluarga dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu;
Pendekatan system keluarga, Keluarga bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi.
Pendekatan Conjoint, keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain.
Pendekatan Struktural, masalah keluarga sering terjadi karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun tidak tepat, dimana batas - batas antara subsistem dari system keluarga itu tidak jelas.
3.Tujuan konseling keluarga
Secara umum tujuan konseling keluarga adalah:
Memfasilitasi komunikasi fikiran dan perasaan antar anggota keluarga.
Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi.
Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditujukan kepada anggota keluarganya yang lain.
4.Bentuk konseling keluarga
Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks system yaitu klien merupakan bagian dalam system.
Berfokus pada saat ini yaitu bahwa pelaksanaan konseling adalah mengatasi masalah yang dihadapi pada saat ini, bukan masa lampau.
5.Proses dan tahap konseling keluarga
Dalam pelaksanaan konseling pada keluarga terjadi beberapa tahap yaitu:
a.Sesi pengenalan
b.Sesi pengajaran
c.Sesi model
d.Sesi terapis/trial
e.Sesi penerapan dan evaluasi
Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel respon atau out put (Nursalam & S. Pariani, 2001: 42).
Variabel dependen adalah pengelolaan pasien dengan Diabetes Mellitus yang meliputi :
1.Perencanaan makan
Penyusunan menu, yang disesuaikan dengan kebutuhan penderita.
Jadwal makan,yang terdiri dari 3x makanan utama dan 3x makanan antara (snack)
Porsi makan,dengan menggunakan porsi kecil tapi sering.
Komposisi menu
Komposisi standar penderita Diabetes Mellitus
Karbohidrat : 60-70%
Protein : 10-15%
Lemak : 20-75%
Jumlah kandungan kolestrol <300mg/hari
Jumlah kandungan serat 25-30mg/hari
Garam secukupnya
Pemanis secukupnya
2.Latihan Jasmani
Jenis latihan jasmani yang dilakukan haruslah bersifat kontinyu, rhythmical, interval, progresive dan endurance.
Waktu pelaksanaan terus menerus secara berkesinambungan
3.Pemeliharaan kaki
Perawatan kaki meliputi;
Pembersihan kaki
Pemberian lotion
Pemakaian alas kaki
Pemilihan sepatu
Pemotongan kuku
Latihan kaki,yang dapat dilakukan adalah :
Jalan cepat
Bediri dengan tegak kaki bagian depan
4.Obat hipoglikemia
Jenis obat hipoglikemia:
Oral
Waktu paruh obat oral:
Short-acting : 4 jam, diberikan 1-3 X/hari
Intermediate : 5-8 jam, diberikan 1-2 X/hari
Long-acting : 24-36jam, diberikan tiap hari
Cara minum obat hipoglikemia
Pemakaian 1 X hari: pagi hari
Pemakaian 2 X hari: pagi &siang hari
Pemakaian 3 X hari: pagi, siang, dan malam hari
Suntikan
Indikasi:
Penderita DM tipe I
Penderita DM dengan ganggren
Ketoasidosis
Koma diabetikum
DM dengan kehamilan
DM dengan penurunan berat badan cepat
Tidak berhasil dengan tablet hipoglikemik
DM yang disertai gangguan hati dan ginjal
Cara penyuntikan:
Intra Muscular
Subcutan
Intra Vena
Tempat penyuntikan:
Lengan bagian atas
Dinding perut
Paha dan pantat
Definisi Operasional
Variabel
Defenisi operasional
Parameter
Alat
ukur
Skala
Skor
Variabel dependent pengelolaan pasien dengan Diabetes Mellitus
1.Perencanaan makan
2.Latihan jasmani
3.Pemeliharaan kaki
4.Obat hipoglikemia
Variabel Independent
Konseling keluarga
Perencanaan
makan adalah penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori penderita sesuai dengan usia, berat badan (status gizi), aktivitas sehari – hari, jenis kelamin serta beratnya penyakit yang diderita
Latihan jasmani adalah suatu aktivitas tubuh yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan pada penderita dengan harapan terjadi penurunan glukosa darah
Pemeliharaan kaki adalah usaha yang ditujukan untuk kesehatan serta kekuatan pada kaki penderita DM.
Obat hipoglikemi adalah obat yang digunakan menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai dengan petunjuk dokter.
Konseling keluarga adalah penerapan konseling pada situasi khusus yang berfokus pada masalah-masalah keluarga yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraanya melibatkan keluarga
Perencanaan makan pada pasien Diabetes Mellitus meliputi :
Penyusunan menu seimbang
Jadwal makan
Porsi makan
Komposisi menu
Karbohidrat :60-70% Protein :10-15%
Lemak : 20 –75%
Jumlah kandungan kolesterol < 300mg/hr
Garam dan pemanis secukupnya
Latihan jasmani pada pasien DM adalah latihan yang bisa memperbaiki kesegaran jasmani yang bersifat :
Continue (terus menerus)
Rhytmical (berirama dan teratur)
Interval latihan (berselang-seling)
Progressive (bertahap)
Endurance
( kesegaran)
Pemeliharaan kaki meliputi:
Perawatan kaki pembersihan kaki pemberian lotion pemakaian alas kaki pemeliharaan sepatu pemotongan kuku secara teratur.
Latihan kaki,jalan cepat setiap hari ½ - 1 jam, berjalan ditempat dengan menggunakan jari – jari kaki.
Obat hipoglikemi pada penderita DM ada dua yaitu oral dan suntikan.
Pada obat oral, obat hipoglikemia mempunyai: waktu paruh short acting, Intermediate, longacting
Cara minum obat sesuai dosis. Obat oral hipoglikemia tidak boleh diminum pada malam hari untuk menghindari hipoglikemia pada waktu tidur.
Diminum ½ jam sebelum makan.
Pada obat jenis suntik biasanya diberikan pada: penderita DM tipe I
DM dengan ganggren ketoasidosis dan koma DM dengan kehamilan BB penderita menurun cepat, tidak berhasil dengan tablet hipoglikemik dan disertai gangguan hati dan ginjal.
Cara penyuntikan: IM IV SC
Tempat penyuntikan: lengan atas dinding perut paha dan pantat
Konseling keluarga meliputi :
a.Pendekatan konseling keluarga
Pendekatan system keluarga
Pendekatan conjoint
Pendekatan struktural
b.Tujuan konseling keluarga
Memfasilitasi komunikasi fikiran dan perasaan antar anggota keluarga
Mengganti gangguan ketidakfleksibelan peran dan kondisi keluarga
Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu terhadap anggota keluarga yang lain
c.Bentuk konseling keluarga
Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks sistem
Berfokus pada saat ini
d.Proses dan tahapan konseling keluarga
Sesi pengenalan
Sesi Pengajaran
Sesi model
Sesi Terapis / trial
Sesi penerapan
K
U
I
S
I
O
N
E
R
K
U
E
S
I.
O
N
E
R
K
U
E
S
I
O
N
E
R
K
U
E
S
I
O
N
E
R
-
O
R
D
I
N
A
L
O
R
D
I
N
A
L
O
R
D
I
N
A
L
O
R
D
I
N
A
L
-
Jawaban “ya” dari 5 item yang ada :
76 – 100 %:Baik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
Jawaban “ya” dari 6 item yang ada :
76 – 100 %:Baik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
Jawaban “ya” pada 6 item yang ada :
76 – 100 %:aik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
Jawaban “ya” dari 7 item yang ada :
76 – 100 %:Baik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
-
Pengumpulan dan pengolahan data
Instrumen
Pengumpulan data dalam pen elitian ini melalui observasi dan kuestioner pada keluarga yang akan diteliti, instrumen yang digunakan adalah instrumen kuestioner denga jenis pertanyaan Matrix Question. Semua pertanyaan berjumlah 25 dengan jawaban ya dan tidak .
Lokasi
Lokasi penelitian adalah wilayah kerja Puskesmas Torjun yang terdiri dari 2 Desa yaitu Desa Dulang yang terbagi Dusun Sreseh dan Dusun Roytoroy.
Prosedur
Responden (keluarga) yang diintervensi untuk diberikan konseling keluarga, sebelumnya dilakukan kunjungan rumah untuk observasi langsung dengan perkenalan, penyampaian maksud dan tujuan. Kemudian diberikan pre test. Setelah itu baru diberikan konseling peran keluarga terhadap pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Setelah 3 – 4 minggu responden (keluarga) diobservasi dan diberikan post test.
Cara analisis data
Kuasioner yang telah diisi oleh respoden diberi kode sesuai criteria yang ditentukan, didistribusikan dan dianalisa secara kwantitatif. Selanjutnya data diuji dengan analisa uji statistik “korelasi kendal Tau“ () Untuk mencari koefisien korelasi parsial. Rumus dasar yang digunakan adalah sebagai berikut :
Di mana:
= Koefisien korelasi biserial kendal Tau yang besarnya (-1<0<1)
A = Jumlah rangking atas
B = Jumlah rangking bawah
N = Jumlah anggota sampel
Uji signifikan koefisien korelasi menggunakan rumus z, karena distribusinya mendekati distribusi normal. Rumusnya adalah sebagai berikut :
Masalah Etika
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mendapatkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, Kepala Puskesmas Torjun dan Kepala Desa Dulang.
Setelah mendapat persetujuan barulah melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi:
Lembar persetujuan menjadi responden
Lembar persetujuan diberikan kepada subyek yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset yang dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Jika keluarga bersedia diteliti, maka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut, jika keluarga menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak – haknya.
Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan keluarga, peneliti tidak mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data, cukup dengan memberikan nomer kode pada masing – masing lembar tersebut.
Confidentiallity ( kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi keluarga dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset.
Keterbatasan
Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian (Burns & Grove, 1991, 121). Dalam penelitian ini, keterbatasan yang dihadapi peneliti adalah:
1.Sampel yang digunakan terbatas pada keluarga dengan anggota keluarga menderita dibetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas Torjun saja, sehingga kurang representatif untuk mewakili keluarga dengan anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus yang ada diwilayah lain.
2.Instrumen pengumpulan data dirancang oleh peneliti sendiri tanpa melakukan uji coba, oleh karena itu validitas dan realibilitasnya masih perlu diuji coba.
3.Penelitian ini hanya dilakukan selama satu bulan dengan pelaksanaan hari pertama datang memberikan pretest dan konseling kemudian datang lagi hari ketiga puluh untuk memberikan post test, sehingga kurang dapat menggambarkan pengaruh konseling keluarga terhadap peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus, karena terbatasnya waktu.
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
Pada bab ini akan dideskripsikan hasil penelitian dan pembahasan sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian meliputi gambaran umum, lokasi penelitian, karakteristik demografi responden berdasarkan status dalam keluarga, umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan keluarga. Gambaran pengelolaan anggota keluarga yang menderita DM baik sebelum dan sesudah dilakukan konseling, yang meliputi perencanaan makan, latihan jasmani, perawatan kaki dan obat hypoglikemia. Hasil penelitan yang telah didapatkan kemudian dibahas dengan mengacu pada tujuan dan landasan teori pada bab 2.
Hasil penelitian
Di dalam hasil penelitian ini akan diuraikan tentang gambaran umum lokasi penelitian, karakteristik responden dan pengelolaan pasien DM, yaitu sebagai berikut :
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Torjun. Jumlah keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM pada saat pengambilan data tanggal 7 - 11 Mei 2009 berjumlah 42 keluarga sedangkan jumlah keluarga yang diambil sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 30 keluarga.
Karakteristik Demografi Responden
Karakteristik demografi responden sebelum dan sesudah konseling keluarga akan diuraikan berdasarkan status dalam keluarga, umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan keluarga.
1.Distribusi responden berdasarkan status dalam keluarga
Gambar 5.1 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan status dalam keluarga di wilayah kerja PKM Torjun pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.1 di atas, responden sebagian besar berstatus anak dalam keluarga yaitu berjumlah 11 orang ( 36,7 %) dan yang paling sedikit adalah responden yang berstatus sebagai kepala keluarga yaitu 9 orang (30 %)
2.Distribusi responden berdasarkan umur
Gambar 5.2 Diagram Pie Distribusi responden konseling berdasarkan umur di wilayah kerja PKM Torjun pada bulan Mei 2009
Berdasarkan gambar 5. 2 di atas, responden berumur > 50 tahun yaitu 18 orang (60%) dan yang paling sedikit adalah responden yang berumur antara 20 – 29 tahun yaitu 2 orang (6,7%)
3.Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin
Gambar 5.3 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5,3 di atas, responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 18 orang (60%) dan yang laki-laki berjumlah 12 orang (40%)
4.Distribusi Responden berdasarkan status perkawinan
Gambar 5.4 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan status perkawinan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.4 di atas, responden sebagian besar adalah kawin yaitu 29 orang (96,66%) dan yang paling sedikit belum kawin yaitu 1 orang (3,34 %) sedangkan duda/janda tidak ada.
5.Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan
Gambar 5.5 Diagram Pie Distribusi responden konseling berdasarkan tingkat pendidikan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.5 di atas, responden sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan SLTP yaitu sebanyak 19 orang (63,34%), sedangkan paling sedikit adalah responden dengan tingkat pendidikan SD yaitu 4 orang (13,34%)
6.Distribusi responden berdasarkan pekerjaan
Gambar 5. 6 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan pekerjaan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.6 di atas, responden sebagian besar tidak bekerja (sebagai ibu rumah tangga) yaitu berjumlah 15 orang (50%), sedangkan yang paling sedikit adalah bekerja sebagai pegawai negeri yaitu berjumlah 2 orang (6,67%).
7.Distribusi responden berdasarkan penghasilan
Gambar 5.7 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan penghasilan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.7 di atas, responden sebagian besar mempunyai penghasilan sebesar Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 yaitu sebanyak 21 orang (70%), dan yang berpenghasilan < Rp250.000, Rp. 250.000 – Rp. 500.000 dan > Rp. 1.000.000 adalah masing-masing 3 orang (10%).
Pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Berikut akan disajikan mengenai data pengaruh konseling keluarga terhadap pengelolaan pasien DM yang terdiri dari 4 komponen yaitu :
1.Pengaruh konseling terhadap perencanaan makan pasien DM
Peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah konseling disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.1 Tabel data peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
7
23,3%
30
100,0%
Cukup
10
33,3%
0
0,0%
Kurang
13
43,3%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.1 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM, yang ditunjukkan dengan perubahan yang berarti pada semua kriteria. Pada data pre test diperoleh data pada kriteria kurang sebanyak 13 orang (43,3%) sedangkan pada post test diperoleh data pada kriteria kurang adalah 0 (0%). Untuk kriteria cukup diperoleh data sebanyak 10 orang (33,3%) pada pre test dan 0 (0%) pada data post test. Pada kriteria baik diperoleh data 7 orang (23,3%) pada pre test, sedangkan pada post test data yang diperoleh sebanyak 30 orang (100%). Dari data tersebut diperoleh nilai rata-rata perubahan yang terjadi setelah dilakuan konseling pada perencanaan makan 1,2 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi antara konseling keluarga dengan perencanaan makan dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,734 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
2.Latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM
Peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.2 Tabel data peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
0
0,0%
29
96,7%
Cukup
9
30,0%
1
3,3%
Kurang
21
70,0%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.2 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM, dimana hal tersebut ditunjukkan kriteria kurang pada data pre test sebanyak 21 orang (70%) dan pada post test menjadi menjadi 0 (0%). Untuk kriteria cukup pada data pre test diperoleh data sebanyak 9 orang (30%) dan sebanyak 1 orang (3,3%) pada data post test. Sedang pada kriteria baik pada pre test didapat data 0 (0%) dan pada post test sebanyak 29 orang (96,7%). Dari data tersebut diperoleh nilai rata-rata peningkatan 1,7 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi antara konseling keluarga dengan latihan jasmani dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,892 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
3.Pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM
Peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah konseling keluarga disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.3 Tabel data peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
0
0,0%
29
96,7%
Cukup
13
43,0%
1
3,3%
Kurang
17
56,7%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM, dimana perubahan yang berarti tersebut ditunjukkan dengan data pre test pada kriteria kurang sebanyak 17 orang (56,7%) menjadi 0 (0%) pada post test. Untuk kriteria cukup pada data pre test diperoleh data 13 orang (43%) dan sebanyak 1 orang (3,3%) pada post test. Sedangkan pada kriteria baik pada pre test diperoleh data 0 (0%) dan sebanyak 29 orang (96,7%) pada post test. Nilai rata-rata peningkatan yang diperoleh dari pre test dan post test adalah 1,5 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi antara konseling keluarga dengan pemeliharaan kaki dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,877 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
4.Obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM
Peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah konseling keluarga disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.4 Tabel data peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
4
13,3%
26
86,7%
Cukup
10
33,3%
4
13,3%
Kurang
16
53,3%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.4 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM, dimana hal tersebut ditunjukkan dengan data pre test dan post test pada semua kriteria. Untuk kriteria kurang pada pre test diperoleh data sebanyak 16 orang (53,3%) dan 0 (0%) pada post test, sedangkan pada kriteria cukup pada pre test diperoleh data sebanyak 10 orang (33,3%) menjadi sebanyak 4 orang (13,3%) pada post test. Dan pada kriteria baik diperoleh data pre test sebanyak 4 orang (13,3%) menjadi 26 (86,7%). Dari data pre test dan post test terjadi penurunan pada kriteria cukup dari 33,3% menjadi 13,3%, namun dari kesemua data pre test dan post test tersebut diperoleh nilai peningkatan rata-rata 1,3 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi anatara konseling keluarga dengan pengelolaan obat hypoglikemia dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,720 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
Pembahasan
Pada pembahasan ini akan diuraikan mengenai hasil penelitian yang telah dilaksanakan dan dilakukan uji dengan Kendal tau dan analisa mengacu pada landasan teori pada bab 2
Peran keluarga dalam pengelolaan anggota dengan DM yaitu:
Peran keluarga dalam perencanaan makan anggota keluarga dengan DM.
Peran keluarga dalam perencanaan makan pada keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga dan dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan, yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM yaitu adanya peningkatan peran keluarga dalam perencanaan makan. Dalimartha Setiawan menyebutkan bahwa perencanaan makan sebenarnya merupakan penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori penderita sesuai dengan usia, berat badan (status gizi), aktivitas sehari-hari, jenis kelamin, beratnya penyakit yang diderita serta penyakit lainnya. Sehingga total kalori dan komposisi makanan ditentukan dalam range (kisaran persentasi, bukan suatu angka mutlak). Dalam penyusunan menu sebaiknya diusahakan mendekati kebiasaan makan sehari-hari, sederhana, bervariasi dan mudah dilaksanakan, seimbang serta sesuai kebutuhan dengan tidak mengesampingkan cara hidup, selera, adat serta kebiasaan penderita. Kalau tidak pasti akan ditinggalkan (Dalimartha Setiawan, 2002). Jadwal makan penderita DM adalah porsi sering tapi sering. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah peningkatan kadar glukosa darah yang sekaligus tinggi dan juga hipoglikemia bagi pemakai insulin, serta komposisi menu pada makanan sehari-hari dianjurkan seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah-buahan.
Apabila terjadi keseimbangan antara makanan yang masuk dengan kebutuhan, dan kemampuan tubuh untuk mengolahnya maka diharapkan glukosa darah terkontrol dalam batas-batas normal. Selain itu juga tersedia cukup tenaga untuk kegiatan sehari-hari penderita dan berat badan juga ideal.
Peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM.
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga dan dilakuakn uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan dimana ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM. Hubungan ini ditujukan dengan adanya perubahan ke arah yang lebih baik pada peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM. Menurut Dalimartha Setiawan (2002), yang dimaksud dengan latihan jasmani bagi penderita DM adalah Aerobik yaitu olahraga yang berjalan terus menerus dan berlangsung dalam waktu cukup lama serta dilakukan secara sadar. Untuk penderita yang tergantung insulin ringan atau sedang latihan jasmani bisa dilakukan dengan aman, tapi bagi penderita yang mempunyai resiko atau disertai komplikasi maka latihan jasmani sebaiknya dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu. Latihan jasmani dilakukan selama 50 – 60 menit, dan selama latihan denyut nadi harus mencapai zona latihan yaitu denyut nadi yang harus dicapai selama latihan untuk memperoleh suatu manfaat. Untuk mengetahui denyut nadi yang diperbolehkan selama latihan, dapat dihitung dengan rumus :
Denyut nadi maximal = 220 – umur
Zona latihan = 70 – 85 % dari denyut nadi maximal
Latihan jasmani sebaiknya dilakukan sesuai dengan program CRIPE yaitu :
Continuous : Latihan jasmani dilakukan secara terus menerus selama 50 – 60 menit tanpa berhenti.
Rhytmical : Latihan dilakukan secara berirama dan teratur.
Interval : Latihan dilakukan berselang – seling, kadang cepat, kadang lambat tetapi tanpa berhenti.
Progresive : Latihan dilakukan secara bertahap dengan beban latihan ditingkatkan perlahan – lahan.
Endurance : Latihan ketahanan untuk meningkatkan kesegaran jantung dan pembuluh darah
Manfaat dari latihan jasmani adalah untuk kesegaran tubuh, membuang kelebihan kalori, mengontrol glukosa darah, mengurangi kebutuhan obat atau insulin, dan untuk penderita yang beresiko latihan jasmani berguna untuk menurunkan tekanan darah tinggi, mengurangi resistensi insulin, dan memperbaiki profil lemak darah yang terganggu.
Manfaat ini akan diperoleh apabila latihan jasmani dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga serta dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pemeliharaan kaki dengan ditunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik pada peran keluarga delam pemeliharaan kaki. Pemeliharaan kaki adalah usaha yang dilakukan dengan selalu memperhatikan dan menjaga kebersihan, serta melakukan latihan secara baik sebelum terjadi gangguan atau komplikasi (Dalimartha Setiawan, 2002 : 31 ). Dalam pemeliharaan kaki ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu : 1) Perawatan Kaki, yaitu segala usaha yang dilakukan untuk menjaga kebersihan kaki. Langkah – langkahnya meliputi periksalah kaki tiap hari untuk menemukan lecet atau luka secara dini, cuci kaki setiap hari dengan air hangat dan sabun, lalu keringkan terutama sela jari, oleskan cream atau lotion pelembut untuk kaki yang pecah – pecah tapi hindari sela jari, gunakan alas kaki baik didalam maupun luar rumah, gunakan kaos kaki tiap hari, gunakan sepatu yang sesuai, jangan terlalu sempit. Dan periksa sepatu setiap hari untuk menghindari hal yang menyebabkan luka pada kaki, gunting kuku secara melintang. Bila terjadi infeksi segera ke dokter, jangan mengompres atau merendam kaki dengan air panas karena respon panas pada kaki menurun sehingga tidak terasa jika sampai melepuh; 2) Latihan Kaki, menurut Dalimartha Setiawan (2002) yang dimaksud latihan kaki yaitu gerakkan yang dilakukan untuk melatih jari dan otot kedua kaki serta mengaktifkan aliran darah, dimana dilakukan secara teratur. Latihan kaki yang dapat dilakukan antara lain berjalan cepat setiap hari selama ½ - 1 jam dengan jarak tempuh yang makin hari makin jauh.Latihan kaki setiap kali dilakukan sampai 10 kali hitungan dan dapat diulang bila perlu dan penderita tidak merasa lelah.
Pada pelaksanaannya pemeliharaan kaki ini akan memperoleh hasil jika dilakukan secara teratur dan terus menerus serta secara dini.
Peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga serta dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pengelolan obat hypoglikemia dengan adanya peningkatan peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia. Menurut Dalimarta Setiawan, (2002) obat hypoglikemia adalah obat untuk penderita DM yang berguna untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai petunjuk dokter. Ada dua macam obat hipoglikemik, yaitu berupa suntikan dan tablet dapat diminum dan biasa disebut OHO atau OAD. 1) Obat tablet, yang dimaksud obat tablet adalah obat yang cara penggunaannya dengan diminum. Berdasar waktu paruh masing – masing OHO, obat dibagi atas tiga jenis :
Short – acting : waktu paruh 4 jam, diberikan 1 – 3 x/hari
Intermediate : waktu paruh 5 – 8 jam, diberikan 1 – 2 x/hari.
Long – acting : waktu paruh 24 36 jam, diberikan tiap pagi.
Cara minum obat dengan dosis terbagi adalah:
Pemakaian 1 x/hari : pagi hari
Pemakaian 2 x/hari : pagi dan siang hari
Pemakaian 3 x/hari : pagi, siang dan sore hari
Apabila obat jenis intermediate perlu diberikan 2x/hari, sedangkan penderita butuh 3 tablet maka obat diberikan pagi hari dua tablet dan siang satu tablet. Golongan obat ini tidak diminum pada malam hari karena akan menyebabkan hypoglikemia serta menyebabkan dikeluarkannya beberapa hormon misal katekolamin, kortisol dan growth hormon, dimana dalam jangka lama akan mempercepat kerusakan pembuluh darah. Untuk menambah khasiat menurunkan kadar glukosa darah, maka obat diminum ½ jam sebelum makan. 2) Obat Suntik / Insulin, yaitu obat anti hypoglikemia yang pemberiannya melalui suntikan, baik secara intra muscular, subcutan maupun intra vena. Obat jenis ini biasanya diberikan pada penderita DM tipe I, DM dengan gangren, ketoasidosis, koma, DM dengan kehamilan, berat badan penderita menurun cepat,tidak berhasil dengan tablet hypoglikemik,dan DM yang disertai gangguan hati dan ginjal. Tempat atau lokasi penyuntikan insulin adalah lengan atas, dinding perut, paha dan pantat.
Untuk memperoleh khasiatnya yang optimal maka sebaiknya penderita mencermati cara-cara/aturan obat anti DM yang digunakan baik itu OHO maupun suntikan.
Peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling kemudian dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pengelolan anggota keluarga dengan DM. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang ditunjukkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Untuk dapat berhasil mengelola pasien dengan baik diperlukan perencanaan yang matang berupa tujuan jangka pendek, tujuan jangka panjang, tindakan dan kegiatan yang dilakukan, pemeriksaan berkala, serta penyuluhan. Berikut ini perencanaan yang dimaksud : 1) Tujuan jangka pendek, yaitu menghilangkan keluhan dan gejala penyakit Diabetes Mellitus, 2) Tujuan jangka panjang, yaitu mencegah komplikasi kronis yang dapat menyerang pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, syaraf, kulit dan kaki, 3) Tindakan yang dilakukan adalah menormalkan kadar glukosa, lemak, insulin dalam darah dan memberikan pengobatan bila terdapat penyakit kronis lainnya, 4) Kegiatan yang dilakukan meliputi : Kunjungan pertama dilakukan pemeriksaan fisik lengkap untuk mengetahui status gizi, komplikasi yang mungkin sudah timbul, dan adanya penyakit kronis lainnya. Pemeriksaan fisik lengkap meliputi:
Pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah
Menanyakan dan mencari tanda gangguan syaraf seperti rasa
kesemutan
Memeriksa keadaan kaki dan denyut nadi
Pemeriksaan EKG
Rotgen dada
Pemeriksaan fundus mata.
Pemeriksaan laboratorium standart, yang meliputi:
a.Darah; darah rutin, gula darah puasa dan dua jam setelah makan, albumin, kolesterol total, HDL & LDL kolesterol, HbA1c, kreatinin, SGPT (ALT) serta trigliserida.
b.Urine; sedimen, albumin, bakteri
c.Laboratorium tambahan yang sesuai dengan kebutuhan.
Pemeriksaan HbA1c, gula darah puasa dan dua jam setelah puasa setiap tiga bulan.
Pemeriksaan fisik lengkap diulang tiap satu tahun
Penyuluhan.
Sehubungan dengan peran dan tugas dalam kesehatan, keluarga diharapkan memiliki kemampuan yang dapat mengatasi problem-problem kesehatan dalam anggota keluarganya. Nasrul Efendy, (1997) menyatakan bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh keluarga dalam melakukan tugas kesehatan keluarga tersebut meliputi:
1.Mengenal masalah kesehatan keluarga
2.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat
3.Merawat anggota keluarga yang sakit
4.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga yang sakit
5.Menggunakan sumber dimasyarakat guna memelihara kesehatan.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, maka keluarga perlua mendapatkan konseling, dimana konseling keluarga merupakan salah satu penginderaan yang bisa dilakukan untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Latipun (2001) konseling keluarga merupakan bagian penting dalam memperoleh perubahan perilaku yang langgeng karena pada konseling keluarga, memandang bahwa keluarga tidak hanya dilihat sebagai faktor yang menimbulkan masalah, dimana keluarga menjadi bagian yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah, dimana keluarga dan anggota yang lain merupakan suatu sistem yang saling mempengaruhi sehingga untuk mengubah masalah yang dialami anggota keluarga diperlukan perubahan dalam sistem keluarga lainnya dan permasalah yang akan dialami seorang anggota keluarga akan lebih efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Konseling ini akan memperoleh hasil yang baik apabila dilakukan secara teratur dan berkesinambungan, sehingga diharapkan konseling keluarga tentang pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang diberikan pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM akan dapat meningkatkan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga yang menderita DM secara optimal.
Pengaruh konseling terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Konseling keluarga secara signifikan memberikan perubahan ke arah yang lebih baik terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang ditunjukkan dari data pre test dan post test yang kemudian dilakukan uji dengan uji Kendal tau terhadap semua komponen pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Berdasarkan hasil penelitian keluarga sebagai sitem pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan baik sehat maupun sakit terhadap anggota keluarga yang lainnya mengacu pada konsep tersebut, bila kita kaitkan dengan berbagai alasan ketidakmampuan dalam melaksanakan tugas-tugas keluarga, maka perawat bertugas membantu keluarga dalam melakukan 5 tugas keluarga dalam memahami kebutuhan kesehatan anggotanya. Baylon dan Maglaya (1978) menyatakan bahwa 5 tugas keluarga tersebut adalah :
a.Mengenal masalah kesehatan keluarga.
b.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat.
c.Merawat anggota keluarga yang sakit.
d.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga .
e.Menggunakan sumber di masyarakat guna memelihara kesehatan.
Keluarga yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah adalah dapat mencegah (pencegahan primer), menanggulangi (pencegahan sekunder) dan memulihkan (pencegahan tersier) untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka keluarga perlu mendapat konseling agar peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetus Mellitus bisa optimal.
Menurut Latipun (2001) keberhasilan konseling pada pelaksanaannya dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah yang berhubungan dengan karakteristik subyek. Karakteristik tersebut adalah tingkat pendidikan dimana pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandang terhadap diri dan lingkungannya sehingga akan berbeda cara menyikapi proses berlangsungnya konseling pada orang yang berpendidikan tinggi dan yang berpendidikan rendah. Tingkat pendidikan responden yang sebagian besar adalah tingkat menengah (SLTP) sehingga tingkat pemahaman keluarga relatif cukup baik. Dengan demikikian keluarga cepat memahami penjelasan yang dijelaskan oleh peneliti (sebagai konselor) pada pelaksanaan konseling. Hal ini mendukung terjadinya perubahan peran dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM ke arah yang lebih baik. Tetapi dalam penelitian ini peneliti tidak dapat mengidentifikasi hubungan tingkat pendidikan dengan peningkatan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Materi dan pelaksanaan konseling yang dilakukan oleh peneliti dipersiapkan dengan baik sesuai dengan kriteria pelaksanaan konseling keluarga, dimana hal ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan konseling yang berhubungan dengan konselor dan proses konseling.
Selain tingkat pendidikan tingkat pengetahuan juga mempunyai kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM dimana orang yang berpengetahuan luas atau mempunyai informasi lebih banyak tentang pengelolaan DM maka ia akan mempunyai atau dapat berperan dalam keluarga. Peran tersebut akan menjadi langgeng apabila didasari oleh suatu pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (1997) Pengetahuan adalah hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan pada suatu keluarga, karena dari pengalaman dan penelitian, prilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Konseling keluarga merupakan salah satu penginderaan yang bisa dilakukan untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Latipun (2001) konseling keluarga merupakan bagian penting dalam memperoleh perubahan perilaku yang langgeng karena pada konseling keluarga, memandang bahwa keluarga tidak hanya dilihat sebagai faktor yang menimbulkan masalah, dimana keluarga menjadi bagian yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah, dimana keluarga dan anggota yang lain merupakan suatu sistem yang saling mempengaruhi sehingga untuk mengubah masalah yang dialami anggota keluarga diperlukan perubahan dalam sistem keluarga lainnya dan permasalah yang akan dialami seorang anggota keluarga akan lebih efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain.
Penelitian Roger (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, begitu juga dengan keluarga yaitu 1) Awareness (kesadaran) dimana orang atau keluarga tersebut menyadari dalam arti lebih mengetahui lebih dulu terhadap stimulus atau obyek 2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut, disini sikap subyek sudah mulai timbul 3) Evaluasion (menimbang – nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi diri atau keluarganya. Dalam hal ini sikap responden sudah lebih baik lagi 4) Trial, dimana subyek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus 5) Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Berdasarkan data, ulasan teori di atas perlu kiranya diberikan konseling secara berkala dan berkesinambungan pada keluarga dengan anggota keluarga menderita DM sebab kecukupan informasi yang dimiliki oleh keluarga akan meningkatkan pengetahuan keluarga dimana hal ini akan menimbulkan kesadaran serta sikap yang positif dari anggota keluarga yang lain dan dapat meningkatkan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan, dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:
1.Peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM mengalami perbaikan setelah dilakukan konseling pada keluarga.
2.Peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM mengalami perbaikan setelah dilakukan konseling pada keluarga.
3.Peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM mengalami perubahan yang lebih baik setelah dilakukan konseling keluarga.
4.Peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM mengalami perubahan ke arah yang lebih baik setelah dilakukan konseling.
5.Ada pengaruh yang bermakna antara konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM di wilayah Puskesmas Torjun Sampang dimana terjadi perbaikan peran keluarga pada pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM di wilayah kerja Puskesmas Torjun Sampang, maka perlu kiranya dilakukan :
1.Pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM seyogyanya diberikan konseling yang baik dan benar sebagai upaya untuk memperbaiki peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
2.Pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga dengan DM, dan sesudah berperan secara optimal hendaknya tetap diberikan konseling keluarga untuk mempertahankan perannya yang baik.
3.Penelitian ini ditemukan adanya pengaruh yang bermakna konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM, maka seyogyanya di setiap wilayah kerja Puskesmas dilakukan konseling secara berkala dan berkesinambungan tentang peran keluarga dalam pengelolaan keluarga dengan DM.
4.Perlu kiranya diadakan penelitian lebih lanjut tentang anggota keluarga (anak, istri, suami, cucu, dan lain – lain) yang sangat berperan pada pengelolaan anggota keluarga dengan DM, juga tentang faktor-faktor yang mempengaruhi peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Daftar Pustaka
Andhana Wayan, (1983). Beberapa Metode Statistik Untuk penelitian Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya.
Charles. Abraham dan Eamon. Stanley, (1997). Social Psychology for Nurse: edisi 1. EGC, Jakarta.
Djarwanto PS, (1993). Statistik Induktif, Edisi ke 4. BPFE, Jogyakarta.
Gunarso Singgih, (2001), Konseling & Psikoterapi, Cet.4, Gunung Mulia Jakarta.
Latipun,(2001). Psikologi Konseling. Edisi 3. Universitas Muhamadiyah Malang.
Malilyn m. fridman, (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik, Edisi 3. EGC, Jakarta.
Mappiane Andi AT, (2002), Pengantar Konseling & Psikoterapi, Cet. 3. Edisi I. Rajawali Press Citra Niaga Buku perguruan Tinggi Jakarta.
Marcia Stanhope, Jeanette Lancaster, (1997). Perawatan Kesehatan Masyarakat (Suatu proses dan praktek untuk peningkatan kesehatan I), Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.
---------------------------------------------, (1997). Perawatan Kesehatan masyarakat (Suatu proses dan praktek untuk peningkatan kesehatan II), Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.
Merry. E beck, (1993). Nutrition and Dietetics for Nurses, Yayasan Esentia Medica, Yogyakarta.
Nasrul Efendi, (1998). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, Edisi @, EGC, Jakarta.
Noer. Syaifoellah, (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. jilid I. Edisi 3. Balai Penerbit FK UI, Jakarta.
Notoatmodjo Sukijo,(1997). Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.
------------------------, (1993). Pengantar Ilmu Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Andi Offset Yogyakarta.
------------------------, (1993). Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi 1, Melton Putra Omset, Jakarta.
Pusat Diabetes dan Nutrisi RSUD DR. Soetomo- FK UNAIR, (2001). Majalah Deabetes, Volume 1, edisi 1, Surabaya.
---------------------------------------------------------------–FK UNAIR, (2001). Majalah Diabetes, Volume II, edisi 1, Surabaya.
Pranadji Diah K V, Martianto Dwi H, Ir, Subandriyo Vera Uripi, (2001). Perencanaan menu untuk penderita diabetes mellitus, cetakan 4. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sastro Asmoro. S dan Ismail, (1995). Dasar-dasar Methodologi Penelitian Klinik, Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Setiawan Dalimartha, (2002). Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Diabetes Mellitus, Penebar Swadayu, Jakarta.
Suharsimi Arikunto, (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,, Edisi 4, Rineka Cipta, Jakarta.
Sulita et al, (2001). Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. EGC. Jakarta.
Tjokroprawiro. Askandar, (2001). Diabetes Mellitus Klasifikasi, Diagnosa dan Terapi, Edisi 3, Pt Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sudjana ,(1996). Metode Statistik, Edisi 6. Tarsito Bandung.
Sugiono, (2001). Statistik Nonparametris Untuk Penelitian, Edisi 2. CV. ALFABETA Bandung.
Wijaya IR, (2001). Statistik Non Parametris ( Aplikasi Program SPSS), Cet. 2. CV. ALFABETA Bandung.