A.Pengertian
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus ( arthro podborn virus ) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk AEDES ( AEDES ALBOPICTUS dan AEDES AEGEPTY )
B.Penyebab
Penyebab DHF adalah Arbovirus ( Arthropodborn Virus ) melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes Albopictus dn Aedes Aegepty )
C.Tanda dan gejala
Tanda dan gejala penyakit DHF adalah :
-Meningkatnya suhu tubuh
-Nyeri pada otot seluruh tubuh
-Suara serak
-Batuk
-Epistaksis
-Disuria
-Nafsu makan menurun
-Muntah
-Ptekie
-Ekimosis
-Perdarahan gusi
-Muntah darah
-Hematuria masih
-Melena
D. Klasifikasi DHF menurut WHO
Derajat I
Demam disertai gejala tidak khas, terdapat manifestasi perdarahan ( uju tourniquet positif )
Derajat II
Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain.
Derajat III
Kegagalan sirkulasi darah, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun ( 20 mmhg, kulit dingin, lembab, gelisah, hipotensi )
Derajat IV
Nadi tak teraba, tekanan darah tak dapat diukur
Pemeriksaan Diagnostik
-Darah Lengkap = Hemokonsentrasi ( Hemaokrit meningkat 20 % atau lebih ) Thrombocitopeni ( 100. 000/ mm3 atau kurang )
-Serologi = Uji HI ( hemaaglutinaion Inhibition Test )
-Rontgen Thorac = Effusi Pleura
-Beri minum banyak ( 1 ½ - 2 Liter / hari )
-Obat anti piretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres
-Jika kejang maka dapat diberi luminal ( antionvulsan ) untuk anak <1th dosis 50 mg Im dan untuk anak >1th 75 mg Im. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal dengan dosis 3mg / kb BB ( anak <1th dan pada anak >1th diberikan 5 mg/ kg BB.
-Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat
A.DHF dengan Renjatan
-Pasang infus RL
-Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 – 30 ml/ kg BB )
-Tranfusi jika Hb dan Ht turun
Keperawatan
1.Pengawasan tanda – tanda Vital secara kontinue tiap jam
-Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
-Observasi intik output
-Pada pasienDHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda vital tiap 3 jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 ½ liter – 2 liter per hari, beri kompres
-Pada pasien DHF derajat II : pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht, Thrombocyt, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah menurun, anuria dan sakit perut, beri infus.
-Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri o2 pengawasan tanda – tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, obsrvasi productie urin tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt.
2.Resiko Perdarahan
-Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena
-Catat banyak, warna dari perdarahan
-Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan tractus Gastro Intestinal
3.Peningkatan suhu tubuh
-Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodik
-Beri minum banyak
-Berikan kompres
F. Asuhan Keperawatan pada pasien DHF
Pengkajian
-Kaji riwayat Keperawatan
-Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda perdarahan , mual muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hai, nyeri otot dan tanda – tanda renjatan ( denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab, terutama pada ekstremitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran )
Diagnose Keperawatan
1.Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler , perdarahan, muntah, dan demam
2.Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan
3.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan
4.Hipertermi berhubungan dengan proses infeksivirus
5.Perubahan proses proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak
Perencanaan
1.Anak menunjukkan tanda – tanda terpenuhinya kebutuhan cairan
2.Anak menunjukkan tanda – tanda perfusi jaringan perifer yang adekwat
3.Anak menunjukkan tanda – tanda vital dalam batas normal
4.Keluarga menunjukkan kekoping yang adaptif
Implementasi
1.Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan
-Mengobservasi tanda – tanda vital paling sedikit setiap 4 jam
-Monitor tanda – tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak elastis, ubun – ubun cekung, produktie urin menurun
-Mengobservasi dan mencatat intake dan output
-Memberikan hidrasi yang adekwat sesuai dengan kebutuhan tubuh
-Memonitor nilai laboratorium : elektrolit / darah BJ urin , serum tubuh
-Mempertahankan intake dan output yang adekwat
-Memonitor dan mencatat berat badan
-Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam
-Mengurangi kehilangan cairan yang tidak telihat ( insesible water loss / IWL )
2.Perfusi jaringan Adekwat
-Mengkaji dan mencatat tanda – tanda Vital ( kualitas dan Frekwensi denyut nadi, tekanan darah , Cappilary Refill )
-Mengkaji dan mencatat sirkulasi pada ektremitas ( suhu , kelembaban dan warna )
-Menilai kemungkinan terjadinya kematian aringan pada ekstremitas seperti dingin , neri , pembengkakan kaki )
3.Kebutuhan nutrisi adekwat
-Ijinka anak memakan makanan yang dapa ditoleransi anak. Rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
-Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
-Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering
-Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama
-Mempertahankan kebersihan mulut pasien
-Menjelaskan pentingnya intake nutirisi yang adekwat untuk penyembuhan penyakit
4.Mempertahankan suhu tubuh normal
-Ukur tanda – tanda vital suhu tubuh
-Ajarkan keluarga dala pengukuran suhu
-Lakukan “ tepid sponge” ( seka ) dengan air biasa
-Tingkatkan intake cairan
-Berikan terapi untuk menurunkan suhu
5.Mensupport koping keluarga Adaptif
-mengkaji perasaan dn persepsi orang tua atau anggota keluarga terhadap situasi yang penuh stress
-Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang lebar dan identifikasi faktor yang paling mencmaskan keluarga
-Identifikasikan koping yang biasa digunakan dn seberapa besar keberhasilannya dalam mengatasi keadaan
G. Pencegahan DHF
Menghindari atau mencegah berkembangnya nyamuk Aedes Aegepty dengan cara:
-Rumah selalu terang
-Tidak menggantung pakaian
-Bak / tempat penampungan air sering dibersihkan dan diganti airnya minimal 4 hari sekali
-Kubur barang – barang bekas yang memungkinkan sebagai tempat terkumpulnya air hujan
-Tutup tempat penampungan air
Perencanaan pemulangan dan PEN KES
-Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktifitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi fisik anak
-Jelaskan terapi yang diberikan, dosis efek samping
-Menjelaskan gejala – gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi gejala
-Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan
DAFTAR PUSTAKA
Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Editor : Sumarmo, S Purwo Sudomo, Harry Gama, Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002.
Christantie, Effendy. SKp, Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC, 1995
Prinsip – Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 – 267
Rabu, 04 Agustus 2010
BRONKOPNEUMONIA
A.Pengertian
Pneumonia adalah inflamasi atau infeksi pada parenkim paru ( Betz C, 2002 )
Pneumonia adalah peradangan alveoli atau pada parenchim paru yang terjadi pada anak. (Suriadi Yuliani, 2001)
Pneumonia adalah suatu peradangan paru yang disebabkan oleh bermacam- macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing (IKA, 2001)
Jadi bronkopnemonia adalah infeksi atau peradangan pada jaringan paru terutama alveoli atau parenkim yang sering menyerang pada anak - anak
B Etiologi
Pneumonia bisa dikatakan sebagai komplikasi dari penyakit yang lain ataupun sebagai penyakit yang terjadi karena etiologi di bawah ini
Sebenarnya pada diri manusia sudah ada kuman yang dapat menimbulkan pneumonia sedang timbulnya setelah ada faktor- faktor prsesipitasi yang dapat menyebabkan timbulnya.
Bakteri
Organisme gram positif yang menyebabkan pneumonia bakteri adalah steprokokus pneumonia, streptococcus aureus dan streptococcus pyogenis.
Virus
Pneumonia virus merupakan tipe pneumonia yang paling umum ini disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus yang merupakan sebagai penyebab utama pneumonia virus.
Jamur
Infeksi yang disebabkan oleh jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung.
Protozoa
Ini biasanya terjadi pada pasien yang mengalami imunosupresi seperti pada pasien yang mengalami imunosupresi seperti pada penderita AIDS.
C.Manifestasi klinis
Pneumonia bakteri
Gejala awal :
-Rinitis ringan
-Anoreksia
-Gelisah
Berlanjut sampai :
-Demam
-Malaise
-Nafas cepat dan dangkal ( 50 – 80 )
-Ekspirasi bebunyi
-Lebih dari 5 tahun, sakit kepala dan kedinginan
-Kurang dari 2 tahun vomitus dan diare ringan
-Leukositosis
-Foto thorak pneumonia lobar
Pneumonia virus
Gejala awal :
Batuk
Rinitis
Berkembang sampai
Demam ringan, batuk ringan, dan malaise sampai demam tinggi, batuk hebat dan lesu
Emfisema obstruktif
Ronkhi basah
Penurunan leukosit
Pneumonia mikoplasma
Gejala awal :
-Demam
-Mengigil
-Sakit kepala
-Anoreksia
-Mialgia
Berkembang menjadi :
-Rinitis
-Sakit tenggorokan
-Batuk kering berdarah
-Area konsolidasi pada pemeriksaan thorak
D. Patofisiologi
Adanya gangguan pada terminal jalan nafas dan alveoli oleh mikroorganisme patogen yaitu virus dan stapilococcus aurens, H. Influenza dan streptococcus pneumoniae bakteri.
Terdapat infiltrat yang biasanya mengenai pada multipel lobus. Terjadinya destruksi sel dengan menanggalkan debris celluler ke dalam lumen yang mengakibatkan gangguan fungsi alveolar dan jalan nafas.
Pada anak kondisi ini dapat akut maupun kronik misal pad AIDS, Cystic Fibrosis, aspirasi benda asing dan congenital yang dapat meningkatkan risiko pneumonia.
E.Pemeriksaan diagnostik
1. Foto polos : digunakan untuk melihat adanya infeksi di paru dan status pulmoner
2. Nilai analisa gas darah: untuk mengetahui status kardiopulmoner yang berhubungan dengan oksigenasi
3. Hitung darah lengkap dan hitung jenis: digunakan untuk menetapkan adanya anemia, infeksi dan proses inflamasi
4. Pewarnaan gram: untuk seleksi awal anti mikroba
5. Tes kulit untuk tuberkulin: untuk mengesampingkan kemungkinan terjadi tuberkulosis jika anak tidak berespon terhadap pengobatan
6. jumlah lekosit: terjadi lekositosis pada pneumonia bakterial
7. Tes fungsi paru: digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas dan beratnya penyakit dan membantu memperbaiki keadaan.
8. Spirometri statik digunakan untuk mengkaji jumlah udara yang diinspirasi
9. Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agen penyebab seperti
virus
F.Penatalaksanaan medis
Pengobatan supportive bila virus pneumonia
Bila kondisi berat harus dirawat
Berikan oksigen, fisiotherapi dada dan cairan intravena
Antibiotik sesuai dengan program
Pemeriksaan sensitivitas untuk pemberian antibiotik
G.Penatalaksanaan perawatan
1. Pengkajian
-Kaji status pernafasan
-Kaji tanda- tanda distress pernafasan
-Kaji adanya demam, tachicardia, malaise, anoreksia, kegeisahan
2. Diagnosa keperawatan
1.Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret di jalan nafas
2.Gangguan petukaran gas berhubungan dengan meningkatnya sekresi dan akumulasi exudat
3.Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam, menurunnya intake dan tachipnea
4.Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan invasif pemasangan infus
5.Risiko tinggi terjadi kerussakan integritas kulit berhubungan dengan bed rest total
6.Risiko tinggi terjadi cedera berhubungandengan kejang
3. Perencanaan
1.Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret di jalan nafas
Tujuan: setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam jalan nafas menjadi bersih
Kriteria:
-Suara nafas bersih tidak ada ronkhi atau rales, wheezing
-Sekret di jalan nafas bersih
-Cuping hidung tidak ada
-Tidak ada sianosis
Intervensi:
-Kaji status pernafasan tiap 2 jam meliputi respiratory rate, penggunaan otot bantu nafas, warna kulit
-Lakukan suction jika terdapat sekret di jalan nafas
-Posisikan kepala lebih tinggi
-Lakukan postural drainage
-Kolaborasi dengan fisiotherapist untuk melaakukan fisiotherapi dada
-Jaga humidifasi oksigen yang masuk
-Gunakan tehnik aseptik dalam penghisapan lendir
2.Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya penumpukan cairan di alveoli paru
Tujuan: setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pertukaran gas dalam alveoli adekuat.
Kriteria:
-Akral hangat
-Tidak ada tanda sianosis
-Tidak ada hipoksia jaringan
-Saturasi oksigen perifer 90%
Intervensi:
-Pertahankan kepatenan jalan nafas
-Keluarkan lendir jika ada dalam jalan nafas
-Periksa kelancaran aliran oksigen 5-6 liter per menit
-Konsul dokter jaga jika ada tanda hipoksia/ sianosis
-Awasi tingkat kesadaran klien
3.Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam, menurunnya intake dan tachipnea
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi kekurangan volume cairan.
Kriteria hasil:
-Tidak ada tanda dehidrasi
-Suhu tubuh normal 36,5-37 0C
-Kelopak mata tidak cekung
-Turgor kulit baik
-Akral hangat
Intervensi:
-Kaji adanya tanda dehidrasi
-Jaga kelancaran aliran infus
-Periksa adanya tromboplebitis
-Pantau tanda vital tiap 6 jam
-Lakukan kompres dingin jika terdapat hipertermia suhu diatas 38 C
-Pantau balance cairan
-Berikan nutrisi sesuai diit
-Awasi turgor kulit
4.Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan invasif pemasangan infus
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi infeksi akibat pemasangan infus.
Kriteria hasil:
-Aliran infus lancar
-Tidak ada tanda infeksi pada tempat pemasangan infus
-Suhu tubuh dalam batas normal
-Tidak ada tromboplebitis
Intervensi:
-Awasi adanya tanda- tanda infeksi pada tempat pemasangan infus
-Jaga kelancaran aliran infus
-Jaga kenbersihan tempat pemasangan infus
-Jaga tempat pemasangan infus tetap kering
-Tutup tempat pemasangan infus dengankasa betadin
-Ganti lokasi pemasangan infus tiap 3 x 24 jam
5.Risiko tinggi terjadi kerussakan integritas kulit berhubungan dengan bed rest total
Tujuan: seletah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Kriteria hasil:
-Tidak terdapat luka dekubitus pda lokasi yang tertekan
-Warna kulit daerah tertekan tidak hipoksia, kemerahan
Intervensi:
-Lakukan massage pada kulit tertekan
-Monitor adanya luka dekubitus
-Jaga kulit tetap kering
-Berikan kamfer spiritus pada punggung dan daerah tertekan
-Jaga kebersihan dan kekencangan linen
6.Risiko tinggi terjadi cedera berhubungandengan kejang
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi injuri akibat kejang
Kriteria hasil:
-Tidak ada injuri pada bagian tubuh jika terjadi kejang
-Orang tua selalu mengawasi disamping anaknya
-Orang tua melapor jika terjadi kejang
-Tempat tidur terpasang pengaman
Intervensi:
-Pasang pengaman di sisi tempat tidur
-Anjurkan orang tua untuk melapor jika terjadi kejang
-Siapkan sudip lidah/ pasang pada mulut pasien
-Kolaborasi berikan anti kejang luminal dan diazepam
-Berikan obat sesuai program
-Awasi adanya kejang tiap 15 menit sekali
Daftar pustaka
1.Suriadi, Yuliani. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: CV Sagung Seto;2001
2.Staf Pengajar FKUI. Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah 3. Jakarta:
3.Infomedika;2000
4.Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC; 1997
5.Betz & Sowden. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Jakarta: EGC;2002
6.Wong and Whaley. ( 1995 ). Clinical Manual of Pediatric Nursing. Philadelphia:
Pneumonia adalah inflamasi atau infeksi pada parenkim paru ( Betz C, 2002 )
Pneumonia adalah peradangan alveoli atau pada parenchim paru yang terjadi pada anak. (Suriadi Yuliani, 2001)
Pneumonia adalah suatu peradangan paru yang disebabkan oleh bermacam- macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing (IKA, 2001)
Jadi bronkopnemonia adalah infeksi atau peradangan pada jaringan paru terutama alveoli atau parenkim yang sering menyerang pada anak - anak
B Etiologi
Pneumonia bisa dikatakan sebagai komplikasi dari penyakit yang lain ataupun sebagai penyakit yang terjadi karena etiologi di bawah ini
Sebenarnya pada diri manusia sudah ada kuman yang dapat menimbulkan pneumonia sedang timbulnya setelah ada faktor- faktor prsesipitasi yang dapat menyebabkan timbulnya.
Bakteri
Organisme gram positif yang menyebabkan pneumonia bakteri adalah steprokokus pneumonia, streptococcus aureus dan streptococcus pyogenis.
Virus
Pneumonia virus merupakan tipe pneumonia yang paling umum ini disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus yang merupakan sebagai penyebab utama pneumonia virus.
Jamur
Infeksi yang disebabkan oleh jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung.
Protozoa
Ini biasanya terjadi pada pasien yang mengalami imunosupresi seperti pada pasien yang mengalami imunosupresi seperti pada penderita AIDS.
C.Manifestasi klinis
Pneumonia bakteri
Gejala awal :
-Rinitis ringan
-Anoreksia
-Gelisah
Berlanjut sampai :
-Demam
-Malaise
-Nafas cepat dan dangkal ( 50 – 80 )
-Ekspirasi bebunyi
-Lebih dari 5 tahun, sakit kepala dan kedinginan
-Kurang dari 2 tahun vomitus dan diare ringan
-Leukositosis
-Foto thorak pneumonia lobar
Pneumonia virus
Gejala awal :
Batuk
Rinitis
Berkembang sampai
Demam ringan, batuk ringan, dan malaise sampai demam tinggi, batuk hebat dan lesu
Emfisema obstruktif
Ronkhi basah
Penurunan leukosit
Pneumonia mikoplasma
Gejala awal :
-Demam
-Mengigil
-Sakit kepala
-Anoreksia
-Mialgia
Berkembang menjadi :
-Rinitis
-Sakit tenggorokan
-Batuk kering berdarah
-Area konsolidasi pada pemeriksaan thorak
D. Patofisiologi
Adanya gangguan pada terminal jalan nafas dan alveoli oleh mikroorganisme patogen yaitu virus dan stapilococcus aurens, H. Influenza dan streptococcus pneumoniae bakteri.
Terdapat infiltrat yang biasanya mengenai pada multipel lobus. Terjadinya destruksi sel dengan menanggalkan debris celluler ke dalam lumen yang mengakibatkan gangguan fungsi alveolar dan jalan nafas.
Pada anak kondisi ini dapat akut maupun kronik misal pad AIDS, Cystic Fibrosis, aspirasi benda asing dan congenital yang dapat meningkatkan risiko pneumonia.
E.Pemeriksaan diagnostik
1. Foto polos : digunakan untuk melihat adanya infeksi di paru dan status pulmoner
2. Nilai analisa gas darah: untuk mengetahui status kardiopulmoner yang berhubungan dengan oksigenasi
3. Hitung darah lengkap dan hitung jenis: digunakan untuk menetapkan adanya anemia, infeksi dan proses inflamasi
4. Pewarnaan gram: untuk seleksi awal anti mikroba
5. Tes kulit untuk tuberkulin: untuk mengesampingkan kemungkinan terjadi tuberkulosis jika anak tidak berespon terhadap pengobatan
6. jumlah lekosit: terjadi lekositosis pada pneumonia bakterial
7. Tes fungsi paru: digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas dan beratnya penyakit dan membantu memperbaiki keadaan.
8. Spirometri statik digunakan untuk mengkaji jumlah udara yang diinspirasi
9. Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agen penyebab seperti
virus
F.Penatalaksanaan medis
Pengobatan supportive bila virus pneumonia
Bila kondisi berat harus dirawat
Berikan oksigen, fisiotherapi dada dan cairan intravena
Antibiotik sesuai dengan program
Pemeriksaan sensitivitas untuk pemberian antibiotik
G.Penatalaksanaan perawatan
1. Pengkajian
-Kaji status pernafasan
-Kaji tanda- tanda distress pernafasan
-Kaji adanya demam, tachicardia, malaise, anoreksia, kegeisahan
2. Diagnosa keperawatan
1.Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret di jalan nafas
2.Gangguan petukaran gas berhubungan dengan meningkatnya sekresi dan akumulasi exudat
3.Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam, menurunnya intake dan tachipnea
4.Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan invasif pemasangan infus
5.Risiko tinggi terjadi kerussakan integritas kulit berhubungan dengan bed rest total
6.Risiko tinggi terjadi cedera berhubungandengan kejang
3. Perencanaan
1.Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret di jalan nafas
Tujuan: setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam jalan nafas menjadi bersih
Kriteria:
-Suara nafas bersih tidak ada ronkhi atau rales, wheezing
-Sekret di jalan nafas bersih
-Cuping hidung tidak ada
-Tidak ada sianosis
Intervensi:
-Kaji status pernafasan tiap 2 jam meliputi respiratory rate, penggunaan otot bantu nafas, warna kulit
-Lakukan suction jika terdapat sekret di jalan nafas
-Posisikan kepala lebih tinggi
-Lakukan postural drainage
-Kolaborasi dengan fisiotherapist untuk melaakukan fisiotherapi dada
-Jaga humidifasi oksigen yang masuk
-Gunakan tehnik aseptik dalam penghisapan lendir
2.Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya penumpukan cairan di alveoli paru
Tujuan: setelah dilaksakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pertukaran gas dalam alveoli adekuat.
Kriteria:
-Akral hangat
-Tidak ada tanda sianosis
-Tidak ada hipoksia jaringan
-Saturasi oksigen perifer 90%
Intervensi:
-Pertahankan kepatenan jalan nafas
-Keluarkan lendir jika ada dalam jalan nafas
-Periksa kelancaran aliran oksigen 5-6 liter per menit
-Konsul dokter jaga jika ada tanda hipoksia/ sianosis
-Awasi tingkat kesadaran klien
3.Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam, menurunnya intake dan tachipnea
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi kekurangan volume cairan.
Kriteria hasil:
-Tidak ada tanda dehidrasi
-Suhu tubuh normal 36,5-37 0C
-Kelopak mata tidak cekung
-Turgor kulit baik
-Akral hangat
Intervensi:
-Kaji adanya tanda dehidrasi
-Jaga kelancaran aliran infus
-Periksa adanya tromboplebitis
-Pantau tanda vital tiap 6 jam
-Lakukan kompres dingin jika terdapat hipertermia suhu diatas 38 C
-Pantau balance cairan
-Berikan nutrisi sesuai diit
-Awasi turgor kulit
4.Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan invasif pemasangan infus
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi infeksi akibat pemasangan infus.
Kriteria hasil:
-Aliran infus lancar
-Tidak ada tanda infeksi pada tempat pemasangan infus
-Suhu tubuh dalam batas normal
-Tidak ada tromboplebitis
Intervensi:
-Awasi adanya tanda- tanda infeksi pada tempat pemasangan infus
-Jaga kelancaran aliran infus
-Jaga kenbersihan tempat pemasangan infus
-Jaga tempat pemasangan infus tetap kering
-Tutup tempat pemasangan infus dengankasa betadin
-Ganti lokasi pemasangan infus tiap 3 x 24 jam
5.Risiko tinggi terjadi kerussakan integritas kulit berhubungan dengan bed rest total
Tujuan: seletah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Kriteria hasil:
-Tidak terdapat luka dekubitus pda lokasi yang tertekan
-Warna kulit daerah tertekan tidak hipoksia, kemerahan
Intervensi:
-Lakukan massage pada kulit tertekan
-Monitor adanya luka dekubitus
-Jaga kulit tetap kering
-Berikan kamfer spiritus pada punggung dan daerah tertekan
-Jaga kebersihan dan kekencangan linen
6.Risiko tinggi terjadi cedera berhubungandengan kejang
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak terjadi injuri akibat kejang
Kriteria hasil:
-Tidak ada injuri pada bagian tubuh jika terjadi kejang
-Orang tua selalu mengawasi disamping anaknya
-Orang tua melapor jika terjadi kejang
-Tempat tidur terpasang pengaman
Intervensi:
-Pasang pengaman di sisi tempat tidur
-Anjurkan orang tua untuk melapor jika terjadi kejang
-Siapkan sudip lidah/ pasang pada mulut pasien
-Kolaborasi berikan anti kejang luminal dan diazepam
-Berikan obat sesuai program
-Awasi adanya kejang tiap 15 menit sekali
Daftar pustaka
1.Suriadi, Yuliani. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: CV Sagung Seto;2001
2.Staf Pengajar FKUI. Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah 3. Jakarta:
3.Infomedika;2000
4.Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC; 1997
5.Betz & Sowden. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Jakarta: EGC;2002
6.Wong and Whaley. ( 1995 ). Clinical Manual of Pediatric Nursing. Philadelphia:
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ASTHMA BRONCHIAL
Definisi
Asthma disebut juga sebagai reactive air way disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara riversibel yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi dan peningkatan sekresi jalan napas terhadap berbagai stimulan.
Patofisiologi
Astma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.
Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh muncul ( immunoglobulin E atau IgE ) dengan adanya alergi. IgE di muculkan pada reseptor sel mast dan akibat ikatan IgE dan antigen menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma.
Respon astma terjadi dalam tiga tahap : pertama tahap immediate yang ditandai dengan bronkokontriksi ( 1-2 jam ); tahap delayed dimana brokokontriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih lama ; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan.
Astma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan, kecemasan, dan udara dingin.
Selama serangan asthmatik, bronkiulus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mukus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat menimbulkan distres pernafasan
Anak yang mengalami astma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada jalan nafas.Dan ini menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas.Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi 02, sehingga terjadi penurunan p02 ( hipoxia).Selama serangan astmati, CO2 terthan dengan meningkatnya resistensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernafasan (tachypnea), kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah (hypocapnea).
Alergen, Infeksi, Exercise ( Stimulus Imunologik dan Non Imunologik )
Merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel T helper
IgE diikat oleh sel mastosit melalui reseptor FC yang ada di jalan napas
Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit
Akibat ikatan antigen-IgE, mastosit mengalami degranulasi dan melepaskan mediator radang ( histamin )
Peningkatan permeabilitas kapiler ( edema bronkus )
Peningkatan produksi mukus ( sumbatan sekret )
Kontraksi otot polos secara langsung atau melalui persarafan simpatis ( N.X )
Hiperresponsif jalan napas
Astma
Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, edema mukosa dan meningkatnya produksi sekret.
Fatigue berhubungan dengan hypoxia meningkatnya usaha nafas.
Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernafasan
Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan
Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan
Komplikasi
Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
Chronik persistent bronchitis
Bronchiolitis
Pneumonia
Emphysema.
Etiologi
Faktor ekstrinsik :reaksi antigen- antibodi; karena inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang).
Faktor intrinsik; infeksi : para influenza virus, pneumonia,Mycoplasma..Kemudian dari fisik; cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan; kimia.Polusi udara ( CO, asap rokok, parfum ). Emosional; takut, cemas, dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.
Manifestasi klinis
Auskultasi :Wheezing, ronki kering musikal, ronki basah sedang.
Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung, retraksi dada,dan stridor.
Batuk kering ( tidak produktif ) karena sekret kental dan lumen jalan nafas sempit.
Tachypnea, orthopnea.
Diaphoresis
Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan.
Fatigue.
Tidak toleransi terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara.
Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran.
Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) akibat ekshalasi yang sulit karena udem bronkus sehingga kalau diperkusi hipersonor.
Serangan yang tiba-tiba atau berangsur.
Bila serangan hebat : gelisah, berduduk, berkeringat, mungkin sianosis.
X foto dada : atelektasis tersebar, “Hyperserated”
Pemeriksaan Diagnostik
Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
Foto rontgen
Pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum
Pemeriksaan alergi
Pulse oximetri
Analisa gas darah.
Penatalaksanaan serangan asma akut :
Oksigen nasal atau masker dan terapi cairan parenteral.
Adrenalin 0,1- 0,2 ml larutan : 1 : 1000, subkutan. Bila perlu dapat diulang setiap 20 menit sampai 3 kali.
Dilanjutkan atau disertai salah satu obat tersebut di bawah ini ( per oral ) :
a.Golongan Beta 2- agonist untuk mengurangi bronkospasme :
Efedrin : 0,5 – 1 mg/kg/dosis, 3 kali/ 24 jam
Salbutamol : 0,1-0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Terbutalin : 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/ 24 jam
Efeknya tachycardia, palpitasi, pusing, kepala, mual, disritmia, tremor, hipertensi dan insomnia, . Intervensi keperawatan jelaskan pada orang tua tentang efek samping obat dan monitor efek samping obat.
b.Golongan Bronkodilator, untuk dilatasi bronkus, mengurangi bronkospasme dan meningkatkan bersihan jalan nafas.
Aminofilin : 4 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Teofilin : 3 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Pemberian melalui intravena jangan lebih dari 25 mg per menit.Efek samping tachycardia, dysrhytmia, palpitasi, iritasi gastrointistinal,rangsangan sistem saraf pusat;gejala toxic;sering muntah,haus, demam ringan, palpitasi, tinnitis, dan kejang. Intervensi keperawatan; atur aliran infus secara ketat, gunakan alat infus kusus misalnya infus pump.
c.Golongan steroid, untuk mengurangi pembengkakan mukosa bronkus. Prednison : 0,5 – 2 mg/kg/hari, untuk 3 hari (pada serangan hebat).
ASUHAN KEPERAWATAN
1PENGKAJIAN
1.1Identitas
Pada asma episodik yang jarang, biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun.Biasanya oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada asma episodik yang sering terjadi, biasanya pada umur sebelum 3 tahun, dan berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas.Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan cuaca, adanya alergen, aktivitas fisik dan stres.Pada asma tipe ini frekwensi serangan paling sering pada umur 8-13 tahun. Asma kronik atau persisten terjadi 75% pada umur sebeluim 3 tahun.Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadi obstruksi saluran pernapasan yang persisten dan hampir terdapat mengi setiap hari.Untuk jenis kelamin tidak ada perbedaan yang jelas antara anak perempuan dan laki-laki.
1.2Keluhan utama
Batuk-batuk dan sesak napas.
1.3Riwayat penyakit sekarang
Batuk, bersin, pilek, suara mengi dan sesak napas.
1.4Riwayat penyakit terdahulu
Anak pernah menderita penyakit yang sama pada usia sebelumnya.
1.5Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu, disamping faktor yang lain.
1.6Riwayat kesehatan lingkungan
Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau, serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat di rumah, bahan iritan: minyak wangi, obat semprot nyamuk dan asap rokok dari orang dewasa.Perubahan suhu udara, angin dan kelembaban udara dapat dihubungkan dengan percepatan terjadinya serangan asma.
1.7Riwayat tumbuh kembang
1.7.1 Tahap pertumbuhan
Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.
1.7.2Tahap perkembangan.
Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya )
Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan magical thinking.
Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.
Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak protes.
Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.
1.8Riwayat imunisasi
Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.
1.9Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.
Status Gizi
Klasifikasinya sebagai berikut :
Gizi buruk kurang dari 60%
Gizi kurang 60 % - <80 %
Gizi baik 80 % - 110 %
Obesitas lebih dari 120 %
1.10Dampak Hospitalisasi
Sumber stressor :
1.Perpisahan
a.Protes : pergi, menendang, menangis
b.Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi
c.Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi
2.Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut.
3.Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit.
4.Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan.
1.11Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem
1.11.1Sistem Pernapasan / Respirasi
Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea, orthopnea, barrel chest, penggunaan otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO2 dan penurunan O2,sianosis, perkusi hipersonor, pada auskultasi terdengar wheezing, ronchi basah sedang, ronchi kering musikal.
1.11.2 Sistem Cardiovaskuler
Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan.
1.11.3 Sistem Persyarafan / neurologi
Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran : gelisah, rewel, cengeng → apatis → sopor → coma.
1.11.4 Sistem perkemihan
Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat sesak nafas.
1.11.5 Sistem Pencernaan / Gastrointestinal
Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi terhadap makan dan minum, mukosa mulut kering.
1.11.6 Sistem integumen
Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas.
2DIAGNOSA KEPERAWATAN, TUJUAN, KRITERIA HASIL, RENCANA INTERVENSI
1.Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, udem mukosal dan meningkatnya sekret.
Tujuan : Anak menunjukkan pertukaran gas yang normal, bersihan jalan nafas yang efektif dan pola nafas dalam batas normal.
Kriteria hasil : PO2 dan CO2 dalam batas nilai normal, tidak sesak nafas, batuk produktif, cianosis tdak ada, tidak ada tachypnea,ronki dan wheesing tidak ada
Intervensi :
•Pertahankan kepatenan jalan nafas; pertahankan support ventilasi bila diperlukan ( oksigen 2 ml dengan kanule ).
•Kaji fungsi pernafasan; auskultasi bunyi nafas, kaji kulit setiap 15 menit sampai 4 jam.
•Berikan oksigen sesuai program dan pantau pulse oximetry.
•Kaji kenyamanan posisi tidur anak.
•Monitor efek samping pengobatan; monitor serum darah;theophyline dan catat kemudian laporkan dokter. Normalnya 10-20 ug/ml pada semua usia.
•Berikan cairan yang adekuat per oral atau peranteral
•Pemberian terapi pernafasan; nebulizer, fisioterapi dada, ajarkan batuk dan nafas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan sekret ( suction ).
•Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk menurunkan kecemasan.
•Berikan terapi bermai sesuai usia.
2.Fatigue berhubungan dengan hipoksia dan meningkatnya usaha nafas.
Tujuan : Anak tidak tampak fatigue.
Kriteria : Tidak iritabel, dapat beradaptasi dan aktivitas sesuai dengan kondisi.
Intervensi :
•Kaji tanda dan gejala hypoxia; kegelisahann fatigue, iritabel, tachycardia, tachypnea.
•Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup.
•Intrusikan pada orang tua untuk tetap berada didekat anak.
•Berikan kenyamanan fisik; support dengan bantal dan pengaturan posisi.
•Berikan oksigen humidifikasi sesuai program.
•Berikan nebulizer; kemudian pantau bunyi nafas, dan usaha nafas setelah terapi.
•Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan untuk meningkatkan ventilasi,dan memperluas perkembangan psikososial.
3.Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distres pernafasan.
Tujuan : Kecemasan menurun
Kriteria : Anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya, orang tua merasa tenang dan berpartisipasi dalam perawatan anak.
•Ajarkan teknik relaksasi; latihan nafas, melibatkan penggunaan bibir dan perut, dan ajarkan untuk berimajinasi.
•Pertahankan lingkungan yang tenang ; temani anak, dan berikan support.
•Ajarkan untuk ekspresi perasaan secara verbal
•Berikan terapi bermain sesuai dengan kondisi.
•Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak.
•Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan.
4.Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan.
Goal : Status hidrasi adekuat
Kriteria : Turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan, output urine > 2 ml/ kg per jam.
•Monitor intake dan output, mukosa membran, turgor kulit, pengeluaran urin, ukur grapitasi urin atau berat jenis urin ( nilai 1.003-1030 ).
•Monitor elektrolit
•Kaji warna sputum, konsistensi dan jumlah
•Pertahankan terapi parenteral bila indikasi, dan monitor kelebihan caiaran ( overload )
•Berikan intake cairan per oral bila toleran, hati-hati minuman yang dapat meningkatkan bronkospasme ( air dingin ).
•Setelah fase akut, ajarkan anak dan orang tua untuk minum 3-8 gelas (750-2000 ml), tergantung usia dan berat badan.
5.Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik.
Goal : Orang tua mendemonstrasikan koping yang tepat
Kriteria : Mengekspresikan perasaan dan perhatian serta memberikan aktivitas yang sesuai usia atau kondisi dan perkembangan psikososial pada anak.
•Berikan kesempatan pada orang tua untuk ekspresi perasaan.
•Kaji mekanisme koping sebelumnya pada waktu stress
•Jelaskan prosedur dan pengobatan yang diberikan
•Informasikan kepada orang tua tentang kondisi anak
•Identifikasi sumber-sumber psikososial keluarga dan finansial
6.Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan.
Goal : Orang tua secara verbal memahami proses penyakit dan pengobatan dan mengikuti regimen terapi yang diberikan.
Kriteria : Berpartispasi dalam memberikan perawatan pada anak sesuai dengan program medik atau perawatan, misalnya memberikan makan dan minum yang cukup, memberi minum obat oral pada anak sesuai program.
•Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit, pengobatan dan intervensi.
•Bantu untuk mengidentifikasi faktor pencetus.
•Jelaskan tentang emosi dan stres yang dapat menjadi faktor pencetus.
•Jelaskan tentang pentingnya pengobatan; dosis, efek samping, waktu pemberian dan pemeriksaan darah.
•Informasikan tanda dan gejala yang harus dilaporkan dan kontrol ulang.
•Informasikan pentingnya program aktivitas dan latihan nafas.
•Jelaskan tentang pentingnya terapi bermain sesuai usia.
Perencanaan Pemulangan
Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar-gambar atau phantom.
Fokuskan pada perawatan mandiri di rumah.
Hindari faktor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu-debu, karpet, bulu binatang dan lainnya.
Jelaskan tanda-tanda bahaya akan muncul.
Ajarkan penggunaan nebulizer.
Keluarga perlu memahami tentang pengobatan; nama obat, dosis, efek samping, waktu pemberian.
Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress.
Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas.
Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat.
DAFTAR PUSTAKA
Panitia Media Farmasi dan Terapi. (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya
Soetjningsih. (1998). Tumbuh kembang anak . Cetakan kedua. EGC. Jakarta
Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Percetakan Infomedika Jakarta.
Suriadi dan Yuliana R.(2001) Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 1 Penerbit CV Sagung Seto Jakarta.
Asthma disebut juga sebagai reactive air way disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara riversibel yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi dan peningkatan sekresi jalan napas terhadap berbagai stimulan.
Patofisiologi
Astma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.
Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh muncul ( immunoglobulin E atau IgE ) dengan adanya alergi. IgE di muculkan pada reseptor sel mast dan akibat ikatan IgE dan antigen menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma.
Respon astma terjadi dalam tiga tahap : pertama tahap immediate yang ditandai dengan bronkokontriksi ( 1-2 jam ); tahap delayed dimana brokokontriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih lama ; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan.
Astma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan, kecemasan, dan udara dingin.
Selama serangan asthmatik, bronkiulus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mukus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat menimbulkan distres pernafasan
Anak yang mengalami astma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada jalan nafas.Dan ini menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas.Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi 02, sehingga terjadi penurunan p02 ( hipoxia).Selama serangan astmati, CO2 terthan dengan meningkatnya resistensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernafasan (tachypnea), kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah (hypocapnea).
Alergen, Infeksi, Exercise ( Stimulus Imunologik dan Non Imunologik )
Merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel T helper
IgE diikat oleh sel mastosit melalui reseptor FC yang ada di jalan napas
Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit
Akibat ikatan antigen-IgE, mastosit mengalami degranulasi dan melepaskan mediator radang ( histamin )
Peningkatan permeabilitas kapiler ( edema bronkus )
Peningkatan produksi mukus ( sumbatan sekret )
Kontraksi otot polos secara langsung atau melalui persarafan simpatis ( N.X )
Hiperresponsif jalan napas
Astma
Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, edema mukosa dan meningkatnya produksi sekret.
Fatigue berhubungan dengan hypoxia meningkatnya usaha nafas.
Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernafasan
Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan
Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan
Komplikasi
Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
Chronik persistent bronchitis
Bronchiolitis
Pneumonia
Emphysema.
Etiologi
Faktor ekstrinsik :reaksi antigen- antibodi; karena inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang).
Faktor intrinsik; infeksi : para influenza virus, pneumonia,Mycoplasma..Kemudian dari fisik; cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan; kimia.Polusi udara ( CO, asap rokok, parfum ). Emosional; takut, cemas, dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.
Manifestasi klinis
Auskultasi :Wheezing, ronki kering musikal, ronki basah sedang.
Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung, retraksi dada,dan stridor.
Batuk kering ( tidak produktif ) karena sekret kental dan lumen jalan nafas sempit.
Tachypnea, orthopnea.
Diaphoresis
Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan.
Fatigue.
Tidak toleransi terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara.
Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran.
Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) akibat ekshalasi yang sulit karena udem bronkus sehingga kalau diperkusi hipersonor.
Serangan yang tiba-tiba atau berangsur.
Bila serangan hebat : gelisah, berduduk, berkeringat, mungkin sianosis.
X foto dada : atelektasis tersebar, “Hyperserated”
Pemeriksaan Diagnostik
Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
Foto rontgen
Pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum
Pemeriksaan alergi
Pulse oximetri
Analisa gas darah.
Penatalaksanaan serangan asma akut :
Oksigen nasal atau masker dan terapi cairan parenteral.
Adrenalin 0,1- 0,2 ml larutan : 1 : 1000, subkutan. Bila perlu dapat diulang setiap 20 menit sampai 3 kali.
Dilanjutkan atau disertai salah satu obat tersebut di bawah ini ( per oral ) :
a.Golongan Beta 2- agonist untuk mengurangi bronkospasme :
Efedrin : 0,5 – 1 mg/kg/dosis, 3 kali/ 24 jam
Salbutamol : 0,1-0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Terbutalin : 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/ 24 jam
Efeknya tachycardia, palpitasi, pusing, kepala, mual, disritmia, tremor, hipertensi dan insomnia, . Intervensi keperawatan jelaskan pada orang tua tentang efek samping obat dan monitor efek samping obat.
b.Golongan Bronkodilator, untuk dilatasi bronkus, mengurangi bronkospasme dan meningkatkan bersihan jalan nafas.
Aminofilin : 4 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Teofilin : 3 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Pemberian melalui intravena jangan lebih dari 25 mg per menit.Efek samping tachycardia, dysrhytmia, palpitasi, iritasi gastrointistinal,rangsangan sistem saraf pusat;gejala toxic;sering muntah,haus, demam ringan, palpitasi, tinnitis, dan kejang. Intervensi keperawatan; atur aliran infus secara ketat, gunakan alat infus kusus misalnya infus pump.
c.Golongan steroid, untuk mengurangi pembengkakan mukosa bronkus. Prednison : 0,5 – 2 mg/kg/hari, untuk 3 hari (pada serangan hebat).
ASUHAN KEPERAWATAN
1PENGKAJIAN
1.1Identitas
Pada asma episodik yang jarang, biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun.Biasanya oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada asma episodik yang sering terjadi, biasanya pada umur sebelum 3 tahun, dan berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas.Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan cuaca, adanya alergen, aktivitas fisik dan stres.Pada asma tipe ini frekwensi serangan paling sering pada umur 8-13 tahun. Asma kronik atau persisten terjadi 75% pada umur sebeluim 3 tahun.Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadi obstruksi saluran pernapasan yang persisten dan hampir terdapat mengi setiap hari.Untuk jenis kelamin tidak ada perbedaan yang jelas antara anak perempuan dan laki-laki.
1.2Keluhan utama
Batuk-batuk dan sesak napas.
1.3Riwayat penyakit sekarang
Batuk, bersin, pilek, suara mengi dan sesak napas.
1.4Riwayat penyakit terdahulu
Anak pernah menderita penyakit yang sama pada usia sebelumnya.
1.5Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu, disamping faktor yang lain.
1.6Riwayat kesehatan lingkungan
Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau, serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat di rumah, bahan iritan: minyak wangi, obat semprot nyamuk dan asap rokok dari orang dewasa.Perubahan suhu udara, angin dan kelembaban udara dapat dihubungkan dengan percepatan terjadinya serangan asma.
1.7Riwayat tumbuh kembang
1.7.1 Tahap pertumbuhan
Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.
1.7.2Tahap perkembangan.
Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya )
Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan magical thinking.
Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.
Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak protes.
Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.
1.8Riwayat imunisasi
Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.
1.9Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.
Status Gizi
Klasifikasinya sebagai berikut :
Gizi buruk kurang dari 60%
Gizi kurang 60 % - <80 %
Gizi baik 80 % - 110 %
Obesitas lebih dari 120 %
1.10Dampak Hospitalisasi
Sumber stressor :
1.Perpisahan
a.Protes : pergi, menendang, menangis
b.Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi
c.Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi
2.Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut.
3.Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit.
4.Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan.
1.11Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem
1.11.1Sistem Pernapasan / Respirasi
Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea, orthopnea, barrel chest, penggunaan otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO2 dan penurunan O2,sianosis, perkusi hipersonor, pada auskultasi terdengar wheezing, ronchi basah sedang, ronchi kering musikal.
1.11.2 Sistem Cardiovaskuler
Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan.
1.11.3 Sistem Persyarafan / neurologi
Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran : gelisah, rewel, cengeng → apatis → sopor → coma.
1.11.4 Sistem perkemihan
Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat sesak nafas.
1.11.5 Sistem Pencernaan / Gastrointestinal
Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi terhadap makan dan minum, mukosa mulut kering.
1.11.6 Sistem integumen
Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas.
2DIAGNOSA KEPERAWATAN, TUJUAN, KRITERIA HASIL, RENCANA INTERVENSI
1.Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, udem mukosal dan meningkatnya sekret.
Tujuan : Anak menunjukkan pertukaran gas yang normal, bersihan jalan nafas yang efektif dan pola nafas dalam batas normal.
Kriteria hasil : PO2 dan CO2 dalam batas nilai normal, tidak sesak nafas, batuk produktif, cianosis tdak ada, tidak ada tachypnea,ronki dan wheesing tidak ada
Intervensi :
•Pertahankan kepatenan jalan nafas; pertahankan support ventilasi bila diperlukan ( oksigen 2 ml dengan kanule ).
•Kaji fungsi pernafasan; auskultasi bunyi nafas, kaji kulit setiap 15 menit sampai 4 jam.
•Berikan oksigen sesuai program dan pantau pulse oximetry.
•Kaji kenyamanan posisi tidur anak.
•Monitor efek samping pengobatan; monitor serum darah;theophyline dan catat kemudian laporkan dokter. Normalnya 10-20 ug/ml pada semua usia.
•Berikan cairan yang adekuat per oral atau peranteral
•Pemberian terapi pernafasan; nebulizer, fisioterapi dada, ajarkan batuk dan nafas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan sekret ( suction ).
•Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk menurunkan kecemasan.
•Berikan terapi bermai sesuai usia.
2.Fatigue berhubungan dengan hipoksia dan meningkatnya usaha nafas.
Tujuan : Anak tidak tampak fatigue.
Kriteria : Tidak iritabel, dapat beradaptasi dan aktivitas sesuai dengan kondisi.
Intervensi :
•Kaji tanda dan gejala hypoxia; kegelisahann fatigue, iritabel, tachycardia, tachypnea.
•Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup.
•Intrusikan pada orang tua untuk tetap berada didekat anak.
•Berikan kenyamanan fisik; support dengan bantal dan pengaturan posisi.
•Berikan oksigen humidifikasi sesuai program.
•Berikan nebulizer; kemudian pantau bunyi nafas, dan usaha nafas setelah terapi.
•Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan untuk meningkatkan ventilasi,dan memperluas perkembangan psikososial.
3.Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distres pernafasan.
Tujuan : Kecemasan menurun
Kriteria : Anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya, orang tua merasa tenang dan berpartisipasi dalam perawatan anak.
•Ajarkan teknik relaksasi; latihan nafas, melibatkan penggunaan bibir dan perut, dan ajarkan untuk berimajinasi.
•Pertahankan lingkungan yang tenang ; temani anak, dan berikan support.
•Ajarkan untuk ekspresi perasaan secara verbal
•Berikan terapi bermain sesuai dengan kondisi.
•Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak.
•Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan.
4.Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan.
Goal : Status hidrasi adekuat
Kriteria : Turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan, output urine > 2 ml/ kg per jam.
•Monitor intake dan output, mukosa membran, turgor kulit, pengeluaran urin, ukur grapitasi urin atau berat jenis urin ( nilai 1.003-1030 ).
•Monitor elektrolit
•Kaji warna sputum, konsistensi dan jumlah
•Pertahankan terapi parenteral bila indikasi, dan monitor kelebihan caiaran ( overload )
•Berikan intake cairan per oral bila toleran, hati-hati minuman yang dapat meningkatkan bronkospasme ( air dingin ).
•Setelah fase akut, ajarkan anak dan orang tua untuk minum 3-8 gelas (750-2000 ml), tergantung usia dan berat badan.
5.Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik.
Goal : Orang tua mendemonstrasikan koping yang tepat
Kriteria : Mengekspresikan perasaan dan perhatian serta memberikan aktivitas yang sesuai usia atau kondisi dan perkembangan psikososial pada anak.
•Berikan kesempatan pada orang tua untuk ekspresi perasaan.
•Kaji mekanisme koping sebelumnya pada waktu stress
•Jelaskan prosedur dan pengobatan yang diberikan
•Informasikan kepada orang tua tentang kondisi anak
•Identifikasi sumber-sumber psikososial keluarga dan finansial
6.Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan.
Goal : Orang tua secara verbal memahami proses penyakit dan pengobatan dan mengikuti regimen terapi yang diberikan.
Kriteria : Berpartispasi dalam memberikan perawatan pada anak sesuai dengan program medik atau perawatan, misalnya memberikan makan dan minum yang cukup, memberi minum obat oral pada anak sesuai program.
•Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit, pengobatan dan intervensi.
•Bantu untuk mengidentifikasi faktor pencetus.
•Jelaskan tentang emosi dan stres yang dapat menjadi faktor pencetus.
•Jelaskan tentang pentingnya pengobatan; dosis, efek samping, waktu pemberian dan pemeriksaan darah.
•Informasikan tanda dan gejala yang harus dilaporkan dan kontrol ulang.
•Informasikan pentingnya program aktivitas dan latihan nafas.
•Jelaskan tentang pentingnya terapi bermain sesuai usia.
Perencanaan Pemulangan
Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar-gambar atau phantom.
Fokuskan pada perawatan mandiri di rumah.
Hindari faktor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu-debu, karpet, bulu binatang dan lainnya.
Jelaskan tanda-tanda bahaya akan muncul.
Ajarkan penggunaan nebulizer.
Keluarga perlu memahami tentang pengobatan; nama obat, dosis, efek samping, waktu pemberian.
Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress.
Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas.
Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat.
DAFTAR PUSTAKA
Panitia Media Farmasi dan Terapi. (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya
Soetjningsih. (1998). Tumbuh kembang anak . Cetakan kedua. EGC. Jakarta
Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Percetakan Infomedika Jakarta.
Suriadi dan Yuliana R.(2001) Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 1 Penerbit CV Sagung Seto Jakarta.
ASHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN ANEMIA
A.PENGERTIAN
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah.
B.PENYEBAB ANEMIA
Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan, kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya. Penyebab anemia antara lain sebagai berikut:
1.Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun:cacingan.
2.Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang bertambah.
3.Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. Karena faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie,dll. Sedang factor ekstrasel: intoksikasi, infeksi –malaria, reaksi hemolitik transfusi darah.
4.Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).
C.TANDA DAN GEJALA
1.Tanda-tanda umum anemia:
a.pucat,
b.tacicardi,
c.bising sistolik anorganik,
d.bising karotis,
e.pembesaran jantung.
2.Manifestasi khusus pada anemia:
a.Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi bakteri, demam, anemis, pucat, lelah, takikardi.
b.Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb < 8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik, letargi, tidur meningkat, kehilangan minat bermain atau aktivitas bermain. Anak tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, anak tak tampak sakit, tampak pucat pada mukosa bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak membesar dan terdengar bising sistolik yang fungsional.
c.Anemia aplastik : ikterus, hepatosplenomegali.
D.PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.Kadar Hb.
Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal: 32-37%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah, iron binding capacity meningkat.
2.Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing tipe anemia :
a.Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis
b.Anemia hemolitik : retikulosit meninggi, bilirubin indirek dan total naik, urobilinuria.
c.Anemia aplastik : trombositopeni, granulositopeni, pansitopenia, sel patologik darah tepi ditemukan pada anemia aplastik karena keganasan.
F.PENATALAKSANAAN
a.Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa saja.
b.Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari. Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl.
c.Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan infeksi sekunder, makanan dan istirahat.
G.MASALAH KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
1.Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komparten seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen / zat nutrisi ke sel.
2.Tidak toleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen.
3.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya selera makan.
H.TINDAKAN KEPERAWATAN
1.Perfusi jaringan adekuat
-Memonitor tanda tanda vital, pengisian kapiler, wama kulit, membran mukosa.
-Meninggikan posisi kepala di tempat tidur
-Memeriksa dan mendokumentasikan adanya rasa nyeri.
-Observasi adanya keterlambatan respon verbal, kebingungan, atau gelisah
-Mengobservasi dan mendokumentasikan adanya rasa dingin.
-Mempertahankan suhu lingkungan agar tetap hangat sesuai kebu-tuhan tubuh.
-Memberikan oksigen sesuai kebutuhan.
2.Mendukung anak tetap toleran terhadap aktivitas
-Menilai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan anak.
-Memonitor tanda tanda vital selama dan setelah melakukan aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas (peningkatan denyut jantung peningkatan tekanan darah, atau nafas cepat).
-Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga untuk berhenti melakukan aktivitas jika teladi gejala gejala peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, pusing atau kelelahan).
-Berikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan sehari¬ hari sesuai dengan kemampuan anak.
-Mengajarkan kepada orang tua teknik memberikan reinforcement terhadap partisipasi anak di rumah.
-Membuat jadual aktivitas bersama anak dan keluarga dengan melibatkan tim kesehatan lain.
-Menjelaskan dan memberikan rekomendasi kepada sekolah tentang kemampuan anak dalam melakukan aktivitas, memonitor kemam-puan melakukan aktivitas secara berkala dan menjelaskan kepada orang tua dan sekolah.
3.Memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat
-Mengijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
-Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi.
-Mengijinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
-Mengevaluasi berat badan anak setiap hari.
DAFTAR PUSTAKA
1.Betz, Sowden. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. Jakarta, EGC.
2.Suriadi, Yuliani R. (2001). Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi I. Jakarta, CV Sagung Seto.
3.Tucker SM. (1997). Standar Perawatan Pasien. Edisi V. Jakarta, EGC.
4.Smeltzer, Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta, EGC.
5.FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Volume 1. Jakarta, FKUI.
6.Harlatt, Petit. (1997). Kapita Selekta Hematologi. Edisi 2. Jakarta, EGC.
7.ACS. (2003). What is Anemia ?. Available (online) http: // www // yahoo / nurse / leucemia / htm.
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah.
B.PENYEBAB ANEMIA
Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan, kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya. Penyebab anemia antara lain sebagai berikut:
1.Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun:cacingan.
2.Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang bertambah.
3.Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. Karena faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie,dll. Sedang factor ekstrasel: intoksikasi, infeksi –malaria, reaksi hemolitik transfusi darah.
4.Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).
C.TANDA DAN GEJALA
1.Tanda-tanda umum anemia:
a.pucat,
b.tacicardi,
c.bising sistolik anorganik,
d.bising karotis,
e.pembesaran jantung.
2.Manifestasi khusus pada anemia:
a.Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi bakteri, demam, anemis, pucat, lelah, takikardi.
b.Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb < 8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik, letargi, tidur meningkat, kehilangan minat bermain atau aktivitas bermain. Anak tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, anak tak tampak sakit, tampak pucat pada mukosa bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak membesar dan terdengar bising sistolik yang fungsional.
c.Anemia aplastik : ikterus, hepatosplenomegali.
D.PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.Kadar Hb.
Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal: 32-37%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah, iron binding capacity meningkat.
2.Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing tipe anemia :
a.Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis
b.Anemia hemolitik : retikulosit meninggi, bilirubin indirek dan total naik, urobilinuria.
c.Anemia aplastik : trombositopeni, granulositopeni, pansitopenia, sel patologik darah tepi ditemukan pada anemia aplastik karena keganasan.
F.PENATALAKSANAAN
a.Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa saja.
b.Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari. Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl.
c.Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan infeksi sekunder, makanan dan istirahat.
G.MASALAH KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
1.Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komparten seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen / zat nutrisi ke sel.
2.Tidak toleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen.
3.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya selera makan.
H.TINDAKAN KEPERAWATAN
1.Perfusi jaringan adekuat
-Memonitor tanda tanda vital, pengisian kapiler, wama kulit, membran mukosa.
-Meninggikan posisi kepala di tempat tidur
-Memeriksa dan mendokumentasikan adanya rasa nyeri.
-Observasi adanya keterlambatan respon verbal, kebingungan, atau gelisah
-Mengobservasi dan mendokumentasikan adanya rasa dingin.
-Mempertahankan suhu lingkungan agar tetap hangat sesuai kebu-tuhan tubuh.
-Memberikan oksigen sesuai kebutuhan.
2.Mendukung anak tetap toleran terhadap aktivitas
-Menilai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan anak.
-Memonitor tanda tanda vital selama dan setelah melakukan aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas (peningkatan denyut jantung peningkatan tekanan darah, atau nafas cepat).
-Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga untuk berhenti melakukan aktivitas jika teladi gejala gejala peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, pusing atau kelelahan).
-Berikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan sehari¬ hari sesuai dengan kemampuan anak.
-Mengajarkan kepada orang tua teknik memberikan reinforcement terhadap partisipasi anak di rumah.
-Membuat jadual aktivitas bersama anak dan keluarga dengan melibatkan tim kesehatan lain.
-Menjelaskan dan memberikan rekomendasi kepada sekolah tentang kemampuan anak dalam melakukan aktivitas, memonitor kemam-puan melakukan aktivitas secara berkala dan menjelaskan kepada orang tua dan sekolah.
3.Memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat
-Mengijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
-Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi.
-Mengijinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
-Mengevaluasi berat badan anak setiap hari.
DAFTAR PUSTAKA
1.Betz, Sowden. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. Jakarta, EGC.
2.Suriadi, Yuliani R. (2001). Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi I. Jakarta, CV Sagung Seto.
3.Tucker SM. (1997). Standar Perawatan Pasien. Edisi V. Jakarta, EGC.
4.Smeltzer, Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta, EGC.
5.FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Volume 1. Jakarta, FKUI.
6.Harlatt, Petit. (1997). Kapita Selekta Hematologi. Edisi 2. Jakarta, EGC.
7.ACS. (2003). What is Anemia ?. Available (online) http: // www // yahoo / nurse / leucemia / htm.
NEFROTIC SINDROME
1.1 Konsep Nefrotik Syndrome (NS)
1. Pengertian.
NS adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbunemia dan hiperkolesterolemia (Rusepno, H, dkk. 2000, 832).
2. Etiologi
Sebab pasti belum jelas. Saat ini dianggap sebagai suatu penyakit autoimun. Secara umum etiologi dibagi menjadi :
a. Nefrotic syndrome bawaan.
Gejala khas adalah edema pada masa neonatus.
b. Nefrotic syndrome sekunder
Penyebabnya adalah malaria, lupus eritematous diseminata, GNA dan GNK, bahan kimia dan amiloidosis.
c. Nefrotic syndrome idiopatik
d. Sklerosis glomerulus.
3. Patofisiologi.
Adanya peningkatan permiabilitas glomerulus mengakibatkan proteinuria masif sehingga terjadi hipoproteinemia. Akibatnya tekanan onkotik plasma menurun karean adanya pergeseran cairan dari intravaskuler ke intestisial.
Volume plasma, curah jantung dan kecepatan filtrasi glomerulus berkurang mengakibatkan retensi natrium. Kadar albumin plasma yang sudah merangsang sintesa protein di hati, disertai peningkatan sintesa lipid, lipoprotein dan trigliserida
4. Gejala klinis.
- Edema, sembab pada kelopak mata
- Rentan terhadap infeksi sekunder
- Hematuria, azotemeia, hipertensi ringan
- Kadang-kadang sesak karena ascites
- Produksi urine berkurang
5. Pemeriksaan Laboratorium
- BJ urine meninggi
- Hipoalbuminemia
- Kadar urine normal
- Anemia defisiensi besi
- LED meninggi
- Kalsium dalam darah sering merendah
- Kadang-kdang glukosuria tanpa hiperglikemia.
6. Penatalaksanaan
- Istirahat sampai edema sedikit
- Protein tinggi 3 – 4 gram/kg BB/hari
- Diuretikum
- Kortikosteroid
- Antibiotika
- Punksi ascites
- Digitalis bila ada gagal jantung.
1.2 Konsep Asuhan Keperawatan pada Nefrotic Syndrome
1. Pengkajian
a. Identitas.
Umumnya 90 % dijumpai pada kasus anak. Enam (6) kasus pertahun setiap 100.000 anak terjadi pada usia kurang dari 14 tahun. Rasio laki-laki dan perempuan yaitu 2 : 1. Pada daerah endemik malaria banyak mengalami komplikasi nefrotic syndrome.
b. Riwayat Kesehatan.
1) Keluhan utama.
Badan bengkak, muka sembab dan napsu makan menurun
2) Riwayat penyakit dahulu.
Edema masa neonatus, malaria, riwayat GNA dan GNK, terpapar bahan kimia.
3) Riwayat penyakit sekarang.
Badan bengkak, muka sembab, muntah, napsu makan menurun, konstipasi, diare, urine menurun.
c. Riwayat kesehatan keluarga.
Karena kelainan gen autosom resesif. Kelainan ini tidak dapat ditangani dengan terapi biasa dan bayi biasanya mati pada tahun pertama atau dua tahun setelah kelahiran.
d. Riwayat kehamilan dan persalinan
Tidak ada hubungan.
e. Riwayat kesehatan lingkungan.
Endemik malaria sering terjadi kasus NS.
f. Imunisasi.
Tidak ada hubungan.
g. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
Berat badan = umur (tahun) X 2 + 8
Tinggi badan = 2 kali tinggi badan lahir.
Perkembangan psikoseksual : anak berada pada fase oedipal/falik dengan ciri meraba-raba dan merasakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya, senang bermain dengan anak berjenis kelamin beda, oedipus kompleks untuk anak laki-laki lebih dekat dengan ibu, elektra kompleks untuk anak perempuan lebih dekat dengan ayah.
Perkembangan psikososial : anak berada pada fase pre school (inisiative vs rasa bersalah) yaitu memiliki inisiatif untuk belajar mencari pengalaman baru. Jika usahanya diomeli atau dicela anak akan merasa bersalah dan menjadi anak peragu.
Perkembangan kognitif : masuk tahap pre operasional yaitu mulai mempresentasekan dunia dengan bahasa, bermain dan meniru, menggunakan alat-alat sederhana.
Perkembangan fisik dan mental : melompat, menari, menggambar orang dengan kepala, lengan dan badan, segiempat, segitiga, menghitung jari-jarinya, menyebut hari dalam seminggu, protes bila dilarang, mengenal empat warna, membedakan besar dan kecil, meniru aktivitas orang dewasa.
Respon hospitalisasi : sedih, perasaan berduka, gangguan tidur, kecemasan, keterbatasan dalam bermain, rewel, gelisah, regresi, perasaan berpisah dari orang tua, teman.
h. Riwayat nutrisi.
Usia pre school nutrisi seperti makanan yang dihidangkan dalam keluarga. Status gizinya adalah dihitung dengan rumus (BB terukur dibagi BB standar) X 100 %, dengan interpretasi : < 60 % (gizi buruk), < 30 % (gizi sedang) dan > 80 % (gizi baik).
i. Pengkajian persistem.
a) Sistem pernapasan.
Frekuensi pernapasan 15 – 32 X/menit, rata-rata 18 X/menit, efusi pleura karena distensi abdomen
b) Sistem kardiovaskuler.
Nadi 70 – 110 X/mnt, tekanan darah 95/65 – 100/60 mmHg, hipertensi ringan bisa dijumpai.
c) Sistem persarafan.
Dalam batas normal.
d) Sistem perkemihan.
Urine/24 jam 600-700 ml, hematuri, proteinuria, oliguri.
e) Sistem pencernaan.
Diare, napsu makan menurun, anoreksia, hepatomegali, nyeri daerah perut, malnutrisi berat, hernia umbilikalis, prolaps anii.
f) Sistem muskuloskeletal.
Dalam batas normal.
g) Sistem integumen.
Edema periorbital, ascites.
h) Sistem endokrin
Dalam batas normal
i) Sistem reproduksi
Dalam batas normal.
j. Persepsi orang tua
Kecemasan orang tua terhadap kondisi anaknya.
2. Diagnosa dan Rencana Keperawatan.
a) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus.
Tujuan volume cairan tubuh akan seimbang dengan kriteria hasil penurunan edema, ascites, kadar protein darah meningkat, output urine adekuat 600 – 700 ml/hari, tekanan darah dan nadi dalam batas normal.
Intervensi Rasional
1. Catat intake dan output secara akurat
2. Kaji dan catat tekanan darah, pembesaran abdomen, BJ urine
3. Timbang berat badan tiap hari dalam skala yang sama
4. Berikan cairan secara hati-hati dan diet rendah garam.
5. Diet protein 1-2 gr/kg BB/hari. Evaluasi harian keberhasilan terapi dan dasar penentuan tindakan
Tekanan darah dan BJ urine dapat menjadi indikator regimen terapi
Estimasi penurunan edema tubuh
Mencegah edema bertambah berat
Pembatasan protein bertujuan untuk meringankan beban kerja hepar dan mencegah bertamabah rusaknya hemdinamik ginjal.
b) Perubahan nutrisi ruang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan.
Tujuan kebutuhan nutrisi akan terpenuhi dengan kriteria hasil napsu makan baik, tidak terjadi hipoprtoeinemia, porsi makan yang dihidangkan dihabiskan, edema dan ascites tidak ada.
Intervensi Rasional
1. Catat intake dan output makanan secara akurat
2. Kaji adanya anoreksia, hipoproteinemia, diare.
3. Pastikan anak mendapat makanan dengan diet yang cukup
Monitoring asupan nutrisi bagi tubuh
Gangguan nuirisi dapat terjadi secara perlahan. Diare sebagai reaksi edema intestinal
Mencegah status nutrisi menjadi lebih buruk
c) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas tubuh yang menurun.
Tujuan tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil tanda-tanda infeksi tidak ada, tanda vital dalam batas normal, ada perubahan perilaku keluarga dalam melakukan perawatan.
Intervensi Rasional
1. Lindungi anak dari orang-orang yang terkena infeksi melalui pembatasan pengunjung.
2. Tempatkan anak di ruangan non infeksi
3. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan.
4. Lakukan tindakan invasif secara aseptik
Meminimalkan masuknya organisme
Mencegah terjadinya infeksi nosokomial
Mencegah terjadinya infeksi nosokomial
Membatasi masuknya bakteri ke dalam tubuh. Deteksi dini adanya infeksi dapat mencegah sepsis.
d)Kecemasan anak berhubungan dengan lingkungan perawatan yang asing (dampak hospitalisasi).
Tujuan kecemasan anak menurun atau hilang dengan kriteria hasil kooperatif pada tindakan keperawatan, komunikatif pada perawat, secara verbal mengatakan tidak takur.
Intervensi Rasional
1.Validasi perasaan takut atau cemas
2.Pertahankan kontak dengan klien
3.Upayakan ada keluarga yang menunggu
4.Anjurkan orang tua untuk membawakan mainan atau foto keluarga.Perasaan adalah nyata dan membantu pasien untuk tebuka sehingga dapat menghadapinya.
Memantapkan hubungan, meningkatan ekspresi perasaan
Dukungan yang terus menerus mengurangi ketakutan atau kecemasan yang dihadapi.
Meminimalkan dampak hospitalisasi terpisah dari anggota keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Berhman & Kliegman (1987), Essentials of Pediatrics, W. B Saunders, Philadelphia.
Doengoes et. al, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan, alih bahasa Made Kariasa, EGC, Jakarta
Matondang, dkk. (2000), Diagnosis Fisis Pada Anak, Sagung Seto, Jakarta
Ngastiyah, (1997), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta
Rusepno, Hasan, dkk. (2000), Ilmu Kesehaatan Anak 2, Infomedica, Jakarta
Tjokronegoro & Hendra Utama, (1993), Buku Ajar Nefrologi, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
-------, (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo-Lab/UPF IKA, Surabaya.
1. Pengertian.
NS adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbunemia dan hiperkolesterolemia (Rusepno, H, dkk. 2000, 832).
2. Etiologi
Sebab pasti belum jelas. Saat ini dianggap sebagai suatu penyakit autoimun. Secara umum etiologi dibagi menjadi :
a. Nefrotic syndrome bawaan.
Gejala khas adalah edema pada masa neonatus.
b. Nefrotic syndrome sekunder
Penyebabnya adalah malaria, lupus eritematous diseminata, GNA dan GNK, bahan kimia dan amiloidosis.
c. Nefrotic syndrome idiopatik
d. Sklerosis glomerulus.
3. Patofisiologi.
Adanya peningkatan permiabilitas glomerulus mengakibatkan proteinuria masif sehingga terjadi hipoproteinemia. Akibatnya tekanan onkotik plasma menurun karean adanya pergeseran cairan dari intravaskuler ke intestisial.
Volume plasma, curah jantung dan kecepatan filtrasi glomerulus berkurang mengakibatkan retensi natrium. Kadar albumin plasma yang sudah merangsang sintesa protein di hati, disertai peningkatan sintesa lipid, lipoprotein dan trigliserida
4. Gejala klinis.
- Edema, sembab pada kelopak mata
- Rentan terhadap infeksi sekunder
- Hematuria, azotemeia, hipertensi ringan
- Kadang-kadang sesak karena ascites
- Produksi urine berkurang
5. Pemeriksaan Laboratorium
- BJ urine meninggi
- Hipoalbuminemia
- Kadar urine normal
- Anemia defisiensi besi
- LED meninggi
- Kalsium dalam darah sering merendah
- Kadang-kdang glukosuria tanpa hiperglikemia.
6. Penatalaksanaan
- Istirahat sampai edema sedikit
- Protein tinggi 3 – 4 gram/kg BB/hari
- Diuretikum
- Kortikosteroid
- Antibiotika
- Punksi ascites
- Digitalis bila ada gagal jantung.
1.2 Konsep Asuhan Keperawatan pada Nefrotic Syndrome
1. Pengkajian
a. Identitas.
Umumnya 90 % dijumpai pada kasus anak. Enam (6) kasus pertahun setiap 100.000 anak terjadi pada usia kurang dari 14 tahun. Rasio laki-laki dan perempuan yaitu 2 : 1. Pada daerah endemik malaria banyak mengalami komplikasi nefrotic syndrome.
b. Riwayat Kesehatan.
1) Keluhan utama.
Badan bengkak, muka sembab dan napsu makan menurun
2) Riwayat penyakit dahulu.
Edema masa neonatus, malaria, riwayat GNA dan GNK, terpapar bahan kimia.
3) Riwayat penyakit sekarang.
Badan bengkak, muka sembab, muntah, napsu makan menurun, konstipasi, diare, urine menurun.
c. Riwayat kesehatan keluarga.
Karena kelainan gen autosom resesif. Kelainan ini tidak dapat ditangani dengan terapi biasa dan bayi biasanya mati pada tahun pertama atau dua tahun setelah kelahiran.
d. Riwayat kehamilan dan persalinan
Tidak ada hubungan.
e. Riwayat kesehatan lingkungan.
Endemik malaria sering terjadi kasus NS.
f. Imunisasi.
Tidak ada hubungan.
g. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
Berat badan = umur (tahun) X 2 + 8
Tinggi badan = 2 kali tinggi badan lahir.
Perkembangan psikoseksual : anak berada pada fase oedipal/falik dengan ciri meraba-raba dan merasakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya, senang bermain dengan anak berjenis kelamin beda, oedipus kompleks untuk anak laki-laki lebih dekat dengan ibu, elektra kompleks untuk anak perempuan lebih dekat dengan ayah.
Perkembangan psikososial : anak berada pada fase pre school (inisiative vs rasa bersalah) yaitu memiliki inisiatif untuk belajar mencari pengalaman baru. Jika usahanya diomeli atau dicela anak akan merasa bersalah dan menjadi anak peragu.
Perkembangan kognitif : masuk tahap pre operasional yaitu mulai mempresentasekan dunia dengan bahasa, bermain dan meniru, menggunakan alat-alat sederhana.
Perkembangan fisik dan mental : melompat, menari, menggambar orang dengan kepala, lengan dan badan, segiempat, segitiga, menghitung jari-jarinya, menyebut hari dalam seminggu, protes bila dilarang, mengenal empat warna, membedakan besar dan kecil, meniru aktivitas orang dewasa.
Respon hospitalisasi : sedih, perasaan berduka, gangguan tidur, kecemasan, keterbatasan dalam bermain, rewel, gelisah, regresi, perasaan berpisah dari orang tua, teman.
h. Riwayat nutrisi.
Usia pre school nutrisi seperti makanan yang dihidangkan dalam keluarga. Status gizinya adalah dihitung dengan rumus (BB terukur dibagi BB standar) X 100 %, dengan interpretasi : < 60 % (gizi buruk), < 30 % (gizi sedang) dan > 80 % (gizi baik).
i. Pengkajian persistem.
a) Sistem pernapasan.
Frekuensi pernapasan 15 – 32 X/menit, rata-rata 18 X/menit, efusi pleura karena distensi abdomen
b) Sistem kardiovaskuler.
Nadi 70 – 110 X/mnt, tekanan darah 95/65 – 100/60 mmHg, hipertensi ringan bisa dijumpai.
c) Sistem persarafan.
Dalam batas normal.
d) Sistem perkemihan.
Urine/24 jam 600-700 ml, hematuri, proteinuria, oliguri.
e) Sistem pencernaan.
Diare, napsu makan menurun, anoreksia, hepatomegali, nyeri daerah perut, malnutrisi berat, hernia umbilikalis, prolaps anii.
f) Sistem muskuloskeletal.
Dalam batas normal.
g) Sistem integumen.
Edema periorbital, ascites.
h) Sistem endokrin
Dalam batas normal
i) Sistem reproduksi
Dalam batas normal.
j. Persepsi orang tua
Kecemasan orang tua terhadap kondisi anaknya.
2. Diagnosa dan Rencana Keperawatan.
a) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus.
Tujuan volume cairan tubuh akan seimbang dengan kriteria hasil penurunan edema, ascites, kadar protein darah meningkat, output urine adekuat 600 – 700 ml/hari, tekanan darah dan nadi dalam batas normal.
Intervensi Rasional
1. Catat intake dan output secara akurat
2. Kaji dan catat tekanan darah, pembesaran abdomen, BJ urine
3. Timbang berat badan tiap hari dalam skala yang sama
4. Berikan cairan secara hati-hati dan diet rendah garam.
5. Diet protein 1-2 gr/kg BB/hari. Evaluasi harian keberhasilan terapi dan dasar penentuan tindakan
Tekanan darah dan BJ urine dapat menjadi indikator regimen terapi
Estimasi penurunan edema tubuh
Mencegah edema bertambah berat
Pembatasan protein bertujuan untuk meringankan beban kerja hepar dan mencegah bertamabah rusaknya hemdinamik ginjal.
b) Perubahan nutrisi ruang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan.
Tujuan kebutuhan nutrisi akan terpenuhi dengan kriteria hasil napsu makan baik, tidak terjadi hipoprtoeinemia, porsi makan yang dihidangkan dihabiskan, edema dan ascites tidak ada.
Intervensi Rasional
1. Catat intake dan output makanan secara akurat
2. Kaji adanya anoreksia, hipoproteinemia, diare.
3. Pastikan anak mendapat makanan dengan diet yang cukup
Monitoring asupan nutrisi bagi tubuh
Gangguan nuirisi dapat terjadi secara perlahan. Diare sebagai reaksi edema intestinal
Mencegah status nutrisi menjadi lebih buruk
c) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas tubuh yang menurun.
Tujuan tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil tanda-tanda infeksi tidak ada, tanda vital dalam batas normal, ada perubahan perilaku keluarga dalam melakukan perawatan.
Intervensi Rasional
1. Lindungi anak dari orang-orang yang terkena infeksi melalui pembatasan pengunjung.
2. Tempatkan anak di ruangan non infeksi
3. Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan.
4. Lakukan tindakan invasif secara aseptik
Meminimalkan masuknya organisme
Mencegah terjadinya infeksi nosokomial
Mencegah terjadinya infeksi nosokomial
Membatasi masuknya bakteri ke dalam tubuh. Deteksi dini adanya infeksi dapat mencegah sepsis.
d)Kecemasan anak berhubungan dengan lingkungan perawatan yang asing (dampak hospitalisasi).
Tujuan kecemasan anak menurun atau hilang dengan kriteria hasil kooperatif pada tindakan keperawatan, komunikatif pada perawat, secara verbal mengatakan tidak takur.
Intervensi Rasional
1.Validasi perasaan takut atau cemas
2.Pertahankan kontak dengan klien
3.Upayakan ada keluarga yang menunggu
4.Anjurkan orang tua untuk membawakan mainan atau foto keluarga.Perasaan adalah nyata dan membantu pasien untuk tebuka sehingga dapat menghadapinya.
Memantapkan hubungan, meningkatan ekspresi perasaan
Dukungan yang terus menerus mengurangi ketakutan atau kecemasan yang dihadapi.
Meminimalkan dampak hospitalisasi terpisah dari anggota keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Berhman & Kliegman (1987), Essentials of Pediatrics, W. B Saunders, Philadelphia.
Doengoes et. al, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan, alih bahasa Made Kariasa, EGC, Jakarta
Matondang, dkk. (2000), Diagnosis Fisis Pada Anak, Sagung Seto, Jakarta
Ngastiyah, (1997), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta
Rusepno, Hasan, dkk. (2000), Ilmu Kesehaatan Anak 2, Infomedica, Jakarta
Tjokronegoro & Hendra Utama, (1993), Buku Ajar Nefrologi, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
-------, (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo-Lab/UPF IKA, Surabaya.
ASKEP ANAK DENGAN ENCEPHALITIS
PENGERTIAN
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent.
PATOGENESIS ENSEFALITIS
Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:
Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah
Kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di
Permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.
Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat .
Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gamgguan kesadaran, kejang.
Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak.
Penyebab Ensefalitis:
Penyebab terbanyak: adalah virus
Sering : - Herpes simplex
- Arbo virus
Jarang : - Entero virus
- Mumps
- Adeno virus
Post Infeksi : - Measles
- Influenza
- Varisella
Post Vaksinasi : - Pertusis
Ensefalitis supuratif akut :
Bakteri penyebab Esenfalitis adalah : Staphylococcusaureus, Streptokok, E.Coli, Mycobacterium dan T. Pallidum.
Ensefalitis virus:
Virus yang menimbulkan adalah virus R N A (Virus Parotitis) virus morbili,virus rabies,virus rubella,virus denque,virus polio,cockscakie A,B,Herpes Zoster,varisela,Herpes simpleks,variola.
Gejala-Gejala yang mungkin terjadi pada Ensefalitis :
-Panas badan meningkat ,photo fobi,sakit kepala ,muntah-muntah lethargy ,kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen.
-Anak tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan ,pendengaran ,bicara dan kejang.
PENGKAJIAN
1.Identitas
Ensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok umur.
2.Keluhan utama
Panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun.
3.Riwayat penyakit sekarang
Mula-mula anak rewel ,gelisah ,muntah-muntah ,panas badan meningkat kurang lebih 1-4 hari , sakit kepala.
4.Riwayat penyakit dahulu
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan.
5.Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh : Herpes dll. Bakteri contoh : Staphylococcus Aureus,Streptococcus , E , Coli, dll.
6.Imunisasi
Kapan terakhir diberi imunisasi DTP
Karena ensefalitis dapat terjadi post imunisasi pertusis.
-Pertumbuhan dan Perkembangan
POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Kebiasaan
sumber air yang dipergunakan dari PAM atau sumur ,kebiasaan buang air besar di WC,lingkungan penduduk yang berdesakan (daerah kumuh)
Status Ekonomi
Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah.
Pola Nutrisi dan Metabolisme
Menyepelekan anak yang sakit ,tanpa pengobatan yang semPemenuhan Nutrisi
Biasanya klien dengan gizi kurang asupan makana dan cairan dalam jumlah kurang dari kebutuhan tubuh.,
Pada pasien dengan Ensefalitis biasanya ditandai
Dengan adanya mual, muntah, kepalah pusing, kelelahan.
Status Gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh.
Postur tubuh biasanya kurus ,rambut merah karena kekurangan vitamin A, berat badan kurang dari normal.
Menurutrumus dari BEHARMAN tahun 1992, umur 1 sampai 6 tahun
Umur (dalam tahun) x 2 + 8
Tinggi badan menurut BEHARMAN umur 4 sampai 2 x tinggi badan lahir.
Perkembangan badan biasanya kurang karena asupan makanan yang bergizi kurang.
Pengetahuan tentang nutrisi biasanya pada orang tua anak yang kurang pengetahuan tentang nutrisi.
Yang dikatakan gizi kurang bila berat badan kurang dari 70% berat badan normal.
Pola Eliminasi
Kebiasaan Defekasi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis karena pasien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi.
Kebiasaan Miksi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal.
Jika kebutuhan cairan terpenuhi.
Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun, konsentrasi urine pekat.
Pola tidur dan istirahat
Biasanya pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.
Pola Aktivitas
a.Aktivitas sehari-hari : klien biasanya terjadi gangguan karena bx Ensefalitis dengan gizi buruk mengalami kelemahan.
b.Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan latihan positif.
Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada px gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM
Kekuatan otot berkurang karena px Ensefalitisdengan gizi buruk .
Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung ,ginjal ,mudah terkena infeksi ane
berat,aktifitas togosit turun ,Hb turun ,punurunan kadar albumin serum, gangguan pertumbuhan.
Pola Hubungan Dengan Peran
Interaksi dengan keluarga / orang lain biasanya pada klien dengan Ensefalitis kurang karena kesadaran klien menurun mulai dari apatis sampai koma.
Pola Persepsi dan pola diri
Pada klien Ensenfalitis umur > 4 ,pada persepsi dan konsep diri
Yang meliputi Body Image ,seef Esteem ,identitas deffusion deper somalisasi belum bisa menunjukkan perubahan.
Pola sensori dan kuanitif
a.Sensori
-Daya penciuman
-Daya rasa
-Daya raba
-Daya penglihatan
-Daya pendengaran.
b.Kognitif :
Pola Reproduksi Seksual
Bila anak laki-laki apakah testis sudah turun ,fimosis tidak ada.
Pola penanggulangan Stress
Pada pasien Ensefalitis karena terjadi gangguan kesadaran :
- Stress fisiologi biasanya anak hanya dapat mengeluarkan air mata saja ,tidak bisa menangis dengan keras (rewel) karena terjadi afasia.
-Stress Psikologi tidak di evaluasi.
Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
Anak umur 3-4 tahun belumbisa dikaji
PEMERIKSAAN LABORATORIUM / PEMERIKSAAN PENUNJANG
Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.
Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex.
DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING TERJADI
1.Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
2.Resiko tinggi perubahan peR/usi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.
3.Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umu.
4.Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
5.Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas.
6.Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.
7.Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan susunan saraf pusat.
8.Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual.
9.Resiko gangguan integritas kulit b/d daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun.
10.Resiko terjadi kontraktur b/d spastik berulang.
DIAGNOSA KEPERAWATAN I.
Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan tubuh terhadap infeksi turun
Tujuan:
- tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil:
- Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi endogen
Intervensi
1.Pertahanan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau pengunmjung. Pantau dan batasi pengunjung.
R/. menurunkan resiko px terkena infeksi sekunder . mengontrol penyebaran Sumber infeksi, mencegah pemajaran pada individu yang mengalami nfeksi saluran nafas atas.
2.Abs. suhu secara teratur dan tanda-tanda klinis dari infeksi.
R/. Deteksi dini tanda-tanda infeksi merupakan indikasi perkembangan Meningkosamia .
3.Berikan antibiotika sesuai indikasi
R/. Obat yang dipilih tergantung tipe infeksi dan sensitivitas individu.
DIAGNOSA KEPERAWATAN II
Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum
Tujuan :
-Tidak terjadi trauma
Kriteria hasil :
-Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain
Intervensi :
1. Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan,penghalang tempat tidur tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas tetap bebas.
R/. Melindungi px jika terjadi kejang , pengganjal mulut agak lidah tidak tergigit.
Catatan: memasukkan pengganjal mulut hanya saat mulut relaksasi.
2.Pertahankan tirah baring dalam fase akut.
R/. Menurunkan resiko terjatuh / trauma saat terjadi vertigo.
3.Kolaborasi.
Berikan obat sesuai indikasi seperti delantin, valum dsb.
R/. Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang.
4.Abservasi tanda-tanda vital
R/. Deteksi diri terjadi kejang agak dapat dilakukan tindakan lanjutan.
DIAGNOSA KEPERAWATAN III
Resiko terjadi kontraktur b/d kejang spastik berulang
Tujuan :
-Tidak terjadi kontraktur
Ktiteria hasil :
-Tidak terjadi kekakuan sendi
-Dapat menggerakkan anggota tubuh
Intervensi
1.Berikan penjelasan pada ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik , terjadi kekacauan sendi.
R/Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mengerti dan mau membantu program perawatan .
2.Lakukan latihan pasif mulai ujung ruas jari secara bertahap
R/Melatih melemaskan otot-otot, mencegah kontraktor.
3.Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam
R/Dengan melakukan perubahan posisi diharapkan peR/usi ke jaringan lancar, meningkatkan daya pertahanan tubuh .
4.Observasi gejala kaerdinal setiap 3 jam
R/Dengan melakukan observasi dapat melakukan deteksi dini bila ada kelainan dapat dilakukan inteR/ensi segera
5.Kolaborasi untuk pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai Indikasi
R/Diberi dilantin / valium ,bila terjadi kejang spastik ulang
DAFTAR PUSTAKA
Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, 1998
Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997.
Rahman M, Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.
Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta ,1993.
Sutjinigsih (1995), Tumbuh kembang Anak, Penerbit EGC, Jakarta.
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent.
PATOGENESIS ENSEFALITIS
Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:
Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah
Kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di
Permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.
Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat .
Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gamgguan kesadaran, kejang.
Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak.
Penyebab Ensefalitis:
Penyebab terbanyak: adalah virus
Sering : - Herpes simplex
- Arbo virus
Jarang : - Entero virus
- Mumps
- Adeno virus
Post Infeksi : - Measles
- Influenza
- Varisella
Post Vaksinasi : - Pertusis
Ensefalitis supuratif akut :
Bakteri penyebab Esenfalitis adalah : Staphylococcusaureus, Streptokok, E.Coli, Mycobacterium dan T. Pallidum.
Ensefalitis virus:
Virus yang menimbulkan adalah virus R N A (Virus Parotitis) virus morbili,virus rabies,virus rubella,virus denque,virus polio,cockscakie A,B,Herpes Zoster,varisela,Herpes simpleks,variola.
Gejala-Gejala yang mungkin terjadi pada Ensefalitis :
-Panas badan meningkat ,photo fobi,sakit kepala ,muntah-muntah lethargy ,kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen.
-Anak tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan ,pendengaran ,bicara dan kejang.
PENGKAJIAN
1.Identitas
Ensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok umur.
2.Keluhan utama
Panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun.
3.Riwayat penyakit sekarang
Mula-mula anak rewel ,gelisah ,muntah-muntah ,panas badan meningkat kurang lebih 1-4 hari , sakit kepala.
4.Riwayat penyakit dahulu
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan.
5.Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh : Herpes dll. Bakteri contoh : Staphylococcus Aureus,Streptococcus , E , Coli, dll.
6.Imunisasi
Kapan terakhir diberi imunisasi DTP
Karena ensefalitis dapat terjadi post imunisasi pertusis.
-Pertumbuhan dan Perkembangan
POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Kebiasaan
sumber air yang dipergunakan dari PAM atau sumur ,kebiasaan buang air besar di WC,lingkungan penduduk yang berdesakan (daerah kumuh)
Status Ekonomi
Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah.
Pola Nutrisi dan Metabolisme
Menyepelekan anak yang sakit ,tanpa pengobatan yang semPemenuhan Nutrisi
Biasanya klien dengan gizi kurang asupan makana dan cairan dalam jumlah kurang dari kebutuhan tubuh.,
Pada pasien dengan Ensefalitis biasanya ditandai
Dengan adanya mual, muntah, kepalah pusing, kelelahan.
Status Gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh.
Postur tubuh biasanya kurus ,rambut merah karena kekurangan vitamin A, berat badan kurang dari normal.
Menurutrumus dari BEHARMAN tahun 1992, umur 1 sampai 6 tahun
Umur (dalam tahun) x 2 + 8
Tinggi badan menurut BEHARMAN umur 4 sampai 2 x tinggi badan lahir.
Perkembangan badan biasanya kurang karena asupan makanan yang bergizi kurang.
Pengetahuan tentang nutrisi biasanya pada orang tua anak yang kurang pengetahuan tentang nutrisi.
Yang dikatakan gizi kurang bila berat badan kurang dari 70% berat badan normal.
Pola Eliminasi
Kebiasaan Defekasi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis karena pasien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi.
Kebiasaan Miksi sehari-hari
Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal.
Jika kebutuhan cairan terpenuhi.
Jika terjadi gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun, konsentrasi urine pekat.
Pola tidur dan istirahat
Biasanya pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.
Pola Aktivitas
a.Aktivitas sehari-hari : klien biasanya terjadi gangguan karena bx Ensefalitis dengan gizi buruk mengalami kelemahan.
b.Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan latihan positif.
Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada px gizi buruk maka dilakukan latihan pasif sesuai ROM
Kekuatan otot berkurang karena px Ensefalitisdengan gizi buruk .
Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung ,ginjal ,mudah terkena infeksi ane
berat,aktifitas togosit turun ,Hb turun ,punurunan kadar albumin serum, gangguan pertumbuhan.
Pola Hubungan Dengan Peran
Interaksi dengan keluarga / orang lain biasanya pada klien dengan Ensefalitis kurang karena kesadaran klien menurun mulai dari apatis sampai koma.
Pola Persepsi dan pola diri
Pada klien Ensenfalitis umur > 4 ,pada persepsi dan konsep diri
Yang meliputi Body Image ,seef Esteem ,identitas deffusion deper somalisasi belum bisa menunjukkan perubahan.
Pola sensori dan kuanitif
a.Sensori
-Daya penciuman
-Daya rasa
-Daya raba
-Daya penglihatan
-Daya pendengaran.
b.Kognitif :
Pola Reproduksi Seksual
Bila anak laki-laki apakah testis sudah turun ,fimosis tidak ada.
Pola penanggulangan Stress
Pada pasien Ensefalitis karena terjadi gangguan kesadaran :
- Stress fisiologi biasanya anak hanya dapat mengeluarkan air mata saja ,tidak bisa menangis dengan keras (rewel) karena terjadi afasia.
-Stress Psikologi tidak di evaluasi.
Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
Anak umur 3-4 tahun belumbisa dikaji
PEMERIKSAAN LABORATORIUM / PEMERIKSAAN PENUNJANG
Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.
Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex.
DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING TERJADI
1.Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
2.Resiko tinggi perubahan peR/usi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.
3.Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umu.
4.Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
5.Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM terbatas.
6.Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah.
7.Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan susunan saraf pusat.
8.Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual.
9.Resiko gangguan integritas kulit b/d daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun.
10.Resiko terjadi kontraktur b/d spastik berulang.
DIAGNOSA KEPERAWATAN I.
Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan tubuh terhadap infeksi turun
Tujuan:
- tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil:
- Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi endogen
Intervensi
1.Pertahanan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau pengunmjung. Pantau dan batasi pengunjung.
R/. menurunkan resiko px terkena infeksi sekunder . mengontrol penyebaran Sumber infeksi, mencegah pemajaran pada individu yang mengalami nfeksi saluran nafas atas.
2.Abs. suhu secara teratur dan tanda-tanda klinis dari infeksi.
R/. Deteksi dini tanda-tanda infeksi merupakan indikasi perkembangan Meningkosamia .
3.Berikan antibiotika sesuai indikasi
R/. Obat yang dipilih tergantung tipe infeksi dan sensitivitas individu.
DIAGNOSA KEPERAWATAN II
Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum
Tujuan :
-Tidak terjadi trauma
Kriteria hasil :
-Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain
Intervensi :
1. Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan,penghalang tempat tidur tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas tetap bebas.
R/. Melindungi px jika terjadi kejang , pengganjal mulut agak lidah tidak tergigit.
Catatan: memasukkan pengganjal mulut hanya saat mulut relaksasi.
2.Pertahankan tirah baring dalam fase akut.
R/. Menurunkan resiko terjatuh / trauma saat terjadi vertigo.
3.Kolaborasi.
Berikan obat sesuai indikasi seperti delantin, valum dsb.
R/. Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang.
4.Abservasi tanda-tanda vital
R/. Deteksi diri terjadi kejang agak dapat dilakukan tindakan lanjutan.
DIAGNOSA KEPERAWATAN III
Resiko terjadi kontraktur b/d kejang spastik berulang
Tujuan :
-Tidak terjadi kontraktur
Ktiteria hasil :
-Tidak terjadi kekakuan sendi
-Dapat menggerakkan anggota tubuh
Intervensi
1.Berikan penjelasan pada ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik , terjadi kekacauan sendi.
R/Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mengerti dan mau membantu program perawatan .
2.Lakukan latihan pasif mulai ujung ruas jari secara bertahap
R/Melatih melemaskan otot-otot, mencegah kontraktor.
3.Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam
R/Dengan melakukan perubahan posisi diharapkan peR/usi ke jaringan lancar, meningkatkan daya pertahanan tubuh .
4.Observasi gejala kaerdinal setiap 3 jam
R/Dengan melakukan observasi dapat melakukan deteksi dini bila ada kelainan dapat dilakukan inteR/ensi segera
5.Kolaborasi untuk pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai Indikasi
R/Diberi dilantin / valium ,bila terjadi kejang spastik ulang
DAFTAR PUSTAKA
Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya, 1998
Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997.
Rahman M, Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.
Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta ,1993.
Sutjinigsih (1995), Tumbuh kembang Anak, Penerbit EGC, Jakarta.
ACUTE NONLYMPHOID (MYELOGENOUS) LEUKEMIA (ANLL ATAU AML)
A.Definisi
Acute Nonlymphoid (myelogenous) Leukemia (ANLL atau AML) adalah salah satu jenis leukemia; dimana terjadi proliferasi neoplastik dari sel mieloid (ditemukannnya sel mieloid : granulosit, monosit imatur yang berlebihan). (1,2) AML meliputi leukemia mieloblastik akut, leukemia monoblastik akut, leukemia mielositik akut, leukemia monomieloblastik, dan leukemia granulositik akut (1)
B.Penyebab
Seperti halnya leukemia jenis ALL (Acute Lymphoid Leukemia), etiologi AML sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti, diduga karena virus (virus onkogenik). Faktor lain yang turut berperan adalah :
1.Faktor endogen
Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom (resiko terkena AML meningkat pada anak yang terkena Down Sindrom), herediter (kadang-kadang dijumpai kasus leukemia pada kakak beradik atau kembar satu telur).
2.Faktor eksogen
Seperti sinar X, sinar radioaktif, hormon, bahan kimia (Benzol, Arsen, preparat Sulfat), infeksi (virus, bakteri).
C.Tanda dan Gejala
1.Hipertrofi ginggiva
2.Kloroma spinal (lesi massa)
3.Lesi nekrotik atau ulserosa perirekal
4.Hepatomegali dan splenomegali (pada kurang lebih 50% anak)
5.Manifestasi klinik seperti ALL , yaitu
a.Bukti anemia, perdarahan, dan infeksi : demam, letih, pucat, anoreksia, petekia dan perdarahan, nyeri sendi dan tulang, nyeri abdomen yang tidak jelas, berat badan menurun, pembesaran dan fibrosis organ-organ sistem retikuloendotelial (hati , limpa, dan limfonodus)
b.Peningkatan tekanan intrakranial karena infiltrasi meninges : nyeri dan kaku kuduk, sakit kepala, iritabilitas, letargi, muntah, edema papil, koma.
c.Gejala-gejala sistem saraf pusat yang berhubungan dengan bagian sistem yang terkena; kelemahan ekstremitas bawah, kesulitan berkemih, kesulitan belajar, khususnya matematika dan hafalan (efek samping lanjut dari terapi).
D.Patofisiologi dan Pathways
Jaringan pembentuk darah ditandai oleh pergantian sel yang sangat cepat. Normalnya, produksi sel darah tertentu dari prekusor sel stem diatur sesuai kebutuhan tubuh. Apabila mekanisme yang mengatur produksi sel tersebut terganggu, sel akan membelah diri sampai ke tingkat sel yang membahayakan (proliferasi neoplastik). Proliferasi neoplastik dapat terjadi karena kerusakan sumsum tulang akibat radiasi, virus onkogenik, maupun herediter.
Sel polimorfonuklear dan monosit normalnya dibentuk hanya dalam sumsum tulang. Sedangkan limfosit dan sel plasma dihasilkan dalam berbagai organ limfogen (kelenjar limfe, limpa, timus, tonsil). Beberapa sel darah putih yang dibentuk dalam sumsum tulang, khususnya granulosit, disimpan dalam sumsum tulang sampai mereka dibutuhkan dalam sirkulasi. Bila terjadi kerusakan sumsum tulang, misalnya akibat radiasi atau bahan kimia, maka akan terjadi proliferasi sel-sel darah putih yang berlebihan dan imatur. Pada kasus AML, dimulai dengan pembentukan kanker pada sel mielogen muda (bentuk dini neutrofil, monosit, atau lainnya) dalam sumsum tulang dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh sehingga sel-sel darah putih dibentuk pada banyak organ ekstra medula.
Sedangkan secara imunologik, patogenesis leukemia dapat diterangkan sebagai berikut. Bila virus dianggap sebagai penyebabnya (virus onkogenik yang mempunyai struktur antigen tertentu), maka virus tersebut dengan mudah akan masuk ke dalam tubuh manusia dan merusak mekanisme proliferasi. Seandainya struktur antigennya sesuai dengan struktur antigen manusia tersebut, maka virus mudah masuk. Bila struktur antigen individu tidak sama dengan struktur antigen virus, maka virus tersebut akan ditolaknya. Struktur antigen ini terbentuk dari struktur antigen dari berbagai alat tubuh, terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh atau HL-A (Human Leucocyte Locus A). Sistem HL-A diturunkan menurut hukum genetik, sehingga etiologi leukemia sangat erat kaitannya dengan faktor herediter.
Akibat proliferasi mieloid yang neoplastik, maka produksi elemen darah yang lain tertekan karena terjadi kompetisi nutrisi untuk proses metabolisme (terjadi granulositopenia, trombositopenia). Sel-sel leukemia juga menginvasi tulang di sekelilingnya yang menyebabkan nyeri tulang dan cenderung mudah patah tulang. Proliferasi sel leukemia dalam organ mengakibatkan gejala tambahan : nyeri akibat pembesaran limpa atau hati, masalah kelenjar limfa; sakit kepala atau muntah akibat leukemia meningeal.
E.Komplikasi
1.Gagal sumsum tulang
2.Infeksi
3.Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID/DIC)
4.Splenomegali
5.Hepatomegali
F.Pemeriksaan Diagnostik
1.Hitung darah lengkap (CBC). Anak dengan CBC kurang dari 10.000/mm3 saat didiagnosis, memiliki prognosis paling baik. Jumlah leukosit lebih dari 50.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur.
2.Pungsi lumbal, untuk mengkaji keterlibatan SSP.
3.Foto thoraks, untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum
4.Aspirasi sumsum tulang, ditemuakannya 25% sel blast memperkuat diagnosis.
5.Pemindaian tulang atau survei kerangka, mengkaji keterlibatan tulang.
6.Pemindaian ginjal, hati, dan limpa, mengkaji infiltrat leukemik
7.Jumlah trombosit, menunjukkan kapasitas pembekuan.
G.Penatalaksanaan
Protokol pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis obat yang diberikan pada anak. Proses remisi induksi pada anak terdiri dari tiga fase : induksi, konsolidasi, dan rumatan. Selama fase induksi (kira-kira 3 sampai 6 minggu) anak menerima berbagai agens kemoterapi untuk menimbulkan remisi. Periode intensif diperpanjang 2-3 minggu selama fase konsolidasi untuk memberantas keterlibatan sistem syaraf pusat dan oragan vital lain. Terapi rumatan diberikan selama beberapa tahun setelah diagnosis untuk memperpanjang remisi. Beberapa obat yang dipakai untuk leukemia anak-anak adalah prednison, vinkristin, asparaginase, metrotreksat, merkaptopurin, sitarabin, alopurinol, siklofosfamid, dan daunorubisin.
Pengkajian Keperawatan
1.Kaji adanya manifestasi klinik AML (kelelahan, nyeri, pucat, anoreksi, perdarahan, penurunan berat badan, letargi, hipertropi ginggiva, ulserosa perirektal, dll)
2.Kaji reaksi anak terhadap kemoterapi : diare, anoreksia, mual, muntah, retensi cairan, hiperuremia, demam, stomatitis, ulkus mulut, alopesia, nyeri, dll
3.Kaji adanya tanda dan gejala infeksi : peningkatan leukosit, demam, peningkatan LED
4.Kaji adanya tanda dan gejala hemoragi
5.Kaji adanya tanda dan gejala komplikasi : somnolens radiasi, gejala SSP, lisis sel.
6.Kaji koping anak dan keluarga.
H.Diagnosa Keperawatan
1.Intoleransi aktivitas
2.Resiko tinggi infeksi
3.Kelebihan volume cairan
4.Kerusakan integritas jaringan
5.Resiko tinggi perubahan nutrisi
6.Resiko tinggi cedera
7.Gangguan citra diri
8.Ansietas
9.Resiko tinggi penurunan curah jantung
10.Resiko tinggi keletihan
11.Resiko tinggi perubahan pertumbuhan dan perkembangan
12.Resiko tinggi perubahan proses keluarga
13.Resiko tinggi penatalaksanaan aturan pengobatan yang tidak efektif
I.Intervensi Keperawatan
1.Pantau anak untuk mengetahui reaksi terhadap pengobatan
2.Pantau adanya tanda dan gejala infeksi :
a.Waspadai bahwa demam adalah tanda yang terpenting dari infeksi
b.Obati semua anak seakan-akan mereka semua menderita neutropeni sampai diperoleh hasil test. Isolasi mereka dari pasien klinik lainnya, terutama anak-anak dengan penyakit infeksi, khususnya varisela.
c.Minta anak tersebut memakai masker bila bersama dengan orang lain dan bila menderita neutropeni berat ( leukosit kurang dari 1000/mm3).
d.Waspadai bahwa jika seorang anak menderita neutropeni, ia tidak boleh menjalani kemoterapi. Anak tsb dapat menerima antibiotik Ivjika demam juga terjadi (lebih banyak pasien yang meninggal karena infeksi daripada karena penyakitnya).
3.Pantau adanya tanda dan gejala hemoragi
a.Periksa adanya memar dan petekia pada kulit
b.Periksa danya mimisan dan gusi berdarah
c.Jika diberi suntikan, tekan bekas tusukan lebih lama dari biasanya (kira-kira 3-5 menit) untuk memastikan perdarahan telah berhenti. Perikas lagi untuk memastikan bahwa tidak ada perdarahan lagi.
4.Pantau adanya tanda gejala komplikasi
a.Somnolens radiasi : dimulai 6 minggu setelah menerima radiasi kraniospinal, anak menunjukkan keletihan berat dan anoreksia selama kira-kira 1-3 minggu. Orang tua sering kali mersa khawatir tentang terjadinya kambuhan pada saat ini dan perlu untuk diyakinkan.
b.Gejala SSP : sakit kepala, penglihatan kabur atau ganda, muntah. Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan keterlibatan SSP.
c.Gejala pernafasan : batuk, kongesti paru, dispnea. Gejala-gejala tersebut mengindikasikan adanya pneumositis atau infeksi pernafasan lainnya.
d.Lisis sel : lisis sel yang cepat setelah kemoterapi dapat mempengaruhi kimia darah, mengakibatkan peningkatan Kalsium dan Kalium.
5.pantau adanya kekhawatiran dan ansietas tentang diagnosis kanker dan hubungannya dengan pengobatan; pantau respon emosional seperti marah, menyangkal, kesedihan
6.Pantau adanya gangguan dalam fungsi keluarga
a.Dasar semua intervensi pada latar belakang budaya, agama pendidikan, dan sosial ekonomi keluarga
b.Libatkan saudara kandung sebanyak mungkin dalam perawatan karena mereka sangat prihatin terhadap perubahan yang terjadi pada anak yang sakit dan fungsi keluarga
c.Pertimbangkan kemungkinan bahwa saudara kandung merasa bersalah dan disalahkan
d.Tingkatkan keutuhan keluarga dengan memberi kebebasan jam kunjung selama 24 jam bagi semua anggota keluarga.
J.Hasil yang Diharapkan
1.Anak mencapai remisi
2.Anak bebas dari komplikasi penyakit
3.Anak dan keluarga mempelajari tentang koping yang efektif untuk menghadapi hidup dan penatalaksanaan penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1.Whaley’s and Wong. Essential of Pediatric Nursing. Sixth Edition. USA : Mosby. 2000.
2.Betz, CL & Sowden, LA. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Jakarta : EGC. 2002.
3.Whaley’s and Wong. Clinical Manual of Pediatric Nursing. Edisi 4. USA : Mosby. 2001.
4.Joyce Engel. Pengkajian Pediatrik. Edisi 2. Jakarta : EGC. 1999
5.Brunner& Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 2. Jakarta : EGC. 2002.
6.Guyton. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi III. Jakarta : EGC. 1995
Acute Nonlymphoid (myelogenous) Leukemia (ANLL atau AML) adalah salah satu jenis leukemia; dimana terjadi proliferasi neoplastik dari sel mieloid (ditemukannnya sel mieloid : granulosit, monosit imatur yang berlebihan). (1,2) AML meliputi leukemia mieloblastik akut, leukemia monoblastik akut, leukemia mielositik akut, leukemia monomieloblastik, dan leukemia granulositik akut (1)
B.Penyebab
Seperti halnya leukemia jenis ALL (Acute Lymphoid Leukemia), etiologi AML sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti, diduga karena virus (virus onkogenik). Faktor lain yang turut berperan adalah :
1.Faktor endogen
Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom (resiko terkena AML meningkat pada anak yang terkena Down Sindrom), herediter (kadang-kadang dijumpai kasus leukemia pada kakak beradik atau kembar satu telur).
2.Faktor eksogen
Seperti sinar X, sinar radioaktif, hormon, bahan kimia (Benzol, Arsen, preparat Sulfat), infeksi (virus, bakteri).
C.Tanda dan Gejala
1.Hipertrofi ginggiva
2.Kloroma spinal (lesi massa)
3.Lesi nekrotik atau ulserosa perirekal
4.Hepatomegali dan splenomegali (pada kurang lebih 50% anak)
5.Manifestasi klinik seperti ALL , yaitu
a.Bukti anemia, perdarahan, dan infeksi : demam, letih, pucat, anoreksia, petekia dan perdarahan, nyeri sendi dan tulang, nyeri abdomen yang tidak jelas, berat badan menurun, pembesaran dan fibrosis organ-organ sistem retikuloendotelial (hati , limpa, dan limfonodus)
b.Peningkatan tekanan intrakranial karena infiltrasi meninges : nyeri dan kaku kuduk, sakit kepala, iritabilitas, letargi, muntah, edema papil, koma.
c.Gejala-gejala sistem saraf pusat yang berhubungan dengan bagian sistem yang terkena; kelemahan ekstremitas bawah, kesulitan berkemih, kesulitan belajar, khususnya matematika dan hafalan (efek samping lanjut dari terapi).
D.Patofisiologi dan Pathways
Jaringan pembentuk darah ditandai oleh pergantian sel yang sangat cepat. Normalnya, produksi sel darah tertentu dari prekusor sel stem diatur sesuai kebutuhan tubuh. Apabila mekanisme yang mengatur produksi sel tersebut terganggu, sel akan membelah diri sampai ke tingkat sel yang membahayakan (proliferasi neoplastik). Proliferasi neoplastik dapat terjadi karena kerusakan sumsum tulang akibat radiasi, virus onkogenik, maupun herediter.
Sel polimorfonuklear dan monosit normalnya dibentuk hanya dalam sumsum tulang. Sedangkan limfosit dan sel plasma dihasilkan dalam berbagai organ limfogen (kelenjar limfe, limpa, timus, tonsil). Beberapa sel darah putih yang dibentuk dalam sumsum tulang, khususnya granulosit, disimpan dalam sumsum tulang sampai mereka dibutuhkan dalam sirkulasi. Bila terjadi kerusakan sumsum tulang, misalnya akibat radiasi atau bahan kimia, maka akan terjadi proliferasi sel-sel darah putih yang berlebihan dan imatur. Pada kasus AML, dimulai dengan pembentukan kanker pada sel mielogen muda (bentuk dini neutrofil, monosit, atau lainnya) dalam sumsum tulang dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh sehingga sel-sel darah putih dibentuk pada banyak organ ekstra medula.
Sedangkan secara imunologik, patogenesis leukemia dapat diterangkan sebagai berikut. Bila virus dianggap sebagai penyebabnya (virus onkogenik yang mempunyai struktur antigen tertentu), maka virus tersebut dengan mudah akan masuk ke dalam tubuh manusia dan merusak mekanisme proliferasi. Seandainya struktur antigennya sesuai dengan struktur antigen manusia tersebut, maka virus mudah masuk. Bila struktur antigen individu tidak sama dengan struktur antigen virus, maka virus tersebut akan ditolaknya. Struktur antigen ini terbentuk dari struktur antigen dari berbagai alat tubuh, terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh atau HL-A (Human Leucocyte Locus A). Sistem HL-A diturunkan menurut hukum genetik, sehingga etiologi leukemia sangat erat kaitannya dengan faktor herediter.
Akibat proliferasi mieloid yang neoplastik, maka produksi elemen darah yang lain tertekan karena terjadi kompetisi nutrisi untuk proses metabolisme (terjadi granulositopenia, trombositopenia). Sel-sel leukemia juga menginvasi tulang di sekelilingnya yang menyebabkan nyeri tulang dan cenderung mudah patah tulang. Proliferasi sel leukemia dalam organ mengakibatkan gejala tambahan : nyeri akibat pembesaran limpa atau hati, masalah kelenjar limfa; sakit kepala atau muntah akibat leukemia meningeal.
E.Komplikasi
1.Gagal sumsum tulang
2.Infeksi
3.Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID/DIC)
4.Splenomegali
5.Hepatomegali
F.Pemeriksaan Diagnostik
1.Hitung darah lengkap (CBC). Anak dengan CBC kurang dari 10.000/mm3 saat didiagnosis, memiliki prognosis paling baik. Jumlah leukosit lebih dari 50.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur.
2.Pungsi lumbal, untuk mengkaji keterlibatan SSP.
3.Foto thoraks, untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum
4.Aspirasi sumsum tulang, ditemuakannya 25% sel blast memperkuat diagnosis.
5.Pemindaian tulang atau survei kerangka, mengkaji keterlibatan tulang.
6.Pemindaian ginjal, hati, dan limpa, mengkaji infiltrat leukemik
7.Jumlah trombosit, menunjukkan kapasitas pembekuan.
G.Penatalaksanaan
Protokol pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis obat yang diberikan pada anak. Proses remisi induksi pada anak terdiri dari tiga fase : induksi, konsolidasi, dan rumatan. Selama fase induksi (kira-kira 3 sampai 6 minggu) anak menerima berbagai agens kemoterapi untuk menimbulkan remisi. Periode intensif diperpanjang 2-3 minggu selama fase konsolidasi untuk memberantas keterlibatan sistem syaraf pusat dan oragan vital lain. Terapi rumatan diberikan selama beberapa tahun setelah diagnosis untuk memperpanjang remisi. Beberapa obat yang dipakai untuk leukemia anak-anak adalah prednison, vinkristin, asparaginase, metrotreksat, merkaptopurin, sitarabin, alopurinol, siklofosfamid, dan daunorubisin.
Pengkajian Keperawatan
1.Kaji adanya manifestasi klinik AML (kelelahan, nyeri, pucat, anoreksi, perdarahan, penurunan berat badan, letargi, hipertropi ginggiva, ulserosa perirektal, dll)
2.Kaji reaksi anak terhadap kemoterapi : diare, anoreksia, mual, muntah, retensi cairan, hiperuremia, demam, stomatitis, ulkus mulut, alopesia, nyeri, dll
3.Kaji adanya tanda dan gejala infeksi : peningkatan leukosit, demam, peningkatan LED
4.Kaji adanya tanda dan gejala hemoragi
5.Kaji adanya tanda dan gejala komplikasi : somnolens radiasi, gejala SSP, lisis sel.
6.Kaji koping anak dan keluarga.
H.Diagnosa Keperawatan
1.Intoleransi aktivitas
2.Resiko tinggi infeksi
3.Kelebihan volume cairan
4.Kerusakan integritas jaringan
5.Resiko tinggi perubahan nutrisi
6.Resiko tinggi cedera
7.Gangguan citra diri
8.Ansietas
9.Resiko tinggi penurunan curah jantung
10.Resiko tinggi keletihan
11.Resiko tinggi perubahan pertumbuhan dan perkembangan
12.Resiko tinggi perubahan proses keluarga
13.Resiko tinggi penatalaksanaan aturan pengobatan yang tidak efektif
I.Intervensi Keperawatan
1.Pantau anak untuk mengetahui reaksi terhadap pengobatan
2.Pantau adanya tanda dan gejala infeksi :
a.Waspadai bahwa demam adalah tanda yang terpenting dari infeksi
b.Obati semua anak seakan-akan mereka semua menderita neutropeni sampai diperoleh hasil test. Isolasi mereka dari pasien klinik lainnya, terutama anak-anak dengan penyakit infeksi, khususnya varisela.
c.Minta anak tersebut memakai masker bila bersama dengan orang lain dan bila menderita neutropeni berat ( leukosit kurang dari 1000/mm3).
d.Waspadai bahwa jika seorang anak menderita neutropeni, ia tidak boleh menjalani kemoterapi. Anak tsb dapat menerima antibiotik Ivjika demam juga terjadi (lebih banyak pasien yang meninggal karena infeksi daripada karena penyakitnya).
3.Pantau adanya tanda dan gejala hemoragi
a.Periksa adanya memar dan petekia pada kulit
b.Periksa danya mimisan dan gusi berdarah
c.Jika diberi suntikan, tekan bekas tusukan lebih lama dari biasanya (kira-kira 3-5 menit) untuk memastikan perdarahan telah berhenti. Perikas lagi untuk memastikan bahwa tidak ada perdarahan lagi.
4.Pantau adanya tanda gejala komplikasi
a.Somnolens radiasi : dimulai 6 minggu setelah menerima radiasi kraniospinal, anak menunjukkan keletihan berat dan anoreksia selama kira-kira 1-3 minggu. Orang tua sering kali mersa khawatir tentang terjadinya kambuhan pada saat ini dan perlu untuk diyakinkan.
b.Gejala SSP : sakit kepala, penglihatan kabur atau ganda, muntah. Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan keterlibatan SSP.
c.Gejala pernafasan : batuk, kongesti paru, dispnea. Gejala-gejala tersebut mengindikasikan adanya pneumositis atau infeksi pernafasan lainnya.
d.Lisis sel : lisis sel yang cepat setelah kemoterapi dapat mempengaruhi kimia darah, mengakibatkan peningkatan Kalsium dan Kalium.
5.pantau adanya kekhawatiran dan ansietas tentang diagnosis kanker dan hubungannya dengan pengobatan; pantau respon emosional seperti marah, menyangkal, kesedihan
6.Pantau adanya gangguan dalam fungsi keluarga
a.Dasar semua intervensi pada latar belakang budaya, agama pendidikan, dan sosial ekonomi keluarga
b.Libatkan saudara kandung sebanyak mungkin dalam perawatan karena mereka sangat prihatin terhadap perubahan yang terjadi pada anak yang sakit dan fungsi keluarga
c.Pertimbangkan kemungkinan bahwa saudara kandung merasa bersalah dan disalahkan
d.Tingkatkan keutuhan keluarga dengan memberi kebebasan jam kunjung selama 24 jam bagi semua anggota keluarga.
J.Hasil yang Diharapkan
1.Anak mencapai remisi
2.Anak bebas dari komplikasi penyakit
3.Anak dan keluarga mempelajari tentang koping yang efektif untuk menghadapi hidup dan penatalaksanaan penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1.Whaley’s and Wong. Essential of Pediatric Nursing. Sixth Edition. USA : Mosby. 2000.
2.Betz, CL & Sowden, LA. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Jakarta : EGC. 2002.
3.Whaley’s and Wong. Clinical Manual of Pediatric Nursing. Edisi 4. USA : Mosby. 2001.
4.Joyce Engel. Pengkajian Pediatrik. Edisi 2. Jakarta : EGC. 1999
5.Brunner& Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 2. Jakarta : EGC. 2002.
6.Guyton. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi III. Jakarta : EGC. 1995
ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
A.PENGERTIAN ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Acut limphosityc leukemia adalah proliferasi maligna / ganas limphoblast dalam sumsum tulang yang disebabkan oleh sel inti tunggal yang dapat bersifat sistemik. (Ngastiyah, 1997; Smeltzer & Bare, 2002; Tucker, 1997; Reeves & Lockart, 2002).
B.PENYEBAB ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Penyebab acut limphosityc leukemia sampai saat ini belum jelas, diduga kemungkinan karena virus (virus onkogenik) dan faktor lain yang mungkin berperan, yaitu:
1.Faktor eksogen
a.Sinar x, sinar radioaktif.
b.Hormon.
c.Bahan kimia seperti: bensol, arsen, preparat sulfat, chloramphinecol, anti neoplastic agent).
2.Faktor endogen
a.Ras (orang Yahudi lebih mudah terkena dibanding orang kulit hitam)
b.Kongenital (kelainan kromosom, terutama pada anak dengan Sindrom Down).
c.Herediter (kakak beradik atau kembar satu telur).
(Ngastiyah, 1997)
C.PATOFISIOLOGI ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Sel kanker menghasilkan leukosit yang imatur / abnormal dalam jumlah yang berlebihan. Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ, termasuk sumsum tulang dan menggantikan unsur-unsur sel yang normal. Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal. Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat, akibatnya terjadi penurunan jumlah leucosit, sel darah merah dan trombosit. Infiltrasi sel kanker ke berbagai organ menyebabkan pembersaran hati, limpa, limfodenopati, sakit kepala, muntah, dan nyeri tulang serta persendian. Penurunan jumlah eritrosit menimbulkan anemia, penurunan jumlah trombosit mempermudah terjadinya perdarahan (echimosis, perdarahan gusi, epistaksis dll.). Adanya sel kanker juga mempengaruhi sistem retikuloendotelial yang dapat menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah mengalami infeksi. Adanya sel kaker juga mengganggu metabolisme sehingga sel kekurangan makanan. (Ngastiyah, 1997; Smeltzer & Bare, 2002; Suriadi dan Rita Yuliani, 2001, Betz & Sowden, 2002).
D.TANDA DAN GEJALA ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Manifestasi klinik dari acut limphosityc leukemia antara lain:
1.Pilek tak sembuh-sembuh
2.Pucat, lesu, mudah terstimulasi
3.Demam, anoreksia, mual, muntah
4.Berat badan menurun
5.Ptechiae, epistaksis, perdarahan gusi, memar tanpa sebab
6.Nyeri tulang dan persendian
7.Nyeri abdomen
8.Hepatosplenomegali, limfadenopati
9.Abnormalitas WBC
10.Nyeri kepala
E.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PADA ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Pemeriksaan diagnostik yang lazim dilakukan pada anak dengan acut limphosityc leukemia adalah:
1.Pemeriksaan sumsum tulang (BMP / Bone Marrow Punction):
a.Ditemukan sel blast yang berlebihan
b.Peningkatan protein
2.Pemeriksaan darah tepi
a.Pansitopenia (anemia, lekopenia, trombositopneia)
b.Peningkatan asam urat serum
c.Peningkatan tembaga (Cu) serum
d.Penurunan kadar Zink (Zn)
e.Peningkatan leukosit dapat terjadi (20.000 – 200.000 / µl) tetapi dalam bentuk sel blast / sel primitif
3.Biopsi hati, limpa, ginjal, tulang untuk mengkaji keterlibatan / infiltrasi sel kanker ke organ tersebut
4.Fotothorax untuk mengkaji keterlibatan mediastinum
5.Sitogenik:
50-60% dari pasien ALL dan AML mempunyai kelainan berupa:
a.Kelainan jumlah kromosom, seperti diploid (2n), haploid (2n-a), hiperploid (2n+a)
b.Bertambah atau hilangnya bagian kromosom (partial delection)
c.Terdapat marker kromosom, yaitu elemen yang secara morfologis bukan komponen kromosom normal dari bentuk yang sangat besar sampai yang sangat kecil
F.PENGOBATAN PADA ALL
1.Transfusi darah, biasanya diberikan bila kadar Hb kurang dari 6 g%. Pada trombositopenia yang berat dan perdarahan masif, dapat diberi¬kan transfusi trombosit dan bila terdapat tanda tanda DIC dapat dibe¬rikan heparin.
2.Kortikosteroid (prednison, kortison, deksametason dan sebagainya). Setelah dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhir¬nya dihentikan.
3.Sitostatika. Selain sitostatika yang lama (6 merkaptopurin atau 6 mp, metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih poten seperti vinkristin (oncovin), rubidomisin (daunorubycine), sitosin, arabinosid, L asparaginase, siklofosfamid atau CPA, adriami¬sin dan sebagainya. Umumnya sitostatika diberikan dalam kombinasi bersama sama dengan prednison. Pada pemberian obat obatan ini sering terdapat akibat samping beru¬pa alopesia, stomatitis, leukopenia, infeksi sekunder atau kandidiagis. Hendaknya lebih berhziti hati bila jumiah leukosit kurang dari 2.000/mm3.
4.Infeksi sekunder dihindarkan (bila mungkin penderita diisolasi dalam kamar yang suci hama).
5.Imunoterapi, merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah ter¬capai remisi dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105 106), imunoterapi mulai diberikan. Pengobatan yang aspesifik dilakukan dengan pemberian imunisasi BCG atau dengan Corynae bacterium dan dimaksudkan agar terbentuk antibodi yang dapat memperkuat daya tahan tubuh. Pengobatan spesifik dikerjakan dengan penyunti¬kan sel leukemia yang telah diradiasi. Dengan cara ini diharapkan akan terbentuk antibodi yang spesifik terhadap sel leukemia, sehingga semua sel patologis akan dihancurkan sehingga diharapkan penderita leukemia dapat sembuh sempurna.
6.Cara pengobatan.
Setiap klinik mempunyai cara tersendiri bergantung pada pengalaman¬nya. Umumnya pengobatan ditujukan terhadap pencegahan kambuh dan mendapatkan masa remisi yang lebih lama. Untuk mencapai keadaan tersebut, pada prinsipnya dipakai pola dasar pengobatan sebagai berikut:
a.Induksi
Dimaksudkan untuk mencapai remisi, yaitu dengan pemberian berba¬gai obat tersebut di atas, baik secara sistemik maupun intratekal sam¬pai sel blast dalam sumsum tulang kurang dari 5%.
b.Konsolidasi
Yaitu agar sel yang tersisa tidak cepat memperbanyak diri lagi.
c.Rumat (maintenance)
Untuk mempertahankan masa remisi, sedapat dapatnya suatu masa remisi yang lama. Biasanya dilakukan dengan pemberian sitostatika separuh dosis biasa.
d.Reinduksi
Dimaksudkan untuk mencegah relaps. Reinduksi biasanya dilakukan setiap 3 6 bulan dengan pemberian obat obat seperti pada induksi se¬lama 10 14 hari.
e.Mencegah terjadinya leukemia susunan saraf pusat.
Untuk hal ini diberikan MTX intratekal pada waktu induksi untuk mencegah leukemia meningeal dan radiasi kranial sebanyak 2.400¬2.500 rad. untuk mencegah leukemia meningeal dan leukemia sereb¬ral. Radiasi ini tidak diulang pada reinduksi.
f.Pengobatan imunologik
Diharapkan semua sel leukemia dalam tubuh akan hilang sama sekali dan dengan demikian diharapkan penderita dapat sembuh sempurna.
(FKUI, 1985)
G.MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL PADA ANAK DENGAN ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Adanya keganasan menimbulkan masalah keperawatan, antara lain:
1.Intoleransi aktivitas
2.Resiko tinggi infeksi
3.Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuahn
4.Resiko cedera (perdarahan)
5.Resiko kerusakan integritas kulit
6.Nyeri
7.Resiko kekurangan volume cairan
8.Berduka
9.Kurang pengetahuan
10.Perubahan proses keluarga
11.Gangguan citra diri / gambaran diri
H.PERAWATAN PADA ANAK DENGAN ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
1.Mengatasi keletihan / intoleransi aktivitas:
a.Kaji adanya tanda-tanda anemia: pucat, peka rangsang, cepat lelah, kadar Hb rendah.
b.Pantau hitung darah lengkap dan hitung jenis
c.Berikan cukup istirahat dan tidur tanpa gangguan
d.Minimalkan kegelisahan dan anjurkan bermain yang tenang
e.Bantu pasien dalam aktivitas sehari-hari
f.Pantau frekuensi nadi, prnafasan, sebelum dan selama aktivitas
g.Ketika kondisi membaik, dorong aktivitas sesuai toleransi
h.Jika diprogramkan, berikan packed RBC
2.Mencegah terjadinya infeksi
a.Observasi adanya tanda-tanda infeksi, pantau suhu badan laporkan jika suhu > 38oC yang berlangsung > 24 jam, menggigil dan nadi > 100 x / menit.
b.Sadari bahwa ketika hitung neutrofil menurun (neutropenia), resiko infeksi meningkat, maka:
1).Tampatkan pasien dalam ruangan khusus
2).Sebelum merawat pasien: cuci tangan dan memakai pakaian pelindung, masker dan sarung tangan.
3).Cegah komtak dengan individu yang terinfeksi
c.Jaga lingkungan tetap bersih, batasi tindakan invasif
d.Bantu ambulasi jika mungkin (membalik, batuk, nafas dalam)
e.Lakukan higiene oral dan perawatan perineal secara sering.
f.Pantau masukan dan haluaran serta pertahankan hidarasi yang adekuat dengan minum 3 liter / hari
g.Berika terapi antibiotik dan tranfusi granulosit jika diprogramkan
h.Yakinkan pemberian makanan yang bergizi.
3.Mencegah cidera (perdarahan)
a.Observasi adanya tanda-tanda perdarahan dengan inspeksi kulit, mulut, hidung, urine, feses, muntahan, dan lokasi infus.
b.Pantau tanda vital dan nilai trombosit
c.Hindari injesi intravena dan intramuskuler seminimal mungkin dan tekan 5-10 menit setiap kali menyuntik
d.Gunakan sikat gigi yang lebut dan lunak
e.Hindari pengambilan temperatur rektal, pengobatan rekatl dan enema
f.Hindari aktivitas yang dapat menyebabkan cidera fisik atau mainan yang dapat melukai kulit.
4.Memberikan nutrisi yang adekuat
a.Kaji jumlah makanan dan cairan yang ditoleransi pasien
b.Berikan kebersihan oral sebelum dan sesudah makan
c.Hindari bau, parfum, tindakan yang tidak menyenangkan, gangguan pandangan dan bunyi
d.Ubah pola makan, berikan makanan ringan dan sering, libatkan pasien dalam memilih makanan yang bergizi tinggi, timbang BB tiap hari
e.Sajikan makanan dalam suhu dingin / hangat
f.Pantau masukan makanan, bila jumlah kurang berikan ciran parenteral dan NPT yang diprogramkan.
5.Mencegah kekurangan cairan
a.Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi
b.Berikan antiemetik awal sebelum pemberian kemoterapi
c.Hindari pemberian makanan dan minuman yang baunya merangngsang mual / muntah
d.Anjurkan minum dalam porsi kecil dan sering
e.Kolaborasi pemberian cairan parenteral untuk mempertahankan hidrasi sesuai indikasi
6.Antisipasi berduka
a.Kaji tahapan berduka oada anak dan keluarga
b.Berikan dukungan pada respon adaptif dan rubah respon maladaptif
c.Luangkan waktu bersama anak untuk memberi kesempatan express feeling
d.Fasilitasi express feeling melalui permainan
7.Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang:
a.Proses penyakit leukemia: gejala, pentingnya pengobatan / perawatan.
b.Komplikasi penyakit leukemia: perdarahan, infeksi dll.
c.Aktivitas dan latihan sesuai toleransi
d.Mengatasi kecemasan
e.Pemberian nutrisi
f.Pengobatan dan efek samping pengobatan
8.Meningkatkan peran keluarga
a.Jelaskan alasan dilakukannya setiap prosedur pengobatan / dianostik
b.Jadwalkan waktu bagi keluarga bersama anak tanpa diganggu oleh staf SR
c.Dorong keluarga untuk express feelings
d.Libatkan keluarga dalam perencanaan dan pelaksanaan perawatan si anak
9.Mencegah gangguan citra diri / gambaran diri
a.Dorong pasien untuk express feelings tentang dirinya
b.Berikan informasi yang mendukung pasien ( misal; rambut akan tumbuh kembali, berat badan akan kembali naik jika terapi selesai dll.)
c.Dukung interaksi sosial / peer group
d.Sarankan pemakaian wig, topi / penutup kepala.
Acut limphosityc leukemia adalah proliferasi maligna / ganas limphoblast dalam sumsum tulang yang disebabkan oleh sel inti tunggal yang dapat bersifat sistemik. (Ngastiyah, 1997; Smeltzer & Bare, 2002; Tucker, 1997; Reeves & Lockart, 2002).
B.PENYEBAB ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Penyebab acut limphosityc leukemia sampai saat ini belum jelas, diduga kemungkinan karena virus (virus onkogenik) dan faktor lain yang mungkin berperan, yaitu:
1.Faktor eksogen
a.Sinar x, sinar radioaktif.
b.Hormon.
c.Bahan kimia seperti: bensol, arsen, preparat sulfat, chloramphinecol, anti neoplastic agent).
2.Faktor endogen
a.Ras (orang Yahudi lebih mudah terkena dibanding orang kulit hitam)
b.Kongenital (kelainan kromosom, terutama pada anak dengan Sindrom Down).
c.Herediter (kakak beradik atau kembar satu telur).
(Ngastiyah, 1997)
C.PATOFISIOLOGI ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Sel kanker menghasilkan leukosit yang imatur / abnormal dalam jumlah yang berlebihan. Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ, termasuk sumsum tulang dan menggantikan unsur-unsur sel yang normal. Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal. Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat, akibatnya terjadi penurunan jumlah leucosit, sel darah merah dan trombosit. Infiltrasi sel kanker ke berbagai organ menyebabkan pembersaran hati, limpa, limfodenopati, sakit kepala, muntah, dan nyeri tulang serta persendian. Penurunan jumlah eritrosit menimbulkan anemia, penurunan jumlah trombosit mempermudah terjadinya perdarahan (echimosis, perdarahan gusi, epistaksis dll.). Adanya sel kanker juga mempengaruhi sistem retikuloendotelial yang dapat menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah mengalami infeksi. Adanya sel kaker juga mengganggu metabolisme sehingga sel kekurangan makanan. (Ngastiyah, 1997; Smeltzer & Bare, 2002; Suriadi dan Rita Yuliani, 2001, Betz & Sowden, 2002).
D.TANDA DAN GEJALA ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Manifestasi klinik dari acut limphosityc leukemia antara lain:
1.Pilek tak sembuh-sembuh
2.Pucat, lesu, mudah terstimulasi
3.Demam, anoreksia, mual, muntah
4.Berat badan menurun
5.Ptechiae, epistaksis, perdarahan gusi, memar tanpa sebab
6.Nyeri tulang dan persendian
7.Nyeri abdomen
8.Hepatosplenomegali, limfadenopati
9.Abnormalitas WBC
10.Nyeri kepala
E.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PADA ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Pemeriksaan diagnostik yang lazim dilakukan pada anak dengan acut limphosityc leukemia adalah:
1.Pemeriksaan sumsum tulang (BMP / Bone Marrow Punction):
a.Ditemukan sel blast yang berlebihan
b.Peningkatan protein
2.Pemeriksaan darah tepi
a.Pansitopenia (anemia, lekopenia, trombositopneia)
b.Peningkatan asam urat serum
c.Peningkatan tembaga (Cu) serum
d.Penurunan kadar Zink (Zn)
e.Peningkatan leukosit dapat terjadi (20.000 – 200.000 / µl) tetapi dalam bentuk sel blast / sel primitif
3.Biopsi hati, limpa, ginjal, tulang untuk mengkaji keterlibatan / infiltrasi sel kanker ke organ tersebut
4.Fotothorax untuk mengkaji keterlibatan mediastinum
5.Sitogenik:
50-60% dari pasien ALL dan AML mempunyai kelainan berupa:
a.Kelainan jumlah kromosom, seperti diploid (2n), haploid (2n-a), hiperploid (2n+a)
b.Bertambah atau hilangnya bagian kromosom (partial delection)
c.Terdapat marker kromosom, yaitu elemen yang secara morfologis bukan komponen kromosom normal dari bentuk yang sangat besar sampai yang sangat kecil
F.PENGOBATAN PADA ALL
1.Transfusi darah, biasanya diberikan bila kadar Hb kurang dari 6 g%. Pada trombositopenia yang berat dan perdarahan masif, dapat diberi¬kan transfusi trombosit dan bila terdapat tanda tanda DIC dapat dibe¬rikan heparin.
2.Kortikosteroid (prednison, kortison, deksametason dan sebagainya). Setelah dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhir¬nya dihentikan.
3.Sitostatika. Selain sitostatika yang lama (6 merkaptopurin atau 6 mp, metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih poten seperti vinkristin (oncovin), rubidomisin (daunorubycine), sitosin, arabinosid, L asparaginase, siklofosfamid atau CPA, adriami¬sin dan sebagainya. Umumnya sitostatika diberikan dalam kombinasi bersama sama dengan prednison. Pada pemberian obat obatan ini sering terdapat akibat samping beru¬pa alopesia, stomatitis, leukopenia, infeksi sekunder atau kandidiagis. Hendaknya lebih berhziti hati bila jumiah leukosit kurang dari 2.000/mm3.
4.Infeksi sekunder dihindarkan (bila mungkin penderita diisolasi dalam kamar yang suci hama).
5.Imunoterapi, merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah ter¬capai remisi dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105 106), imunoterapi mulai diberikan. Pengobatan yang aspesifik dilakukan dengan pemberian imunisasi BCG atau dengan Corynae bacterium dan dimaksudkan agar terbentuk antibodi yang dapat memperkuat daya tahan tubuh. Pengobatan spesifik dikerjakan dengan penyunti¬kan sel leukemia yang telah diradiasi. Dengan cara ini diharapkan akan terbentuk antibodi yang spesifik terhadap sel leukemia, sehingga semua sel patologis akan dihancurkan sehingga diharapkan penderita leukemia dapat sembuh sempurna.
6.Cara pengobatan.
Setiap klinik mempunyai cara tersendiri bergantung pada pengalaman¬nya. Umumnya pengobatan ditujukan terhadap pencegahan kambuh dan mendapatkan masa remisi yang lebih lama. Untuk mencapai keadaan tersebut, pada prinsipnya dipakai pola dasar pengobatan sebagai berikut:
a.Induksi
Dimaksudkan untuk mencapai remisi, yaitu dengan pemberian berba¬gai obat tersebut di atas, baik secara sistemik maupun intratekal sam¬pai sel blast dalam sumsum tulang kurang dari 5%.
b.Konsolidasi
Yaitu agar sel yang tersisa tidak cepat memperbanyak diri lagi.
c.Rumat (maintenance)
Untuk mempertahankan masa remisi, sedapat dapatnya suatu masa remisi yang lama. Biasanya dilakukan dengan pemberian sitostatika separuh dosis biasa.
d.Reinduksi
Dimaksudkan untuk mencegah relaps. Reinduksi biasanya dilakukan setiap 3 6 bulan dengan pemberian obat obat seperti pada induksi se¬lama 10 14 hari.
e.Mencegah terjadinya leukemia susunan saraf pusat.
Untuk hal ini diberikan MTX intratekal pada waktu induksi untuk mencegah leukemia meningeal dan radiasi kranial sebanyak 2.400¬2.500 rad. untuk mencegah leukemia meningeal dan leukemia sereb¬ral. Radiasi ini tidak diulang pada reinduksi.
f.Pengobatan imunologik
Diharapkan semua sel leukemia dalam tubuh akan hilang sama sekali dan dengan demikian diharapkan penderita dapat sembuh sempurna.
(FKUI, 1985)
G.MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL PADA ANAK DENGAN ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
Adanya keganasan menimbulkan masalah keperawatan, antara lain:
1.Intoleransi aktivitas
2.Resiko tinggi infeksi
3.Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuahn
4.Resiko cedera (perdarahan)
5.Resiko kerusakan integritas kulit
6.Nyeri
7.Resiko kekurangan volume cairan
8.Berduka
9.Kurang pengetahuan
10.Perubahan proses keluarga
11.Gangguan citra diri / gambaran diri
H.PERAWATAN PADA ANAK DENGAN ACUT LIMPHOSITYC LEUCEMIA
1.Mengatasi keletihan / intoleransi aktivitas:
a.Kaji adanya tanda-tanda anemia: pucat, peka rangsang, cepat lelah, kadar Hb rendah.
b.Pantau hitung darah lengkap dan hitung jenis
c.Berikan cukup istirahat dan tidur tanpa gangguan
d.Minimalkan kegelisahan dan anjurkan bermain yang tenang
e.Bantu pasien dalam aktivitas sehari-hari
f.Pantau frekuensi nadi, prnafasan, sebelum dan selama aktivitas
g.Ketika kondisi membaik, dorong aktivitas sesuai toleransi
h.Jika diprogramkan, berikan packed RBC
2.Mencegah terjadinya infeksi
a.Observasi adanya tanda-tanda infeksi, pantau suhu badan laporkan jika suhu > 38oC yang berlangsung > 24 jam, menggigil dan nadi > 100 x / menit.
b.Sadari bahwa ketika hitung neutrofil menurun (neutropenia), resiko infeksi meningkat, maka:
1).Tampatkan pasien dalam ruangan khusus
2).Sebelum merawat pasien: cuci tangan dan memakai pakaian pelindung, masker dan sarung tangan.
3).Cegah komtak dengan individu yang terinfeksi
c.Jaga lingkungan tetap bersih, batasi tindakan invasif
d.Bantu ambulasi jika mungkin (membalik, batuk, nafas dalam)
e.Lakukan higiene oral dan perawatan perineal secara sering.
f.Pantau masukan dan haluaran serta pertahankan hidarasi yang adekuat dengan minum 3 liter / hari
g.Berika terapi antibiotik dan tranfusi granulosit jika diprogramkan
h.Yakinkan pemberian makanan yang bergizi.
3.Mencegah cidera (perdarahan)
a.Observasi adanya tanda-tanda perdarahan dengan inspeksi kulit, mulut, hidung, urine, feses, muntahan, dan lokasi infus.
b.Pantau tanda vital dan nilai trombosit
c.Hindari injesi intravena dan intramuskuler seminimal mungkin dan tekan 5-10 menit setiap kali menyuntik
d.Gunakan sikat gigi yang lebut dan lunak
e.Hindari pengambilan temperatur rektal, pengobatan rekatl dan enema
f.Hindari aktivitas yang dapat menyebabkan cidera fisik atau mainan yang dapat melukai kulit.
4.Memberikan nutrisi yang adekuat
a.Kaji jumlah makanan dan cairan yang ditoleransi pasien
b.Berikan kebersihan oral sebelum dan sesudah makan
c.Hindari bau, parfum, tindakan yang tidak menyenangkan, gangguan pandangan dan bunyi
d.Ubah pola makan, berikan makanan ringan dan sering, libatkan pasien dalam memilih makanan yang bergizi tinggi, timbang BB tiap hari
e.Sajikan makanan dalam suhu dingin / hangat
f.Pantau masukan makanan, bila jumlah kurang berikan ciran parenteral dan NPT yang diprogramkan.
5.Mencegah kekurangan cairan
a.Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi
b.Berikan antiemetik awal sebelum pemberian kemoterapi
c.Hindari pemberian makanan dan minuman yang baunya merangngsang mual / muntah
d.Anjurkan minum dalam porsi kecil dan sering
e.Kolaborasi pemberian cairan parenteral untuk mempertahankan hidrasi sesuai indikasi
6.Antisipasi berduka
a.Kaji tahapan berduka oada anak dan keluarga
b.Berikan dukungan pada respon adaptif dan rubah respon maladaptif
c.Luangkan waktu bersama anak untuk memberi kesempatan express feeling
d.Fasilitasi express feeling melalui permainan
7.Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang:
a.Proses penyakit leukemia: gejala, pentingnya pengobatan / perawatan.
b.Komplikasi penyakit leukemia: perdarahan, infeksi dll.
c.Aktivitas dan latihan sesuai toleransi
d.Mengatasi kecemasan
e.Pemberian nutrisi
f.Pengobatan dan efek samping pengobatan
8.Meningkatkan peran keluarga
a.Jelaskan alasan dilakukannya setiap prosedur pengobatan / dianostik
b.Jadwalkan waktu bagi keluarga bersama anak tanpa diganggu oleh staf SR
c.Dorong keluarga untuk express feelings
d.Libatkan keluarga dalam perencanaan dan pelaksanaan perawatan si anak
9.Mencegah gangguan citra diri / gambaran diri
a.Dorong pasien untuk express feelings tentang dirinya
b.Berikan informasi yang mendukung pasien ( misal; rambut akan tumbuh kembali, berat badan akan kembali naik jika terapi selesai dll.)
c.Dukung interaksi sosial / peer group
d.Sarankan pemakaian wig, topi / penutup kepala.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KELAINAN JANTUNG BAWAAN
I.PENGERTIAN
1.ASD ( Atrial Septum Defek) adalah kelainan jantung bawaan akibat adanya lubang pada septum interatrial. Berdasarkan letak lubang, ASD dibagi dalam tiga tipe :
a.ASD Sekundum, bila lubang terletak di daerah fossa ovallis.
b.ASD Primum, bila lubang terletak didaerah ostium primum (termasuk salah satu bentuk defek septum atrioventrikulare).
c.Defek sinus venosus, bila lubang terletak didaerah venosus (dekat muara vena kava superior dan inferior).
2.VSD (Ventrikulare Septum Defek) adalah suatu keadaan dimana ventrikel tidak terbentuk secara sempurna sehingga pembukaan antara ventrikel kiri dan kanan terganggu, akibat darah dari bilik kiri mengalir kebilik kananpada saat sistole.
Besarnya defek bervariasi mulai dari ukuran milimeter (mm) sampai dengan centi meter (cm), yaitu dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
a.VSD kecil : Diameter sekitar 1 – 5 mm, pertumbuhan anak dengan kadaan ini masih normal walaupun ada kecenderungan terjadi infeksi saluran pernafasan.
b.VSD besar / sangat besar : Diameter lebih dari setengah dari ostium aorta, tekanan ventrikel kanan biasanya meninggi.
3.KOARTASIO AORTA adalah kelainan yang terjadi pada aorta berupa adanya penyempitan didekat percabangan arteri subklavia kiri dari arkus aorta dan pangkal duktus arteriousus battoli.
4.BRONCHOPNEMONIA
Pnemoni adalah proses inflamasi pada parenkin paru
Bronchopnemoni adalah proses dari pnemoni yang dimulai dari bronkus dan menyebar kejaringan paru sekitarnya, hal ini menyebabkan adanya gangguan ventrikel
II.ETIOLOGI
1.Kelainan Jantung Bawaan : ASD, CSD, KOARTASI AORTA
Penyebab utama secara pasti tidak diketahui, akan tetapi ada beberapa faktor predisposisi terjadinya penyakit ini yaitu : Pada saat hamil ibu menderita rubella, ibu hamil yang alkoholik, usia ibu saat hamil lebih dari 40 tahun dan penderita IDDM.
2.Bronchopnemoni
Beberapa agent penyebab terjadinya Bronchopnemoni yaitu :
•Protozoa (pnemoni cranii)
•Bakteri
•Vival atau jamur pnemoni
III. PATHOFISIOLOGI
1.VSD ( Ventrikel Septum Defek ) :
•Adanya defek pada ventrikel, menyebabkan tekanan ventrikel kiri meningkat dan resistensi sirkulasi arteri sistemik lebih tinggi dibandingkan dengan resistensi pulmonal melalui defek septum.
•Volume darah di paru akan meningkat dan terjadi resistensi pembuluh darah paru. Dengan demikian tekanan ventrikel kanan meningkat akibat adanya shunting dari kiri ke kanan. Hal ini akan menyebabkan resiko endokarditis dan mengakibatkan terjadinya hipertrophi otot ventrikel kanan sehingga akan berdampak pada peningkatan workload sehingga atrium kanan tidak dapat mengimbangi meningkatnya workload, maka terjadilah pembesaran atrium kanan untuk mengatasi resistensi yang disebabkan oleh pengosongan atrium yang tidak sempurna.
2.BRONCHOPNEMONI
Agent yang masuk kedalam bronkus menyebabkan flora endogen yang normal menjadi patogen yang kemudian masuk terus kealveoli sehingga terjadi reaksi inflamasi yang mengakibatkan ekstravasasi cairan serosa kedalam alveoli. Adanya eksudat tersebut memberikan media bagi pertumbuhan bakteri (kuman), membran alveoli menjadi tersumbat sehingga menghambat aliran O2 kedalam perialveolar kapiler dibagian paru yang terkena dan mnyebar hampir keseluruh jaringan paru dan akhirnya terjadi hipoksemi
IV.KOMPLIKASI
1.ASD dan VSD
•Endokarditis
•Obtruksi pembuluh darah pulmonal (Hipertensi Pulmonal)
•Aritmia
•Henti jantung
2.KOARTASIO, kompliksi yang berbahaya adalah :
•Perdarahan otak
•Ruptur aorta
•Endokarditis
3.BRONCHOPNEMONI
•Abses paru
•Effusi pleura
•Empiema
•Gagal nafas
•Perikarditis
•Meningitis
•Atelektasis
V.GAMBARAN KLINIK
1.ASD
•Pertumbuhan dan perkembangan biasa seperti tidak ada kelainan
•Pada pirau kiri ke kanan sangat deras
•Pada stres : cepat lelah, mengeluh dispnea, sering mendapat infeksi saluran pernafasan.
•Pada palpasi : terdapat elainan ventrikel kanan hiperdinamik di parasternal kiri.
•Pada auskultasi, photo thorak, EKG : jelas terlihat ada kelainan.
•Ekhokardiografi : pasti ada kelainan jantung.
2.VSD (ventrikel septal defek)
•Pertumbuhan terhambat
•Diameter dada bertambah terlihat adanya benjolan dada kiri
•Pada palpasi dan auskultasi : adanya VSD besar :
Tekanan vena pulmonalis meningkat
Penutupan katub pulmonal teraba jelas pada sela iga 3 kiri dekat sternum
Kemungkinan teraba getaran bising pada dada
•Adanya tanda-tanda gagal jantung : sesak, terdapat murmur, distensi vena jugularis, udema tungkai, hepatomagali.
•Diaphoresis
•Tidak mau makan
•Tachipnea
3.KOARTASIO AORTA
•Pada bayi dapat terjadi gagal jantung
•Umumnya tidak ada keluhan, biasanya ditemukan secara kebetulan
•Palpasi : raba arteri radialis dan femoralis secra bersamaan
Pada arteri radialis lebih kuat
Pada arteri femoralis teraba lebih lemah
•Auskultasi :
Terdengar bisng koartasio pada punggung yang merupakan bising obtruksi
Jika lumen aorta sangat menyempit terdengar bising kontinue pada aorta.
4.BRONCHO PNEMONI
•Biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratoris beberapa hari.
•Suhu tubuh naik mendadak sampai 390 – 400 c.
•Kadang disertai kejang
•Anak gelisah, dispnea, nafas cepat dan dangkal, pernafasan cuping hidung.
•Auskultasi : terdengar ronchi
•Perkusi : untuk bronchopnemoni konfluens, ada keredupan.
VI.PENATALAKSANAAN
1.ASD (Artrial Septum Defek) :
•ASD kecil (diameter < 5 mm) karena tidak menyebabkan gangguan hemodinamik dan bahaya endokarditis infeksi, tidak perlu dilakukan operasi.
•ASD besar (diameter > 5 mm s/d beberapa centimeter), perlu tindaklan pembedahan dianjurkan < 6 tahun, karena dapat menyebabkan hipertensi pulmonal (walaupun lambat)
•Pembedahan : menutup defek dengan kateterisasi jantung
2.VSD (venrikel septal defek ) :
Pembedahan yang dilakukan untuk memperpanjang umur harapan hidup, dilakukan pada umur muda, yaitu dengan 2 cara :
•Pembedahan : menutup defek dengan dijahit melalui cardiopulmonal bypass
•Non pembedahan : menutup defek dengan alat melalui kateterisasi jantung
3.KOARTATIO AORTA :
Pembedahan yang dilakukan untuk mencegah obtruksi pembuluh aorta dengan dilakukan pelebaran arteri subklavia dan pangkalduktus arterious battoli yaitu dengan “ Open Heart”
4.BRONCHO PNEMONI
•Obat-obatan : antibiotik, ekspektoran, antipiretik, analgesik.
•Terapi oksigen dan melalui aerosol
•Fisioterapi nafas dan postural drainage
VII.PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Asuhan keperawatan yang dilakukan ditujukan pada beberapa masalah yang sering timbul dari kelainan jantung bawaan dan broncho pnemoni
1.Bahaya terjadinya gagal jantung
2.Resiko tinggi gagal nafas
3.resiko tinggi terjadi infeksi
4.kebutuhan nutrisi
5.gangguan rasa aman dan nyaman
6.pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Daftar Pustaka
1.Ngastiyah. (1995). Pedoman Anak Sakit . editor Setiawan S.Kp. EGC. Jakarta
2.Engram.B (1994). Rencana Asuhan KeperawatanMedikal Bedah. 1th. Ed. Editor Monica ester, S.Kp. EGC. Jakarta
3.Sariadai, S.kp & Rita Yuliani, S.kp. Asuhan Keperawatan Pada Anak. PT. Fajar interpratama. Jakarta
1.ASD ( Atrial Septum Defek) adalah kelainan jantung bawaan akibat adanya lubang pada septum interatrial. Berdasarkan letak lubang, ASD dibagi dalam tiga tipe :
a.ASD Sekundum, bila lubang terletak di daerah fossa ovallis.
b.ASD Primum, bila lubang terletak didaerah ostium primum (termasuk salah satu bentuk defek septum atrioventrikulare).
c.Defek sinus venosus, bila lubang terletak didaerah venosus (dekat muara vena kava superior dan inferior).
2.VSD (Ventrikulare Septum Defek) adalah suatu keadaan dimana ventrikel tidak terbentuk secara sempurna sehingga pembukaan antara ventrikel kiri dan kanan terganggu, akibat darah dari bilik kiri mengalir kebilik kananpada saat sistole.
Besarnya defek bervariasi mulai dari ukuran milimeter (mm) sampai dengan centi meter (cm), yaitu dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
a.VSD kecil : Diameter sekitar 1 – 5 mm, pertumbuhan anak dengan kadaan ini masih normal walaupun ada kecenderungan terjadi infeksi saluran pernafasan.
b.VSD besar / sangat besar : Diameter lebih dari setengah dari ostium aorta, tekanan ventrikel kanan biasanya meninggi.
3.KOARTASIO AORTA adalah kelainan yang terjadi pada aorta berupa adanya penyempitan didekat percabangan arteri subklavia kiri dari arkus aorta dan pangkal duktus arteriousus battoli.
4.BRONCHOPNEMONIA
Pnemoni adalah proses inflamasi pada parenkin paru
Bronchopnemoni adalah proses dari pnemoni yang dimulai dari bronkus dan menyebar kejaringan paru sekitarnya, hal ini menyebabkan adanya gangguan ventrikel
II.ETIOLOGI
1.Kelainan Jantung Bawaan : ASD, CSD, KOARTASI AORTA
Penyebab utama secara pasti tidak diketahui, akan tetapi ada beberapa faktor predisposisi terjadinya penyakit ini yaitu : Pada saat hamil ibu menderita rubella, ibu hamil yang alkoholik, usia ibu saat hamil lebih dari 40 tahun dan penderita IDDM.
2.Bronchopnemoni
Beberapa agent penyebab terjadinya Bronchopnemoni yaitu :
•Protozoa (pnemoni cranii)
•Bakteri
•Vival atau jamur pnemoni
III. PATHOFISIOLOGI
1.VSD ( Ventrikel Septum Defek ) :
•Adanya defek pada ventrikel, menyebabkan tekanan ventrikel kiri meningkat dan resistensi sirkulasi arteri sistemik lebih tinggi dibandingkan dengan resistensi pulmonal melalui defek septum.
•Volume darah di paru akan meningkat dan terjadi resistensi pembuluh darah paru. Dengan demikian tekanan ventrikel kanan meningkat akibat adanya shunting dari kiri ke kanan. Hal ini akan menyebabkan resiko endokarditis dan mengakibatkan terjadinya hipertrophi otot ventrikel kanan sehingga akan berdampak pada peningkatan workload sehingga atrium kanan tidak dapat mengimbangi meningkatnya workload, maka terjadilah pembesaran atrium kanan untuk mengatasi resistensi yang disebabkan oleh pengosongan atrium yang tidak sempurna.
2.BRONCHOPNEMONI
Agent yang masuk kedalam bronkus menyebabkan flora endogen yang normal menjadi patogen yang kemudian masuk terus kealveoli sehingga terjadi reaksi inflamasi yang mengakibatkan ekstravasasi cairan serosa kedalam alveoli. Adanya eksudat tersebut memberikan media bagi pertumbuhan bakteri (kuman), membran alveoli menjadi tersumbat sehingga menghambat aliran O2 kedalam perialveolar kapiler dibagian paru yang terkena dan mnyebar hampir keseluruh jaringan paru dan akhirnya terjadi hipoksemi
IV.KOMPLIKASI
1.ASD dan VSD
•Endokarditis
•Obtruksi pembuluh darah pulmonal (Hipertensi Pulmonal)
•Aritmia
•Henti jantung
2.KOARTASIO, kompliksi yang berbahaya adalah :
•Perdarahan otak
•Ruptur aorta
•Endokarditis
3.BRONCHOPNEMONI
•Abses paru
•Effusi pleura
•Empiema
•Gagal nafas
•Perikarditis
•Meningitis
•Atelektasis
V.GAMBARAN KLINIK
1.ASD
•Pertumbuhan dan perkembangan biasa seperti tidak ada kelainan
•Pada pirau kiri ke kanan sangat deras
•Pada stres : cepat lelah, mengeluh dispnea, sering mendapat infeksi saluran pernafasan.
•Pada palpasi : terdapat elainan ventrikel kanan hiperdinamik di parasternal kiri.
•Pada auskultasi, photo thorak, EKG : jelas terlihat ada kelainan.
•Ekhokardiografi : pasti ada kelainan jantung.
2.VSD (ventrikel septal defek)
•Pertumbuhan terhambat
•Diameter dada bertambah terlihat adanya benjolan dada kiri
•Pada palpasi dan auskultasi : adanya VSD besar :
Tekanan vena pulmonalis meningkat
Penutupan katub pulmonal teraba jelas pada sela iga 3 kiri dekat sternum
Kemungkinan teraba getaran bising pada dada
•Adanya tanda-tanda gagal jantung : sesak, terdapat murmur, distensi vena jugularis, udema tungkai, hepatomagali.
•Diaphoresis
•Tidak mau makan
•Tachipnea
3.KOARTASIO AORTA
•Pada bayi dapat terjadi gagal jantung
•Umumnya tidak ada keluhan, biasanya ditemukan secara kebetulan
•Palpasi : raba arteri radialis dan femoralis secra bersamaan
Pada arteri radialis lebih kuat
Pada arteri femoralis teraba lebih lemah
•Auskultasi :
Terdengar bisng koartasio pada punggung yang merupakan bising obtruksi
Jika lumen aorta sangat menyempit terdengar bising kontinue pada aorta.
4.BRONCHO PNEMONI
•Biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratoris beberapa hari.
•Suhu tubuh naik mendadak sampai 390 – 400 c.
•Kadang disertai kejang
•Anak gelisah, dispnea, nafas cepat dan dangkal, pernafasan cuping hidung.
•Auskultasi : terdengar ronchi
•Perkusi : untuk bronchopnemoni konfluens, ada keredupan.
VI.PENATALAKSANAAN
1.ASD (Artrial Septum Defek) :
•ASD kecil (diameter < 5 mm) karena tidak menyebabkan gangguan hemodinamik dan bahaya endokarditis infeksi, tidak perlu dilakukan operasi.
•ASD besar (diameter > 5 mm s/d beberapa centimeter), perlu tindaklan pembedahan dianjurkan < 6 tahun, karena dapat menyebabkan hipertensi pulmonal (walaupun lambat)
•Pembedahan : menutup defek dengan kateterisasi jantung
2.VSD (venrikel septal defek ) :
Pembedahan yang dilakukan untuk memperpanjang umur harapan hidup, dilakukan pada umur muda, yaitu dengan 2 cara :
•Pembedahan : menutup defek dengan dijahit melalui cardiopulmonal bypass
•Non pembedahan : menutup defek dengan alat melalui kateterisasi jantung
3.KOARTATIO AORTA :
Pembedahan yang dilakukan untuk mencegah obtruksi pembuluh aorta dengan dilakukan pelebaran arteri subklavia dan pangkalduktus arterious battoli yaitu dengan “ Open Heart”
4.BRONCHO PNEMONI
•Obat-obatan : antibiotik, ekspektoran, antipiretik, analgesik.
•Terapi oksigen dan melalui aerosol
•Fisioterapi nafas dan postural drainage
VII.PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Asuhan keperawatan yang dilakukan ditujukan pada beberapa masalah yang sering timbul dari kelainan jantung bawaan dan broncho pnemoni
1.Bahaya terjadinya gagal jantung
2.Resiko tinggi gagal nafas
3.resiko tinggi terjadi infeksi
4.kebutuhan nutrisi
5.gangguan rasa aman dan nyaman
6.pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Daftar Pustaka
1.Ngastiyah. (1995). Pedoman Anak Sakit . editor Setiawan S.Kp. EGC. Jakarta
2.Engram.B (1994). Rencana Asuhan KeperawatanMedikal Bedah. 1th. Ed. Editor Monica ester, S.Kp. EGC. Jakarta
3.Sariadai, S.kp & Rita Yuliani, S.kp. Asuhan Keperawatan Pada Anak. PT. Fajar interpratama. Jakarta
Jumat, 25 Juni 2010
Pengaruh Konseling Keluarga Terhadap Perbaikan Peran Klien
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai dampak positif pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah adalah adanya pergeseran pola penyakit di Indonesia. Penyakit infeksi dan kekurangan gizi berangsur turun, diikuti dengan meningkatnya penyakit degeneratif atau tidak menular. Salah satunya adalah Diabetes Mellitus.
Jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) di dunia mengalami peningkatan dengan data yang ada pada tahun 1994 = 110,4 juta, 1998 = ±150 juta, tahun 2000 = 175,4 juta, tahun 2010 = 279,3 juta dan tahun 2020 = 300 juta. Sedangkan di Indonesia atas dasar prevalensi ± 1,5 % dapatlah diperkirakan jumlah penderita DM pada tahun 1994 = 2,5 juta, 1998 = 3,5 juta, tahun 2010 = 5 juta dan 2020 = 6,5 juta (Majalah Diabetes Surabaya, 2001: volume 1).
Meningkatnya prevalensi DM di Indonesia, diduga ada hubungannya dengan cara hidup (pola makan) seiring dengan kemakmuran yang meningkat, hal ini tercermin dari pendapatan Indonesia tahun 1995 setinggi US $ 1030. Pola makan bergeser dari pola makan tradisional yang banyak mengandung karbohidrat, serat dan sayuran ke pola makan kebarat-baratan dengan komposisi yang terlalu banyak mengandung protein, lemak, gula, garam, dan sedikit serat. Hal ini juga didukung oleh kurangnya peran keluarga dalam pengelolaan pada salah satu anggota keluarga yang menderita Diabetes Mellitus. Selain juga pola makan, gaya hidup yang sangat sibuk, duduk di belakang meja menyebabkan tidak adanya kesempatan untuk rekreasi atau olah raga sehingga menyebabkan tingginya angka penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes dan hiperlipidemia. Di samping cara hidup dan gaya hidup, peran keluarga dalam pengelolaan pasien Diabetes Mellitus juga belum optimal.
Diabetes Mellitus jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, syaraf dan lain-lain. Dengan pengalaman yang baik, yaitu kerja sama antara pasien, keluarga, dan petugas kesehatan, diharapkan komplikasi kronik DM akan dapat dicegah, setidaknya dihambat perkembangannya. Untuk mencapai hal tersebut, keikutsertaan pasien, keluarga untuk mengelola anggota keluarganya menjadi sangat penting. Demikian pula adanya para petugas kesehatan sebagai penyuluh bagi keluarga dalam membantu pasien dengan Diabetes Mellitus. Guna mendapatkan hasil yang maksimal, penyuluhan bagi para petugas kesehatan sangat diperlukan agar informasi yang diberikan pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus bermanfaat.
Berdasarkan penemuan fakta di atas, maka perlu dilakukan penelitian guna membuktikan pengaruh konseling keluarga terhadap peran keluarga dalam mengelola anggota keluarga dengan DM, sehingga peneliti ingin meneliti pengaruh konseling keluarga terhadap peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus di wilayah kerja Puskesmas Torjun.
Perumusan Masalah
Pernyataan Masalah
Keluarga dengan salah satu anggotanya menderita DM belum berperan secara optimal dalam mengelola anggota keluarga dengan DM tersebut. Belum berperannya keluarga secara optimal itu disebabkan oleh kurangnya informasi tentang pengelolaan penderita DM yang diperoleh keluarga. Kurangnya informasi tentang pengelolaan DM yang diperoleh keluarga dapat menyebabkan ketidaktahuan keluarga yang berarti akan mengurangi peran dari keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pernyataan masalah tersebut maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian, yaitu:
Bagaimanakah pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Mempelajari dan membuktikan pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Tujuan Khusus
1)Mengidentifikasi peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM.
2)Mengidentifikasi peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM.
3)Mengidentifikasi peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM.
4)Mengidentifikasi peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemi pada anggota keluarga dengan DM.
5)Membuktikan pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam mengelola anggota keluarga dengan DM.
Manfaat Penelitian
1)Hasil penelitian ini dapat meningkatkan perkembangan ilmu tentang pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan pasien Diabetes Mellitus.
2)Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi tempat pelayanan kesehatan untuk meningkatkan pelayanan terutama dalam bidang konseling.
3)Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan konseling keluarga.
4)Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, dan dapat dimanfaatkan ilmuwan lain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Relevansi
Pola makan dan gaya hidup merupakan penyebab terjadinya penyakit DM. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi pada penderita DM adalah dengan adanya peran keluarga dalam hal pengaturan pola makan, latihan jasmani, perawatan kaki dan pengelolaan obat hypoglikemia, sehingga konseling tentang hal itu perlu diberikan pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan disajikan konsep dasar konseling keluarga, peran keluarga dan pengelolaan Diabetes Mellitus.
Pertama konseling keluarga yang meliputi pengertian konseling keluarga, masalah-masalah keluarga, pendekatan konseling keluarga, tujuan konseling keluarga, bentuk konseling keluarga, proses dan tahapan konseling keluarga dan faktor yang mempengaruhi keberhasilan konseling.
Kedua peran keluarga yang meliputi pengertian keluarga, fungsi keluarga, peran keluarga.
Ketiga pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang meliputi pengertian DM, tujuan pengelolaan, kriteria pengendalian, cara menentukan status gizi, perencanaan makan, latihan jasmani, pemeliharaan kaki dan obat hipoglikemi.
Konseling keluarga
Pengertian
Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi khusus yang berfokus pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga (Latipun, 2001: 174-175). Konseling keluarga merupakan bagian penting dalam pengelolaan DM karena pada konseling keluarga memandang bahwa keluarga tidak hanya dilihat sebagai faktor yang menimbulkan masalah, tetapi menjadi bagian yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah, dimana keluarga dan anggota keluarga merupakan sistem yang saling mempengaruhi sehingga untuk mengubah masalah yang dialami anggota keluarga diperlukan perubahan dalam sistem keluarganya dan permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain.
Masalah-masalah keluarga
Berdasarkan pengalaman dalam penanganan konseling keluarga masalah yang dihadapi adalah: Keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orang tua, konflik antar anggota keluarga, perpisahan dengan anggota keluarga karena kerja diluar daerah, anak yang mengalami kesulitan belajar atau sosialisasi dan salah dalam memberi pengelolaan pada anggota yang bermasalah. Berbagai permasalahan tersebut dapat terselesaikan melalui konseling keluarga. Konseling keluarga ini menjadi lebih efektif untuk mengatasi masalah jika semua anggota mau merubah sistem yang ada dengan cara yang baru untuk membantu mengatasi anggota keluarga yang bermasalah.
Pendekatan Konseling Keluarga
Dalam pelaksanaan konseling keluarga dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu:
1.Pendekatan sistem keluarga.
Menurut Murray Bowen anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (Disfunctioning Family). Karenanya dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama atau melawan yang mengarah pada individualitas.
2.Pendekatan Conjoint
Menurut Satir (1967) (dikutip dari Latipun, 2001) anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain, karena keluarga adalah fungsi bagi keperluan komunikasi dan kesehatan mental sehingga masalah yang dihadapi adalah harga diri (Self Esteem) dan komunikasi, dimana masalah terjadi jika self esteem yang dibentuk oleh keluarga itu sangat rendah dan komunikasi dalam keluarga itu juga tidak baik.
3.Pendekatan struktural
Minuchin (1974) (dikutip dari Latipun, 2001) beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun tidak tepat, dimana batas – batas antara subsistem dari sistem keluarga itu tidak jalas, sehingga untuk mengatasi keluarga yang bermasalah perlu dirumuskan kembali struktur keluarga itu dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai.
Dari berbagai pandangan para ahli tentang pendekatan konseling keluarga maka akan memudahkan penetapan strategi yang tepat untuk membantu keluarga.
Tujuan Konseling Keluarga
Tujuan konseling keluarga oleh para ahli dirumuskan secara berbeda sesuai dengan pendekatan yang dikemukakan di atas. Pada umumnya tujuan konseling keluarga adalah:
1.Memfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antar anggota.
2.Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi.
3.Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditujukan kepada anggota keluarganya yang lain.
Bentuk Konseling Keluarga
Dalam pelaksanaannya konseling berbentuk:
1.Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks system
Pada pelaksanaan bentuk konseling ini klien merupakan bagian dari system keluarga, sehingga masalah yang dialami dan pemecahannya tidak bisa mengesampingkan peran keluarga.
2.Berfokus pada saat ini
Pelaksanaan bentuk konseling ini adalah mengatasi masalah yang dihadapi klien saat ini, bukan masa lampau.
Untuk bentuk konvensionalnya, konseling disesuaikan dengan keperluannya dimana seluruh anggota keluarga harus ikut serta dalam konseling karena mereka tidak hanya berbicara tentang keluarganya tetapi juga terlibat dalam penyusunan rencana perubahan dan tindakannya.
Proses dan Tahap Konseling Keluarga
Dalam mengatasi masalah pada keluarga terjadi beberapa tahap:
1.Sesi pengenalan
Pada sesi ini terjadi perkenalan antara petugas dengan keluarga , dan juga adanya identifikasi masalah.
2.Sesi Pengajaran
Pada sesi ini keluarga mendapatkan pendidikan dalam bentuk perilaku.
3.Sesi Model
Pada sesi ini keluarga melihat cara mengimplementasikan perilaku yang telah dipelajari pada sesi pengajaran.
4.Sesi Terapis/trial
Dimana sesi ini keluarga mencoba mengimplementasikan perilaku yang telah didapat.
5.Sesi penerapan dan evaluasi
Pada sesi ini keluarga menerapkan apa yang telah didapat dan perawat mengevaluasi dengan cara melakukan kunjungan rumah.
Faktor yang berpengaruh pada keberhasilan konseling yang berhubungan dengan karakteristik subyek.
Usia klien
Usia dapat mempengaruhi hasil konseling. Klien berusia dewasa dimungkinkan lebih sulit dilakukan modifikasi persepsi dan tingkah lakunya dibandingkan dengan klien yang berusia belasan tahun, karena berhubungan dengan fleksibelitas kepribadiannya.
Jenis kelamin
Jenis kelamin, terutama berkaitan dengan perilaku model, bahwa individu melakukan modeling sesuai dengan jenis seksnya. Dalam proses konseling, factor modeling ini sangat penting dalam upaya pembentukan tingkah laku baru.
Tingkat pendidikan
Pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandangnya terhadap diri dan lingkungannya, sehingga akan berbeda cara menyikapi proses berlangsungnya konseling pada klien yang berpendidikan tinggi dengan berpendidikan rendah.
Intelegensi
Intelegensi pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri dan cara – cara pengambilan keputusan. Klien yang berintelegensi tinggi akan banyak berpartisipasi dalam proses konseling, lebih cepat dan tepat dalam membuat keputusan.
Status sosial ekonomi
Status social ekonomi berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Individu yang berasal dari keluarga status social ekonomi yang baik akan mempunyai sikap dan pandangan yang positif tentang masa depannya dibandingkan mereka yang berstatus social ekonomi rendah.
Sosial budaya
Yang termasuk dalam social budaya adalah pandangan keagaman, kelompok etnis dimana hal ini sangat berpengaruh pada proses berlangsungnya konseling.
Peran Keluarga
Pengertian
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan didalam perannya masing – masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Salvian G Bailon dan A. Maglaya, 1989).
Fungsi Keluarga
Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga, yaitu:
1.Fungsi pendidikan
Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan bila kelak dewasa nanti.
2.Fungsi sosialisasi anak
Tugas keluarga adalah mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3.Fungsi perlindungan
Dalam hal ini keluarga bertugas melindungi anak dari tindakan – tindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan aman
4.Fungsi perasaan
Tugas keluarga adalah menjaga secara intuitif, merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5.Fungsi religius
Dalam fungsi ini keluarga bertugas memperkenalkan dan mngajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama dan kepala keluarga bertugas menanamkan keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan ini serta ada kehidupan lain sebelum ini.
6.Fungsi ekonomis
Dalam fungsi ini kepala keluarga bertugas mencari sumber penghidupan dalam memenuhi fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja memperoleh penghasilan, mengatur penghasilan sehingga dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
7.Fungsi rekreatif
Pada fungsi ini tidak berarti harus pergi ke tempat rekreasi, tetapi bagaimana untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga dapat mencapai keseimbangan kepribadian masing – masing anggotanya.
8.Fungsi biologis
Yang utama dalam tugas ini adalah untuk meneruskan keturunan sebagai generasi penerus dalam keluarga.
Dari berbagai fungsi di atas ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarga, yaitu:
Asih, yang berarti memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga, sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.
Asuh, yaitu menuju pada kebutuhan dan perawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara, sehingga mereka menjadi anak – anak yang sehat baik fisik, mental, social dan spiritual.
Asah, yang berarti memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.
Peran Keluarga
Keluarga merupakan system pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan baik sehat maupun sakit pada anggota keluarga yang lain.
Umumnya keluarga meminta bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak lagi sanggup merawat. Oleh karena itu asuhan keperawatan yang berfokus pada keluarga bukan hanya memulihkan keadaan anggota keluarga yang sakit, tetapi juga mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan dalam keluarga tersebut.
Dari bermacam pandangan teori yang ada disebutkan bahwa keluarga adalah sebagai faktor kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus. Faktor kontribusi tersebut adalah
Menurut L. Green yang dikutip oleh Herawati …(et. al) (2001) mengemukakan teori yang menggambarkan hubungan pendidikan kesehatan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan menjadi 3 faktor yaitu faktor predisposisi yang merupakan faktor internal yang ada pada diri individu, keluarga dan kelompok/masyarakat yang mempermudah individu untuk berperilaku. Faktor yang kedua adalah faktor pemungkin yaitu yang memunkinkan individu untuk berperilaku karena tersedianya sumber daya, keterjangkauan, rujukan dan keterampilan. Sedangkan faktor yang ketiga adalah faktor penguat yaitu yang menguatkan perilaku seperti sikap dan keterampilan petugas, teman sebaya, orang tua dan anggota keluarga yang lain.
Dari bermacam pandangan teori yang ada disebutkan bahwa keluarga adalah sebagai faktor kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus. Faktor kontribusi tersebut adalah :
Tingkat pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. (Notoatmodjo, 1997 ). Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni; indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan suatu keluarga, karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974)(dikutip dari Friedman) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, begitu juga dalam keluarga, yaitu :
1.Awareness (kesadaran) dimana orang atau keluarga tersebut menyadari dalam arti lebih mengetahui lebih dulu terhadap stimulus atau obyek.
2.Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut, disini sikap subyek sudah mulai timbul.
3.Evaluasion (menimbang – nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi diri atau keluarganya. Dalam hal ini sikap responden sudah lebih baik lagi.
4.Trial, dimana subyek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
5.Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap seperti tersebut di atas.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan , kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng dan sebaliknya jika tidak didasari oleh pengetahuan , kesadaran dan sikap yang positif perilaku tersebut akan bersifat tidak langgeng.
Menurut Bloom, pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni:
1.Tahu
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang dipelajari sebelumnya, termasuk didalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2.Memahami
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyak yang diketahuai, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang atau keluarga yang telah paham terhadap materi harus dapat menjelaskan, menyimpulkan terhadap obyek yang dipelajari.
3.Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi-materi yang dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
4.Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masalah didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masalah tersebut ada kaitannya satu sama lain.
5.Sintesis
Sintesis menunjukkan kepada suatu bentuk kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau menyusun formulasi baru yang ada.
6.Evaluasi
Ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
Mengacu pada konsep pengetahuan di atas, bila kita kaitkan dengan berbagai alasan ketidakmampuan dalam melaksanakan tugas-tugas keluarga, maka perawat bertugas membantu keluarga dalam melakukan 5 tugas keluarga dalam memahami kebutuhan kesehatan anggotanya. Baylon dan Maglaya (1978) menyatakan bahwa 5 tugas keluarga tersebut adalah :
a.Mengenal masalah kesehatan keluarga.
b.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat.
c.Merawat anggota keluarga yang sakit.
d.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga .
e.Menggunakan sumber di masyarakat guna memelihara kesehatan.
Keluarga yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah adalah dapat mencegah (pencegahan primer), menanggulangi (pencegahan sekunder) dan memulihkan (pencegahan tersier) untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka keluarga perlu mendapat konseling agar peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetus Mellitus bisa optimal.
Tingkat kemampuan keluarga
Yang dimaksud kemampuan keluarga adalah menyangkut tingkat ketrampilan keluarga dalam merawat anggota keluarganya yang mengalami gangguan kesehatan. Ketrampilan dapat berkembang bukan hanya dengan cara membaca ataupun mendengar tetapi juga dengan mengerjakan secara berulang-ulang setelah diberikan pembelajaran. Sedangkan bentuk ketrampilan tersebut dapat berupa ketrampilan bergerak atau bertindak dan ketrampilan verbal atau nonverbal.
Wahyo Samijo, (1987) mengungkapkan bahwa ketrampilan merupakan salah satu factor yang mendorong keluarga untuk berperilaku. Pendapat lain mengungkapkan ketrampilan merupakan penguatan bagi perilaku yang dikehendaki dan sebaiknya dilakukan secara konsisten (BF. Sekiner, 1997) (dikutip dari Notoatmodjo,93).
Sehubungan dengan peran dan tugas dalam kesehatan, keluarga diharapkan memiliki kemampuan yang dapat mengatasi problem-problem kesehatan dalam anggota keluarganya. Nasrul Efendy, (1998) menyatakan bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh keluarga dalam melakukan tugas kesehatan keluarga tersebut meliputi:
1.Mengenal masalah kesehatan keluarga
2.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat
3.Merawat anggota keluarga yang sakit
4.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga yang sakit
5.Menggunakan sumber dimasyarakat guna memelihara kesehatan.
Pengelolaan Anggota Keluarga Dengan Diabetes Mellitus
Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus merupakan sekumpulan gejala pada seseorang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif, dengan tanda dan gejala awal yang sering dikeluhkan pasien atau penderita DM adalah rasa haus, banyak kencing, rasa lapar, badan terasa lemas, dan berat badan yang turun (Dalimartha Setiawan, 2002 ).
Tujuan Pengelolaan
Untuk dapat berhasil mengelola pasien dengan baik diperlukan perencanaan yang matang berupa tujuan jangka pendek, tujuan jangka panjang, tindakan dan kegiatan yang dilakukan, pemeriksaan berkala, serta penyuluhan. Berikut ini perencanaan yang dimaksud:
1.Tujuan jangka pendek
Yaitu menghilangkan keluhan dan gejala penyakit Diabetes Mellitus.
2.Tujuan jangka panjang
Yaitu mencegah komplikasi kronis yang dapat menyerang pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, syaraf, kulit dan kaki.
3.Tindakan yang dilakukan
Adalah menormalkan kadar glukosa, lemak, insulin dalam darah dan memberikan pengobatan bila terdapat penyakit kronis lainnya.
4.Kegiatan yang dilakukan
Kunjungan pertama dilakukan pemeriksaan fisik lengkap untuk mengetahui status gizi, komplikasi yang mungkin sudah timbul, dan adanya penyakit kronis lainnya. Pemeriksaan fisik lengkap meliputi:
Pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah
Menanyakan dan mencari tanda gangguan syaraf seperti rasa
kesemutan
Memeriksa keadaan kaki dan denyut nadi
Pemeriksaan EKG
Rotgen dada
Pemeriksaan fundus mata.
Pemeriksaan laboratorium standart, yang meliput:
a.Darah; darah rutin, gula darah puasa dan dua jam setelah makan, albumin, kolesterol total, HDL & LDL kolesterol, HbA1c, kreatinin, SGPT (ALT) serta trigliserida.
b.Urine; sedimen, albumin, bakteri
c.Laboratorium tambahan yang sesuai dengan kebutuhan.
Pemeriksaan HbA1c, gula darah puasa dan dua jam setelah puasa setiap tiga bulan.
Pemeriksaan fisik lengkap diulang tiap satu tahun
Penyuluhan.
Kriteria pengendalian
Kriteria pengendalian penyakit Diabetes Mellitus meliputi
No
Bagian yang diperiksa
Baik
Sedang
Buruk
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Kadar glukosa darah (plasma vena mg/dl)
a.puasa
b.2 jam pp*
HbA1c (%)
Kolesterol total (mg/dl)
Kolesterol LDL (mg/dl)
a.Tanpa PJK **
b.Dengan PJK
Kolesterol HDL (mg/dl) Trigliserida (mg/dl)
a.Tanpa PJK
b.Dengan PJK
Indeks massa tubuh***
Wanita
Pria
Tekanan darah (mmHg)
80-109
110-159
4-5,9
< 200
< 130
< 100
45
< 200
< 150
18,5-22,9
20-24,9
< 140/90
110-139
160-199
6-8
200-239
130-159
100-129
35-45
200-245
150-199
23-25
25-27
140-160/90-95
140
200
8
240
160
130
< 35
250
200
25/ <18,5
27/ <20
> 160/95
Sumber : Dalimartha Setiawan, (2002 hal 22)
Keterangan :
*) PP = Post Prandial, sesudah makan
**) PJK = Penyakit jantung koroner
***) Indeks masa tubuh (IMT) = Body mass indeks (BMI)
Pasien dengan usia >60 tahun, nilai normal glukosanya adalah: puasa <150 mg/dl, sesudah makan <200 mg/dl. Hal ini disebabkan karena sifat khusus dari usia lanjut dan mencegah kemungkinan timbulnya hipoglikemia.
Cara menentukan status gizi (Dalimartha Setiawa, dr hal 23 - 24)
Indeks Masa Tubuh (IMT)
Keterangan :
BB : Berat Badan
TB : Tinggi Badan
BB Idaman (100%) : IMT Normal
Wanita = 18,5 – 22,9 kg/m2
Pria = 20 – 24,9 kg/m2
BB Normal : 90 – 110% BB Idaman
BB Kurang : <90% BB Idaman
BB over (Gemuk) : 110 – 120% BB Idaman
Obesitas (tambun) : > 120% BB Idaman
Berat Badan Relatif (BBR)
Keterangan:
Normal (ideal) : BBR 90 – 110%
Kurus (underweight) : BBR <90%
Gemuk (over weight) : BBR >110%
Obesitas (tambun) : BBR >120%
Obesitas ringan : BBR 120 – 130 %
Obesitas sedang : BBR 130 – 140%
Obesitas berat : BBR 140 - 200%
Obesitas morbid : BBR >200%
Berat Badan Ideal (BBI)
Rumus Broca :
Bbi (kg) = (TB(cm) – 100) – 10% (BB)
Dengan catatan orang yang berusia > 40 tahun dan tinggi badan <150 cm tidak dikurangi dengan 10 % berat badan (Dalimartha Setiawan, 2002 hal 24 )
Perencanaan makan
Dalam buku yang berjudul ramuan tradisional untuk pengobatan Diabetes Mellitus, Dalimartha Setiawan menyebutkan bahwa perencanaan makan sebenarnya merupakan penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori penderita sesuai dengan usia, berat badan (status gizi), aktivitas sehari – hari, jenis kelamin, beratnya penyakit yang diderita serta penyakit lainnya. Sehingga total kalori dan komposisi makanan ditentukan dalam range (kisaran persentasi, bukan suatu angka mutlak).
Dalam penyusunan menu sebaiknya diusahakan mendekati kebiasaan makan sehari – hari, sederhana, bervariasi, dan mudah dilaksanakan, seimbang serta sesuai kebutuhan dengan tidak mengesampingkan cara hidup, selera, adat serta kebiasaan penderita. Kalau tidak pasti akan ditinggalkan (Dalimartha Setiawan, 2002).
Jadwal makan penderita DM adalah porsi kecil tapi sering. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah peningkatan kadar glukosa darah yang sekaligus tinggi dan juga hipoglikemia bagi pemakai insulin.
Komposisi menu pada makanan sehari – hari dianjurkan seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah – buahan. Komposisi standart makanan yang dianjurkan pada penderita DM sehari – hari adalah:
Karbohidrat : 60 – 70 %
Protein : 10 – 15 %
Lemak : 20 – 25 %
Jumlah kandungan kolesterol < 300 mg/hari, dengan mengutamakan serat yang larut dalam air
Garam secukupnya untuk menghindari darah tinggi.
Pemanis secukupnya.
Untuk jumlah kalori yang dibutuhkan penderita DM setiap hari yang bekerja biasa adalah:
Kurus : BB x 40 – 60 kalori / hari
Normal : BB x 30 kalori / hari
Gemuk : BB x 20 kalori / hari
Obesitas : BB x 10 – 15 kalori / hari
Adapun jumlah kalori yang terkandung dalam zat makan pada setiap gramnya adalah:
No.
Zat Makanan
Jumlah kalori
1.
2.
3.
4.
1 gram karbohidrat
1 gram protein
1 gram lemak
1 gram alkohol
4 kalori
4 kalori
9 kalori
7 kalori
Sumber : Dalimartha Setiawan, (2002 hal 26).
Apabila terjadi keseimbangan antara makanan yang masuk dengan kebutuhan, dan kemampuan tubuh untuk mengolahnya maka diharapkan glukosa darah terkontrol dalam batas – batas normal. Selain itu juga tersedia cukup tenaga untuk kegiatan sehari – hari penderita dan berat badan juga ideal.
Latihan Jasmani
Menurut Dalimartha Setiawan (2002), yang dimaksud dengan latihan jasmani bagi penderita DM adalah Aerobik yaitu olahraga yang berjalan terus menerus dan berlangsung dalam waktu cukup lama serta dilakukan secara sadar. Dengan melakukan latihan jasmani secara teratur dan berkesinambungan diharapkan kadar glukosa darah akan turun.
Untuk penderita yang tergantung insulin ringan atau sedang latihan jasmani bisa dilakukan dengan aman, tapi bagi penderita yang mempunyai resiko atau disertai komplikasi maka latihan jasmani sebaiknya dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu.
Manfaat dari latihan jasmani adalah untuk kesegaran tubuh, membuang kelebihan kalori, mengontrol glukosa darah, mengurangi kebutuhan obat atau insulin, dan untuk penderita yang beresiko latihan jasmani berguna untuk menurunkan tekanan darah tinggi, mengurangi resistensi insulin, dan memperbaiki profil lemak darah yang terganggu.
Latihan jasmani dilakukan selama 50 – 60 menit, dan selama latihan denyut nadi harus mencapai zona latihan yaitu denyut nadi yang harus dicapai selama latihan untuk memperoleh suatu manfaat. Untuk mengetahui denyut nadi yang diperbolehkan selama latihan, dapat dihitung dengan rumus :
Denyut nadi maximal = 220 – umur
Zona latihan = 70 – 85 % dari denyut nadi maximal
Latihan jasmani sebaiknya dilakukan sesuai dengan program CRIPE yaitu :
Continuous : Latihan jasmani dilakukan secara terus menerus selama 50 – 60 menit tanpa berhenti.
Rhytmical : Latihan dilakukan secara berirama dan teratur.
Interval : Latihan dilakukan berselang – seling, kadang cepat, kadang lambat tetapi tanpa berhenti.
Progresive : Latihan dilakukan secara bertahap dengan beban latihan ditingkatkan perlahan – lahan.
Endurance : Latihan ketahanan untuk meningkatkan kesegaran jantung dan pembuluh darah
Pemeliharaan Kaki
Pemeliharaan kaki adalah usaha yang dilakukan dengan selalu memperhatikan dan menjaga kebersihan, serta melakukan latihan secara baik sebelum terjadi gangguan atau komplikasi (Dalimartha Setiawan, 2002 : 31 ).
Dalam pemeliharaan kaki ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu :
Perawatan Kaki
Yaitu segala usaha yang dilakukan untuk menjaga kebersihan kaki. Langkah – langkahnya meliputi:
Periksalah kaki tiap hari untuk menemukan lecet atau luka secara dini.
Cuci kaki setiap hari dengan air hangat dan sabun, lalu keringkan terutama sela jari.
Oleskan cream atau lotion pelembut untuk kaki yang pecah – pecah tapi hindari sela jari.
Gunakan alas kaki baik didalam maupun luar rumah.
Gunakan kaos kaki tiap hari.
Gunakan sepatu yang sesuai, jangan terlalu sempit. Dan periksa sepatu setiap hari untuk menghindari hal yang menyebabkan luka pada kaki.
Gunting kuku secara melintang. Bila terjadi infeksi segera ke dokter.
Jangan mengompres atau merendam kaki dengan air panas, karena respon panas pada kaki menurun sehingga tidak terasa jika sampai melepuh.
Latihan Kaki
Menurut Dalimartha Setiawan (2002) yang dimaksud latihan kaki yaitu gerakkan yang dilakukan untuk melatih jari dan otot kedua kaki serta mengaktifkan aliran darah, dimana dilakukan secara teratur. Latihan kaki yang dapat dilakukan antara lain :
Berjalan cepat setiap hari selama ½ - 1 jam dengan jarak tempuh yang makin hari makin jauh.
Naik tangga dengan menggunakan telapak kaki bagian depan atau jalan ditempat dengan hanya menggunakan jari – jari kaki.
Duduk tegak dibelakang kursi, kedua tangan memegang sandaran kursi, angkat kedua tumit secara serentak keatas dan kebawah secara berulang – ulang.
Duduk tegak disamping kursi, satu tangan memegang sandaran kursi lipat kedua lutut secara serentak sampai paha dengan posisi horizontal dan kedua tumit terangkat, kemudian berdiri tegak lakukan berulang – ulang.
Duduk tegak pada kursi, kedua tangan dilipat dan didekapkan kedada, lakukan gerakan duduk dan bangun berulang – ulang.Berdiri tegak pada satu kaki pada alas setebal 10 cm, satu tangan berpegangan pada dinding atau sandaran kursi, ayunkan kaki kedepan dan kebelakang lakukan berulang – ulang dan bergantian.
Duduk pada lantai sambil bersandar kedinding, kedua kaki lurus kedepan, naikkan sebelah kaki keposisi lurus, lalu putar pada pergelangan kaki searah jarum jam, lakukan berulang – ulang dan bergantian.
Latihan kaki setiap kali dilakukan sampai 10 kali hitungan dan dapat diulang bila perlu dan penderita tidak merasa lelah.
Obat Hipoglikemik
Menurut Dalimarta Setiawan, (2002) obat hypoglikemia adalah obat untuk penderita DM yang berguna untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai petunjuk dokter.
Ada dua macam obat hipoglikemik, yaitu berupa suntikan dan tablet dapat diminum dan biasa disebut OHO atau OAD.
Obat tablet
Yang dimaksud obat tablet adalah obat yang cara penggunaannya dengan diminum.
Berdasar waktu paruh masing – masing OHO, obat dibagi atas tiga jenis :
Short – acting : waktu paruh 4 jam, diberikan 1 – 3 x/hari
Intermediate : waktu paruh 5 – 8 jam, diberikan 1 – 2 x/hari.
Long – acting : waktu paruh 24 36 jam, diberikan tiap pagi.
Cara minum obat dengan dosis terbagi adalah:
Pemakaian 1 x/hari : pagi hari
Pemakaian 2 x/hari : pagi dan siang hari
Pemakaian 3 x/hari : pagi, siang dan sore hari
Apabila obat jenis intermediate perlu diberikan 2x/hari, sedangkan penderita butuh 3 tablet maka obat diberikan pagi hari dua tablet dan siang satu tablet.
Golongan obat ini tidak diminum pada malam hari karena akan menyebabkan hypoglikemia serta menyebabkan dikeluarkannya beberapa hormon misal katekolamin, kortisol dan growth hormon, dimana dalam jangka lama akan mempercepat kerusakan pembuluh darah.
Untuk menambah khasiat menurunkan kadar glukosa darah, maka obat diminum ½ jam sebelum makan.
Obat Suntik / Insulin
Yaitu obat anti hypoglikemia yang pemberiannya melalui suntikan,baik secara intra muscular, subcutan maupun intra vena. Obat jenis ini biasanya diberikan pada penderita DM tipe I, DM dengan gangren, ketoasidosis, koma, DM dengan kehamilan, berat badan penderita menurun cepat,tidak berhasil dengan tablet hypoglikemik,dan DM yang disertai gangguan hati dan ginjal.
Tempat atau lokasi penyuntikan insulin adalah lengan atas, dinding perut, paha dan pantat.
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
Pada bab ini akan dibahas mengenai kerangka konseptual dan hipotesis.
Kerangka Konseptual
Gambar 3.1 Kerangka konseptual interaksi pengaruh konseling keluarga dalam perbaikan peran keluarga terhadap pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Dari gambar 3.1 dapat dijelaskan pengaruh konseling terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Pengetahuan keluarga dengan DM adalah serangkaian usaha yang dilakukan keluarga untuk menghilangkan keluhan, mencegah komplikasi dengan tindakan yang dilakukan untuk menormalkan kadar glukosa, lemak dan insulin di dalam darah, serta memberikan pengobatan bila terdapat penyakit kronis lain pada pasien DM. Di mana pengelolaan DM ini meliputi ; perencanaan makan,latihan jasmani, pemeliharaan kaki dan pengelolaan obat hypoglikemia. Perencanaan makan adalah penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori pasien sesuai dengan usia, berat badan, aktivitas sehari-hari, jenis kelamin, berat ringannya penyakit yang diderita. Latihan jasmani yaitu aerobik/olahraga yang berjalan terus menerus dan berlangsung dalam waktu cukup lama serta dilakukan secara sadar, dimana pelaksanaannya secara continous, rhytmical, interval, progresif dan endurance. Sedangkan pemeliharaan kaki adalah usaha yang dilakukan dengan selalu memperhatikan dan menjaga serta melakukan secara baik sebelum terjadi gangguan/komplikasi yang dibagi menjadi 2 yaitu perawatan kaki dan latihan kaki. Obat hypoglikemia adalah obat untuk pasien DM yang berguna untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai petunjuk dokter, obat ini dibedakan menjadi dua yaitu obat tablet dan obat suntik.
Konseling keluarga adalah merupakan penerapan konseling pada situasi khusus yang berfokus pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga. Keluarga sebagai faktor kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Faktor kontribusi tersebut adalah pengetahuan. Pengetahuan adalah hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu (Notoatmodjo, 1997). Salah satu penginderaan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan konseling keluarga. Pada pelaksanaannya konseling ini akan merubah perilaku orang/keluarga. Dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM konseling ini akan meningkatkan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Hipotesis
Ha dalam penelitian ini yakni :
Ada pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
BAB 4
METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan dibahas tentang metode yang akan digunakan dalam penelitian ini yang meliputi: 1) Desain penelitian, 2) Kerangka kerja 3) Populasi, sample dan sampling, 4) Identivikasi variabel dan definisi operasional, 5) Pengumpulan dan pengolahan data, 6) Masalah etika, dan 7) Keterbatasan.
Desain Penelitian
Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin timbul selama proses penelitian (Burns & Goreve, 1991 :171)
Dalam penelitian ini menggunakan ”pre post test non control group design” dimana suatu kelompok sebelum dilakukan perlakuan tertentu ( x ) diberi pretest, kemudian diberikan perlakuan dan sesudah perlakuan tersebut dilakukan post test atau suatu pengukuran untuk mengetahui akibat dari perlakuan.
Subyek
Pre-test
Perlakuan
Post-test
K
O
X
O1
Keterangan :
K : Subyek
O : Pretest (sebelum konseling)
X : Perlakuan (konseling)
O1 : Post test (sesudah Konseling)
Gambar 4.1 Desain penelitan ”pre post test non control group design” pada penelitian yang berjudul ”Pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Kerangka Kerja
Gambar 4.2 Kerangka kerja penelitian dengan judul ”Pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian atau yang akan diteliti (Notoatmodjo, 1993 :35)
Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus yang ada diwilayah kerja Puskesmas Torjun sampang.
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti dengan ”sampling” tertentu untuk bisa memenuhi/mewakili populasi (Nursalam & S. Pariani, 2001: 64).
Kriteria Inklusi dalam penelitian ini:
Keluarga bersedia untuk diteliti
Keluarga yang mendapatkan konseling suami, istri, anak ,cucu dan lain-lain.
Keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus
Kriteria Ekslusi dalam penelitian ini:
Keluarga tidak bersedia untuk diteliti
Keluarga yang tidak mendapatkan konseling
Keluarga yang tidak/kurang memperhatikan keluarga yang menderita daibetes mellitus
Besar sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel (Chandra, 1995: 41)
Sehubungan dengan keterbatasan biaya dan waktu yang dimiliki peneliti, sehingga tidak memungkinkan mengambil semua populasi. Oleh karena itu kami mengambil sampel yang kami anggap representatif, 30 keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus dengan perhitungan:
Sampling
Sampling adalah suatu proses dalam penyeleksi porsi dan populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam & S, Pariani, 2001: 66)
Penelitian ini menggunakan ”purposive sampling”. Pada sampling ini dipilih keluarga yang memenuhi criteria dan dapat mewakili karakteristik populasi yaitu keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus. (Nursalam & Siti Pariani, 2001)
Idetintifikasi Variabel
Variabel Independen
Variabel Independen adalah factor yang diduga mempengaruhi variabel dependen (Nursalan & S, Pariani, 2001)
Variabel independen adalah konseling keluarga yang meliputi :
1.Pengertian
Konseling keluarga adalah penerapan konseling pada situasu khusus yang berfokus pada masalah – masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga.
2.Pendekatan konseling keluarga
Dalam pelaksanaannya konseling keluarga dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu;
Pendekatan system keluarga, Keluarga bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi.
Pendekatan Conjoint, keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain.
Pendekatan Struktural, masalah keluarga sering terjadi karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun tidak tepat, dimana batas - batas antara subsistem dari system keluarga itu tidak jelas.
3.Tujuan konseling keluarga
Secara umum tujuan konseling keluarga adalah:
Memfasilitasi komunikasi fikiran dan perasaan antar anggota keluarga.
Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi.
Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditujukan kepada anggota keluarganya yang lain.
4.Bentuk konseling keluarga
Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks system yaitu klien merupakan bagian dalam system.
Berfokus pada saat ini yaitu bahwa pelaksanaan konseling adalah mengatasi masalah yang dihadapi pada saat ini, bukan masa lampau.
5.Proses dan tahap konseling keluarga
Dalam pelaksanaan konseling pada keluarga terjadi beberapa tahap yaitu:
a.Sesi pengenalan
b.Sesi pengajaran
c.Sesi model
d.Sesi terapis/trial
e.Sesi penerapan dan evaluasi
Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel respon atau out put (Nursalam & S. Pariani, 2001: 42).
Variabel dependen adalah pengelolaan pasien dengan Diabetes Mellitus yang meliputi :
1.Perencanaan makan
Penyusunan menu, yang disesuaikan dengan kebutuhan penderita.
Jadwal makan,yang terdiri dari 3x makanan utama dan 3x makanan antara (snack)
Porsi makan,dengan menggunakan porsi kecil tapi sering.
Komposisi menu
Komposisi standar penderita Diabetes Mellitus
Karbohidrat : 60-70%
Protein : 10-15%
Lemak : 20-75%
Jumlah kandungan kolestrol <300mg/hari
Jumlah kandungan serat 25-30mg/hari
Garam secukupnya
Pemanis secukupnya
2.Latihan Jasmani
Jenis latihan jasmani yang dilakukan haruslah bersifat kontinyu, rhythmical, interval, progresive dan endurance.
Waktu pelaksanaan terus menerus secara berkesinambungan
3.Pemeliharaan kaki
Perawatan kaki meliputi;
Pembersihan kaki
Pemberian lotion
Pemakaian alas kaki
Pemilihan sepatu
Pemotongan kuku
Latihan kaki,yang dapat dilakukan adalah :
Jalan cepat
Bediri dengan tegak kaki bagian depan
4.Obat hipoglikemia
Jenis obat hipoglikemia:
Oral
Waktu paruh obat oral:
Short-acting : 4 jam, diberikan 1-3 X/hari
Intermediate : 5-8 jam, diberikan 1-2 X/hari
Long-acting : 24-36jam, diberikan tiap hari
Cara minum obat hipoglikemia
Pemakaian 1 X hari: pagi hari
Pemakaian 2 X hari: pagi &siang hari
Pemakaian 3 X hari: pagi, siang, dan malam hari
Suntikan
Indikasi:
Penderita DM tipe I
Penderita DM dengan ganggren
Ketoasidosis
Koma diabetikum
DM dengan kehamilan
DM dengan penurunan berat badan cepat
Tidak berhasil dengan tablet hipoglikemik
DM yang disertai gangguan hati dan ginjal
Cara penyuntikan:
Intra Muscular
Subcutan
Intra Vena
Tempat penyuntikan:
Lengan bagian atas
Dinding perut
Paha dan pantat
Definisi Operasional
Variabel
Defenisi operasional
Parameter
Alat
ukur
Skala
Skor
Variabel dependent pengelolaan pasien dengan Diabetes Mellitus
1.Perencanaan makan
2.Latihan jasmani
3.Pemeliharaan kaki
4.Obat hipoglikemia
Variabel Independent
Konseling keluarga
Perencanaan
makan adalah penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori penderita sesuai dengan usia, berat badan (status gizi), aktivitas sehari – hari, jenis kelamin serta beratnya penyakit yang diderita
Latihan jasmani adalah suatu aktivitas tubuh yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan pada penderita dengan harapan terjadi penurunan glukosa darah
Pemeliharaan kaki adalah usaha yang ditujukan untuk kesehatan serta kekuatan pada kaki penderita DM.
Obat hipoglikemi adalah obat yang digunakan menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai dengan petunjuk dokter.
Konseling keluarga adalah penerapan konseling pada situasi khusus yang berfokus pada masalah-masalah keluarga yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraanya melibatkan keluarga
Perencanaan makan pada pasien Diabetes Mellitus meliputi :
Penyusunan menu seimbang
Jadwal makan
Porsi makan
Komposisi menu
Karbohidrat :60-70% Protein :10-15%
Lemak : 20 –75%
Jumlah kandungan kolesterol < 300mg/hr
Garam dan pemanis secukupnya
Latihan jasmani pada pasien DM adalah latihan yang bisa memperbaiki kesegaran jasmani yang bersifat :
Continue (terus menerus)
Rhytmical (berirama dan teratur)
Interval latihan (berselang-seling)
Progressive (bertahap)
Endurance
( kesegaran)
Pemeliharaan kaki meliputi:
Perawatan kaki pembersihan kaki pemberian lotion pemakaian alas kaki pemeliharaan sepatu pemotongan kuku secara teratur.
Latihan kaki,jalan cepat setiap hari ½ - 1 jam, berjalan ditempat dengan menggunakan jari – jari kaki.
Obat hipoglikemi pada penderita DM ada dua yaitu oral dan suntikan.
Pada obat oral, obat hipoglikemia mempunyai: waktu paruh short acting, Intermediate, longacting
Cara minum obat sesuai dosis. Obat oral hipoglikemia tidak boleh diminum pada malam hari untuk menghindari hipoglikemia pada waktu tidur.
Diminum ½ jam sebelum makan.
Pada obat jenis suntik biasanya diberikan pada: penderita DM tipe I
DM dengan ganggren ketoasidosis dan koma DM dengan kehamilan BB penderita menurun cepat, tidak berhasil dengan tablet hipoglikemik dan disertai gangguan hati dan ginjal.
Cara penyuntikan: IM IV SC
Tempat penyuntikan: lengan atas dinding perut paha dan pantat
Konseling keluarga meliputi :
a.Pendekatan konseling keluarga
Pendekatan system keluarga
Pendekatan conjoint
Pendekatan struktural
b.Tujuan konseling keluarga
Memfasilitasi komunikasi fikiran dan perasaan antar anggota keluarga
Mengganti gangguan ketidakfleksibelan peran dan kondisi keluarga
Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu terhadap anggota keluarga yang lain
c.Bentuk konseling keluarga
Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks sistem
Berfokus pada saat ini
d.Proses dan tahapan konseling keluarga
Sesi pengenalan
Sesi Pengajaran
Sesi model
Sesi Terapis / trial
Sesi penerapan
K
U
I
S
I
O
N
E
R
K
U
E
S
I.
O
N
E
R
K
U
E
S
I
O
N
E
R
K
U
E
S
I
O
N
E
R
-
O
R
D
I
N
A
L
O
R
D
I
N
A
L
O
R
D
I
N
A
L
O
R
D
I
N
A
L
-
Jawaban “ya” dari 5 item yang ada :
76 – 100 %:Baik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
Jawaban “ya” dari 6 item yang ada :
76 – 100 %:Baik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
Jawaban “ya” pada 6 item yang ada :
76 – 100 %:aik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
Jawaban “ya” dari 7 item yang ada :
76 – 100 %:Baik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
-
Pengumpulan dan pengolahan data
Instrumen
Pengumpulan data dalam pen elitian ini melalui observasi dan kuestioner pada keluarga yang akan diteliti, instrumen yang digunakan adalah instrumen kuestioner denga jenis pertanyaan Matrix Question. Semua pertanyaan berjumlah 25 dengan jawaban ya dan tidak .
Lokasi
Lokasi penelitian adalah wilayah kerja Puskesmas Torjun yang terdiri dari 2 Desa yaitu Desa Dulang yang terbagi Dusun Sreseh dan Dusun Roytoroy.
Prosedur
Responden (keluarga) yang diintervensi untuk diberikan konseling keluarga, sebelumnya dilakukan kunjungan rumah untuk observasi langsung dengan perkenalan, penyampaian maksud dan tujuan. Kemudian diberikan pre test. Setelah itu baru diberikan konseling peran keluarga terhadap pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Setelah 3 – 4 minggu responden (keluarga) diobservasi dan diberikan post test.
Cara analisis data
Kuasioner yang telah diisi oleh respoden diberi kode sesuai criteria yang ditentukan, didistribusikan dan dianalisa secara kwantitatif. Selanjutnya data diuji dengan analisa uji statistik “korelasi kendal Tau“ () Untuk mencari koefisien korelasi parsial. Rumus dasar yang digunakan adalah sebagai berikut :
Di mana:
= Koefisien korelasi biserial kendal Tau yang besarnya (-1<0<1)
A = Jumlah rangking atas
B = Jumlah rangking bawah
N = Jumlah anggota sampel
Uji signifikan koefisien korelasi menggunakan rumus z, karena distribusinya mendekati distribusi normal. Rumusnya adalah sebagai berikut :
Masalah Etika
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mendapatkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, Kepala Puskesmas Torjun dan Kepala Desa Dulang.
Setelah mendapat persetujuan barulah melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi:
Lembar persetujuan menjadi responden
Lembar persetujuan diberikan kepada subyek yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset yang dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Jika keluarga bersedia diteliti, maka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut, jika keluarga menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak – haknya.
Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan keluarga, peneliti tidak mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data, cukup dengan memberikan nomer kode pada masing – masing lembar tersebut.
Confidentiallity ( kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi keluarga dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset.
Keterbatasan
Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian (Burns & Grove, 1991, 121). Dalam penelitian ini, keterbatasan yang dihadapi peneliti adalah:
1.Sampel yang digunakan terbatas pada keluarga dengan anggota keluarga menderita dibetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas Torjun saja, sehingga kurang representatif untuk mewakili keluarga dengan anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus yang ada diwilayah lain.
2.Instrumen pengumpulan data dirancang oleh peneliti sendiri tanpa melakukan uji coba, oleh karena itu validitas dan realibilitasnya masih perlu diuji coba.
3.Penelitian ini hanya dilakukan selama satu bulan dengan pelaksanaan hari pertama datang memberikan pretest dan konseling kemudian datang lagi hari ketiga puluh untuk memberikan post test, sehingga kurang dapat menggambarkan pengaruh konseling keluarga terhadap peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus, karena terbatasnya waktu.
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
Pada bab ini akan dideskripsikan hasil penelitian dan pembahasan sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian meliputi gambaran umum, lokasi penelitian, karakteristik demografi responden berdasarkan status dalam keluarga, umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan keluarga. Gambaran pengelolaan anggota keluarga yang menderita DM baik sebelum dan sesudah dilakukan konseling, yang meliputi perencanaan makan, latihan jasmani, perawatan kaki dan obat hypoglikemia. Hasil penelitan yang telah didapatkan kemudian dibahas dengan mengacu pada tujuan dan landasan teori pada bab 2.
Hasil penelitian
Di dalam hasil penelitian ini akan diuraikan tentang gambaran umum lokasi penelitian, karakteristik responden dan pengelolaan pasien DM, yaitu sebagai berikut :
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Torjun. Jumlah keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM pada saat pengambilan data tanggal 7 - 11 Mei 2009 berjumlah 42 keluarga sedangkan jumlah keluarga yang diambil sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 30 keluarga.
Karakteristik Demografi Responden
Karakteristik demografi responden sebelum dan sesudah konseling keluarga akan diuraikan berdasarkan status dalam keluarga, umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan keluarga.
1.Distribusi responden berdasarkan status dalam keluarga
Gambar 5.1 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan status dalam keluarga di wilayah kerja PKM Torjun pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.1 di atas, responden sebagian besar berstatus anak dalam keluarga yaitu berjumlah 11 orang ( 36,7 %) dan yang paling sedikit adalah responden yang berstatus sebagai kepala keluarga yaitu 9 orang (30 %)
2.Distribusi responden berdasarkan umur
Gambar 5.2 Diagram Pie Distribusi responden konseling berdasarkan umur di wilayah kerja PKM Torjun pada bulan Mei 2009
Berdasarkan gambar 5. 2 di atas, responden berumur > 50 tahun yaitu 18 orang (60%) dan yang paling sedikit adalah responden yang berumur antara 20 – 29 tahun yaitu 2 orang (6,7%)
3.Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin
Gambar 5.3 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5,3 di atas, responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 18 orang (60%) dan yang laki-laki berjumlah 12 orang (40%)
4.Distribusi Responden berdasarkan status perkawinan
Gambar 5.4 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan status perkawinan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.4 di atas, responden sebagian besar adalah kawin yaitu 29 orang (96,66%) dan yang paling sedikit belum kawin yaitu 1 orang (3,34 %) sedangkan duda/janda tidak ada.
5.Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan
Gambar 5.5 Diagram Pie Distribusi responden konseling berdasarkan tingkat pendidikan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.5 di atas, responden sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan SLTP yaitu sebanyak 19 orang (63,34%), sedangkan paling sedikit adalah responden dengan tingkat pendidikan SD yaitu 4 orang (13,34%)
6.Distribusi responden berdasarkan pekerjaan
Gambar 5. 6 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan pekerjaan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.6 di atas, responden sebagian besar tidak bekerja (sebagai ibu rumah tangga) yaitu berjumlah 15 orang (50%), sedangkan yang paling sedikit adalah bekerja sebagai pegawai negeri yaitu berjumlah 2 orang (6,67%).
7.Distribusi responden berdasarkan penghasilan
Gambar 5.7 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan penghasilan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.7 di atas, responden sebagian besar mempunyai penghasilan sebesar Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 yaitu sebanyak 21 orang (70%), dan yang berpenghasilan < Rp250.000, Rp. 250.000 – Rp. 500.000 dan > Rp. 1.000.000 adalah masing-masing 3 orang (10%).
Pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Berikut akan disajikan mengenai data pengaruh konseling keluarga terhadap pengelolaan pasien DM yang terdiri dari 4 komponen yaitu :
1.Pengaruh konseling terhadap perencanaan makan pasien DM
Peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah konseling disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.1 Tabel data peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
7
23,3%
30
100,0%
Cukup
10
33,3%
0
0,0%
Kurang
13
43,3%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.1 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM, yang ditunjukkan dengan perubahan yang berarti pada semua kriteria. Pada data pre test diperoleh data pada kriteria kurang sebanyak 13 orang (43,3%) sedangkan pada post test diperoleh data pada kriteria kurang adalah 0 (0%). Untuk kriteria cukup diperoleh data sebanyak 10 orang (33,3%) pada pre test dan 0 (0%) pada data post test. Pada kriteria baik diperoleh data 7 orang (23,3%) pada pre test, sedangkan pada post test data yang diperoleh sebanyak 30 orang (100%). Dari data tersebut diperoleh nilai rata-rata perubahan yang terjadi setelah dilakuan konseling pada perencanaan makan 1,2 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi antara konseling keluarga dengan perencanaan makan dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,734 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
2.Latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM
Peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.2 Tabel data peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
0
0,0%
29
96,7%
Cukup
9
30,0%
1
3,3%
Kurang
21
70,0%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.2 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM, dimana hal tersebut ditunjukkan kriteria kurang pada data pre test sebanyak 21 orang (70%) dan pada post test menjadi menjadi 0 (0%). Untuk kriteria cukup pada data pre test diperoleh data sebanyak 9 orang (30%) dan sebanyak 1 orang (3,3%) pada data post test. Sedang pada kriteria baik pada pre test didapat data 0 (0%) dan pada post test sebanyak 29 orang (96,7%). Dari data tersebut diperoleh nilai rata-rata peningkatan 1,7 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi antara konseling keluarga dengan latihan jasmani dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,892 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
3.Pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM
Peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah konseling keluarga disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.3 Tabel data peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
0
0,0%
29
96,7%
Cukup
13
43,0%
1
3,3%
Kurang
17
56,7%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM, dimana perubahan yang berarti tersebut ditunjukkan dengan data pre test pada kriteria kurang sebanyak 17 orang (56,7%) menjadi 0 (0%) pada post test. Untuk kriteria cukup pada data pre test diperoleh data 13 orang (43%) dan sebanyak 1 orang (3,3%) pada post test. Sedangkan pada kriteria baik pada pre test diperoleh data 0 (0%) dan sebanyak 29 orang (96,7%) pada post test. Nilai rata-rata peningkatan yang diperoleh dari pre test dan post test adalah 1,5 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi antara konseling keluarga dengan pemeliharaan kaki dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,877 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
4.Obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM
Peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah konseling keluarga disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.4 Tabel data peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
4
13,3%
26
86,7%
Cukup
10
33,3%
4
13,3%
Kurang
16
53,3%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.4 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM, dimana hal tersebut ditunjukkan dengan data pre test dan post test pada semua kriteria. Untuk kriteria kurang pada pre test diperoleh data sebanyak 16 orang (53,3%) dan 0 (0%) pada post test, sedangkan pada kriteria cukup pada pre test diperoleh data sebanyak 10 orang (33,3%) menjadi sebanyak 4 orang (13,3%) pada post test. Dan pada kriteria baik diperoleh data pre test sebanyak 4 orang (13,3%) menjadi 26 (86,7%). Dari data pre test dan post test terjadi penurunan pada kriteria cukup dari 33,3% menjadi 13,3%, namun dari kesemua data pre test dan post test tersebut diperoleh nilai peningkatan rata-rata 1,3 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi anatara konseling keluarga dengan pengelolaan obat hypoglikemia dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,720 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
Pembahasan
Pada pembahasan ini akan diuraikan mengenai hasil penelitian yang telah dilaksanakan dan dilakukan uji dengan Kendal tau dan analisa mengacu pada landasan teori pada bab 2
Peran keluarga dalam pengelolaan anggota dengan DM yaitu:
Peran keluarga dalam perencanaan makan anggota keluarga dengan DM.
Peran keluarga dalam perencanaan makan pada keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga dan dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan, yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM yaitu adanya peningkatan peran keluarga dalam perencanaan makan. Dalimartha Setiawan menyebutkan bahwa perencanaan makan sebenarnya merupakan penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori penderita sesuai dengan usia, berat badan (status gizi), aktivitas sehari-hari, jenis kelamin, beratnya penyakit yang diderita serta penyakit lainnya. Sehingga total kalori dan komposisi makanan ditentukan dalam range (kisaran persentasi, bukan suatu angka mutlak). Dalam penyusunan menu sebaiknya diusahakan mendekati kebiasaan makan sehari-hari, sederhana, bervariasi dan mudah dilaksanakan, seimbang serta sesuai kebutuhan dengan tidak mengesampingkan cara hidup, selera, adat serta kebiasaan penderita. Kalau tidak pasti akan ditinggalkan (Dalimartha Setiawan, 2002). Jadwal makan penderita DM adalah porsi sering tapi sering. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah peningkatan kadar glukosa darah yang sekaligus tinggi dan juga hipoglikemia bagi pemakai insulin, serta komposisi menu pada makanan sehari-hari dianjurkan seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah-buahan.
Apabila terjadi keseimbangan antara makanan yang masuk dengan kebutuhan, dan kemampuan tubuh untuk mengolahnya maka diharapkan glukosa darah terkontrol dalam batas-batas normal. Selain itu juga tersedia cukup tenaga untuk kegiatan sehari-hari penderita dan berat badan juga ideal.
Peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM.
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga dan dilakuakn uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan dimana ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM. Hubungan ini ditujukan dengan adanya perubahan ke arah yang lebih baik pada peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM. Menurut Dalimartha Setiawan (2002), yang dimaksud dengan latihan jasmani bagi penderita DM adalah Aerobik yaitu olahraga yang berjalan terus menerus dan berlangsung dalam waktu cukup lama serta dilakukan secara sadar. Untuk penderita yang tergantung insulin ringan atau sedang latihan jasmani bisa dilakukan dengan aman, tapi bagi penderita yang mempunyai resiko atau disertai komplikasi maka latihan jasmani sebaiknya dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu. Latihan jasmani dilakukan selama 50 – 60 menit, dan selama latihan denyut nadi harus mencapai zona latihan yaitu denyut nadi yang harus dicapai selama latihan untuk memperoleh suatu manfaat. Untuk mengetahui denyut nadi yang diperbolehkan selama latihan, dapat dihitung dengan rumus :
Denyut nadi maximal = 220 – umur
Zona latihan = 70 – 85 % dari denyut nadi maximal
Latihan jasmani sebaiknya dilakukan sesuai dengan program CRIPE yaitu :
Continuous : Latihan jasmani dilakukan secara terus menerus selama 50 – 60 menit tanpa berhenti.
Rhytmical : Latihan dilakukan secara berirama dan teratur.
Interval : Latihan dilakukan berselang – seling, kadang cepat, kadang lambat tetapi tanpa berhenti.
Progresive : Latihan dilakukan secara bertahap dengan beban latihan ditingkatkan perlahan – lahan.
Endurance : Latihan ketahanan untuk meningkatkan kesegaran jantung dan pembuluh darah
Manfaat dari latihan jasmani adalah untuk kesegaran tubuh, membuang kelebihan kalori, mengontrol glukosa darah, mengurangi kebutuhan obat atau insulin, dan untuk penderita yang beresiko latihan jasmani berguna untuk menurunkan tekanan darah tinggi, mengurangi resistensi insulin, dan memperbaiki profil lemak darah yang terganggu.
Manfaat ini akan diperoleh apabila latihan jasmani dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga serta dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pemeliharaan kaki dengan ditunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik pada peran keluarga delam pemeliharaan kaki. Pemeliharaan kaki adalah usaha yang dilakukan dengan selalu memperhatikan dan menjaga kebersihan, serta melakukan latihan secara baik sebelum terjadi gangguan atau komplikasi (Dalimartha Setiawan, 2002 : 31 ). Dalam pemeliharaan kaki ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu : 1) Perawatan Kaki, yaitu segala usaha yang dilakukan untuk menjaga kebersihan kaki. Langkah – langkahnya meliputi periksalah kaki tiap hari untuk menemukan lecet atau luka secara dini, cuci kaki setiap hari dengan air hangat dan sabun, lalu keringkan terutama sela jari, oleskan cream atau lotion pelembut untuk kaki yang pecah – pecah tapi hindari sela jari, gunakan alas kaki baik didalam maupun luar rumah, gunakan kaos kaki tiap hari, gunakan sepatu yang sesuai, jangan terlalu sempit. Dan periksa sepatu setiap hari untuk menghindari hal yang menyebabkan luka pada kaki, gunting kuku secara melintang. Bila terjadi infeksi segera ke dokter, jangan mengompres atau merendam kaki dengan air panas karena respon panas pada kaki menurun sehingga tidak terasa jika sampai melepuh; 2) Latihan Kaki, menurut Dalimartha Setiawan (2002) yang dimaksud latihan kaki yaitu gerakkan yang dilakukan untuk melatih jari dan otot kedua kaki serta mengaktifkan aliran darah, dimana dilakukan secara teratur. Latihan kaki yang dapat dilakukan antara lain berjalan cepat setiap hari selama ½ - 1 jam dengan jarak tempuh yang makin hari makin jauh.Latihan kaki setiap kali dilakukan sampai 10 kali hitungan dan dapat diulang bila perlu dan penderita tidak merasa lelah.
Pada pelaksanaannya pemeliharaan kaki ini akan memperoleh hasil jika dilakukan secara teratur dan terus menerus serta secara dini.
Peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga serta dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pengelolan obat hypoglikemia dengan adanya peningkatan peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia. Menurut Dalimarta Setiawan, (2002) obat hypoglikemia adalah obat untuk penderita DM yang berguna untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai petunjuk dokter. Ada dua macam obat hipoglikemik, yaitu berupa suntikan dan tablet dapat diminum dan biasa disebut OHO atau OAD. 1) Obat tablet, yang dimaksud obat tablet adalah obat yang cara penggunaannya dengan diminum. Berdasar waktu paruh masing – masing OHO, obat dibagi atas tiga jenis :
Short – acting : waktu paruh 4 jam, diberikan 1 – 3 x/hari
Intermediate : waktu paruh 5 – 8 jam, diberikan 1 – 2 x/hari.
Long – acting : waktu paruh 24 36 jam, diberikan tiap pagi.
Cara minum obat dengan dosis terbagi adalah:
Pemakaian 1 x/hari : pagi hari
Pemakaian 2 x/hari : pagi dan siang hari
Pemakaian 3 x/hari : pagi, siang dan sore hari
Apabila obat jenis intermediate perlu diberikan 2x/hari, sedangkan penderita butuh 3 tablet maka obat diberikan pagi hari dua tablet dan siang satu tablet. Golongan obat ini tidak diminum pada malam hari karena akan menyebabkan hypoglikemia serta menyebabkan dikeluarkannya beberapa hormon misal katekolamin, kortisol dan growth hormon, dimana dalam jangka lama akan mempercepat kerusakan pembuluh darah. Untuk menambah khasiat menurunkan kadar glukosa darah, maka obat diminum ½ jam sebelum makan. 2) Obat Suntik / Insulin, yaitu obat anti hypoglikemia yang pemberiannya melalui suntikan, baik secara intra muscular, subcutan maupun intra vena. Obat jenis ini biasanya diberikan pada penderita DM tipe I, DM dengan gangren, ketoasidosis, koma, DM dengan kehamilan, berat badan penderita menurun cepat,tidak berhasil dengan tablet hypoglikemik,dan DM yang disertai gangguan hati dan ginjal. Tempat atau lokasi penyuntikan insulin adalah lengan atas, dinding perut, paha dan pantat.
Untuk memperoleh khasiatnya yang optimal maka sebaiknya penderita mencermati cara-cara/aturan obat anti DM yang digunakan baik itu OHO maupun suntikan.
Peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling kemudian dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pengelolan anggota keluarga dengan DM. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang ditunjukkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Untuk dapat berhasil mengelola pasien dengan baik diperlukan perencanaan yang matang berupa tujuan jangka pendek, tujuan jangka panjang, tindakan dan kegiatan yang dilakukan, pemeriksaan berkala, serta penyuluhan. Berikut ini perencanaan yang dimaksud : 1) Tujuan jangka pendek, yaitu menghilangkan keluhan dan gejala penyakit Diabetes Mellitus, 2) Tujuan jangka panjang, yaitu mencegah komplikasi kronis yang dapat menyerang pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, syaraf, kulit dan kaki, 3) Tindakan yang dilakukan adalah menormalkan kadar glukosa, lemak, insulin dalam darah dan memberikan pengobatan bila terdapat penyakit kronis lainnya, 4) Kegiatan yang dilakukan meliputi : Kunjungan pertama dilakukan pemeriksaan fisik lengkap untuk mengetahui status gizi, komplikasi yang mungkin sudah timbul, dan adanya penyakit kronis lainnya. Pemeriksaan fisik lengkap meliputi:
Pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah
Menanyakan dan mencari tanda gangguan syaraf seperti rasa
kesemutan
Memeriksa keadaan kaki dan denyut nadi
Pemeriksaan EKG
Rotgen dada
Pemeriksaan fundus mata.
Pemeriksaan laboratorium standart, yang meliputi:
a.Darah; darah rutin, gula darah puasa dan dua jam setelah makan, albumin, kolesterol total, HDL & LDL kolesterol, HbA1c, kreatinin, SGPT (ALT) serta trigliserida.
b.Urine; sedimen, albumin, bakteri
c.Laboratorium tambahan yang sesuai dengan kebutuhan.
Pemeriksaan HbA1c, gula darah puasa dan dua jam setelah puasa setiap tiga bulan.
Pemeriksaan fisik lengkap diulang tiap satu tahun
Penyuluhan.
Sehubungan dengan peran dan tugas dalam kesehatan, keluarga diharapkan memiliki kemampuan yang dapat mengatasi problem-problem kesehatan dalam anggota keluarganya. Nasrul Efendy, (1997) menyatakan bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh keluarga dalam melakukan tugas kesehatan keluarga tersebut meliputi:
1.Mengenal masalah kesehatan keluarga
2.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat
3.Merawat anggota keluarga yang sakit
4.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga yang sakit
5.Menggunakan sumber dimasyarakat guna memelihara kesehatan.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, maka keluarga perlua mendapatkan konseling, dimana konseling keluarga merupakan salah satu penginderaan yang bisa dilakukan untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Latipun (2001) konseling keluarga merupakan bagian penting dalam memperoleh perubahan perilaku yang langgeng karena pada konseling keluarga, memandang bahwa keluarga tidak hanya dilihat sebagai faktor yang menimbulkan masalah, dimana keluarga menjadi bagian yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah, dimana keluarga dan anggota yang lain merupakan suatu sistem yang saling mempengaruhi sehingga untuk mengubah masalah yang dialami anggota keluarga diperlukan perubahan dalam sistem keluarga lainnya dan permasalah yang akan dialami seorang anggota keluarga akan lebih efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Konseling ini akan memperoleh hasil yang baik apabila dilakukan secara teratur dan berkesinambungan, sehingga diharapkan konseling keluarga tentang pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang diberikan pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM akan dapat meningkatkan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga yang menderita DM secara optimal.
Pengaruh konseling terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Konseling keluarga secara signifikan memberikan perubahan ke arah yang lebih baik terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang ditunjukkan dari data pre test dan post test yang kemudian dilakukan uji dengan uji Kendal tau terhadap semua komponen pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Berdasarkan hasil penelitian keluarga sebagai sitem pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan baik sehat maupun sakit terhadap anggota keluarga yang lainnya mengacu pada konsep tersebut, bila kita kaitkan dengan berbagai alasan ketidakmampuan dalam melaksanakan tugas-tugas keluarga, maka perawat bertugas membantu keluarga dalam melakukan 5 tugas keluarga dalam memahami kebutuhan kesehatan anggotanya. Baylon dan Maglaya (1978) menyatakan bahwa 5 tugas keluarga tersebut adalah :
a.Mengenal masalah kesehatan keluarga.
b.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat.
c.Merawat anggota keluarga yang sakit.
d.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga .
e.Menggunakan sumber di masyarakat guna memelihara kesehatan.
Keluarga yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah adalah dapat mencegah (pencegahan primer), menanggulangi (pencegahan sekunder) dan memulihkan (pencegahan tersier) untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka keluarga perlu mendapat konseling agar peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetus Mellitus bisa optimal.
Menurut Latipun (2001) keberhasilan konseling pada pelaksanaannya dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah yang berhubungan dengan karakteristik subyek. Karakteristik tersebut adalah tingkat pendidikan dimana pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandang terhadap diri dan lingkungannya sehingga akan berbeda cara menyikapi proses berlangsungnya konseling pada orang yang berpendidikan tinggi dan yang berpendidikan rendah. Tingkat pendidikan responden yang sebagian besar adalah tingkat menengah (SLTP) sehingga tingkat pemahaman keluarga relatif cukup baik. Dengan demikikian keluarga cepat memahami penjelasan yang dijelaskan oleh peneliti (sebagai konselor) pada pelaksanaan konseling. Hal ini mendukung terjadinya perubahan peran dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM ke arah yang lebih baik. Tetapi dalam penelitian ini peneliti tidak dapat mengidentifikasi hubungan tingkat pendidikan dengan peningkatan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Materi dan pelaksanaan konseling yang dilakukan oleh peneliti dipersiapkan dengan baik sesuai dengan kriteria pelaksanaan konseling keluarga, dimana hal ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan konseling yang berhubungan dengan konselor dan proses konseling.
Selain tingkat pendidikan tingkat pengetahuan juga mempunyai kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM dimana orang yang berpengetahuan luas atau mempunyai informasi lebih banyak tentang pengelolaan DM maka ia akan mempunyai atau dapat berperan dalam keluarga. Peran tersebut akan menjadi langgeng apabila didasari oleh suatu pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (1997) Pengetahuan adalah hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan pada suatu keluarga, karena dari pengalaman dan penelitian, prilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Konseling keluarga merupakan salah satu penginderaan yang bisa dilakukan untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Latipun (2001) konseling keluarga merupakan bagian penting dalam memperoleh perubahan perilaku yang langgeng karena pada konseling keluarga, memandang bahwa keluarga tidak hanya dilihat sebagai faktor yang menimbulkan masalah, dimana keluarga menjadi bagian yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah, dimana keluarga dan anggota yang lain merupakan suatu sistem yang saling mempengaruhi sehingga untuk mengubah masalah yang dialami anggota keluarga diperlukan perubahan dalam sistem keluarga lainnya dan permasalah yang akan dialami seorang anggota keluarga akan lebih efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain.
Penelitian Roger (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, begitu juga dengan keluarga yaitu 1) Awareness (kesadaran) dimana orang atau keluarga tersebut menyadari dalam arti lebih mengetahui lebih dulu terhadap stimulus atau obyek 2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut, disini sikap subyek sudah mulai timbul 3) Evaluasion (menimbang – nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi diri atau keluarganya. Dalam hal ini sikap responden sudah lebih baik lagi 4) Trial, dimana subyek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus 5) Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Berdasarkan data, ulasan teori di atas perlu kiranya diberikan konseling secara berkala dan berkesinambungan pada keluarga dengan anggota keluarga menderita DM sebab kecukupan informasi yang dimiliki oleh keluarga akan meningkatkan pengetahuan keluarga dimana hal ini akan menimbulkan kesadaran serta sikap yang positif dari anggota keluarga yang lain dan dapat meningkatkan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan, dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:
1.Peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM mengalami perbaikan setelah dilakukan konseling pada keluarga.
2.Peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM mengalami perbaikan setelah dilakukan konseling pada keluarga.
3.Peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM mengalami perubahan yang lebih baik setelah dilakukan konseling keluarga.
4.Peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM mengalami perubahan ke arah yang lebih baik setelah dilakukan konseling.
5.Ada pengaruh yang bermakna antara konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM di wilayah Puskesmas Torjun Sampang dimana terjadi perbaikan peran keluarga pada pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM di wilayah kerja Puskesmas Torjun Sampang, maka perlu kiranya dilakukan :
1.Pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM seyogyanya diberikan konseling yang baik dan benar sebagai upaya untuk memperbaiki peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
2.Pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga dengan DM, dan sesudah berperan secara optimal hendaknya tetap diberikan konseling keluarga untuk mempertahankan perannya yang baik.
3.Penelitian ini ditemukan adanya pengaruh yang bermakna konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM, maka seyogyanya di setiap wilayah kerja Puskesmas dilakukan konseling secara berkala dan berkesinambungan tentang peran keluarga dalam pengelolaan keluarga dengan DM.
4.Perlu kiranya diadakan penelitian lebih lanjut tentang anggota keluarga (anak, istri, suami, cucu, dan lain – lain) yang sangat berperan pada pengelolaan anggota keluarga dengan DM, juga tentang faktor-faktor yang mempengaruhi peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Daftar Pustaka
Andhana Wayan, (1983). Beberapa Metode Statistik Untuk penelitian Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya.
Charles. Abraham dan Eamon. Stanley, (1997). Social Psychology for Nurse: edisi 1. EGC, Jakarta.
Djarwanto PS, (1993). Statistik Induktif, Edisi ke 4. BPFE, Jogyakarta.
Gunarso Singgih, (2001), Konseling & Psikoterapi, Cet.4, Gunung Mulia Jakarta.
Latipun,(2001). Psikologi Konseling. Edisi 3. Universitas Muhamadiyah Malang.
Malilyn m. fridman, (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik, Edisi 3. EGC, Jakarta.
Mappiane Andi AT, (2002), Pengantar Konseling & Psikoterapi, Cet. 3. Edisi I. Rajawali Press Citra Niaga Buku perguruan Tinggi Jakarta.
Marcia Stanhope, Jeanette Lancaster, (1997). Perawatan Kesehatan Masyarakat (Suatu proses dan praktek untuk peningkatan kesehatan I), Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.
---------------------------------------------, (1997). Perawatan Kesehatan masyarakat (Suatu proses dan praktek untuk peningkatan kesehatan II), Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.
Merry. E beck, (1993). Nutrition and Dietetics for Nurses, Yayasan Esentia Medica, Yogyakarta.
Nasrul Efendi, (1998). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, Edisi @, EGC, Jakarta.
Noer. Syaifoellah, (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. jilid I. Edisi 3. Balai Penerbit FK UI, Jakarta.
Notoatmodjo Sukijo,(1997). Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.
------------------------, (1993). Pengantar Ilmu Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Andi Offset Yogyakarta.
------------------------, (1993). Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi 1, Melton Putra Omset, Jakarta.
Pusat Diabetes dan Nutrisi RSUD DR. Soetomo- FK UNAIR, (2001). Majalah Deabetes, Volume 1, edisi 1, Surabaya.
---------------------------------------------------------------–FK UNAIR, (2001). Majalah Diabetes, Volume II, edisi 1, Surabaya.
Pranadji Diah K V, Martianto Dwi H, Ir, Subandriyo Vera Uripi, (2001). Perencanaan menu untuk penderita diabetes mellitus, cetakan 4. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sastro Asmoro. S dan Ismail, (1995). Dasar-dasar Methodologi Penelitian Klinik, Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Setiawan Dalimartha, (2002). Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Diabetes Mellitus, Penebar Swadayu, Jakarta.
Suharsimi Arikunto, (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,, Edisi 4, Rineka Cipta, Jakarta.
Sulita et al, (2001). Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. EGC. Jakarta.
Tjokroprawiro. Askandar, (2001). Diabetes Mellitus Klasifikasi, Diagnosa dan Terapi, Edisi 3, Pt Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sudjana ,(1996). Metode Statistik, Edisi 6. Tarsito Bandung.
Sugiono, (2001). Statistik Nonparametris Untuk Penelitian, Edisi 2. CV. ALFABETA Bandung.
Wijaya IR, (2001). Statistik Non Parametris ( Aplikasi Program SPSS), Cet. 2. CV. ALFABETA Bandung.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagai dampak positif pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah adalah adanya pergeseran pola penyakit di Indonesia. Penyakit infeksi dan kekurangan gizi berangsur turun, diikuti dengan meningkatnya penyakit degeneratif atau tidak menular. Salah satunya adalah Diabetes Mellitus.
Jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) di dunia mengalami peningkatan dengan data yang ada pada tahun 1994 = 110,4 juta, 1998 = ±150 juta, tahun 2000 = 175,4 juta, tahun 2010 = 279,3 juta dan tahun 2020 = 300 juta. Sedangkan di Indonesia atas dasar prevalensi ± 1,5 % dapatlah diperkirakan jumlah penderita DM pada tahun 1994 = 2,5 juta, 1998 = 3,5 juta, tahun 2010 = 5 juta dan 2020 = 6,5 juta (Majalah Diabetes Surabaya, 2001: volume 1).
Meningkatnya prevalensi DM di Indonesia, diduga ada hubungannya dengan cara hidup (pola makan) seiring dengan kemakmuran yang meningkat, hal ini tercermin dari pendapatan Indonesia tahun 1995 setinggi US $ 1030. Pola makan bergeser dari pola makan tradisional yang banyak mengandung karbohidrat, serat dan sayuran ke pola makan kebarat-baratan dengan komposisi yang terlalu banyak mengandung protein, lemak, gula, garam, dan sedikit serat. Hal ini juga didukung oleh kurangnya peran keluarga dalam pengelolaan pada salah satu anggota keluarga yang menderita Diabetes Mellitus. Selain juga pola makan, gaya hidup yang sangat sibuk, duduk di belakang meja menyebabkan tidak adanya kesempatan untuk rekreasi atau olah raga sehingga menyebabkan tingginya angka penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes dan hiperlipidemia. Di samping cara hidup dan gaya hidup, peran keluarga dalam pengelolaan pasien Diabetes Mellitus juga belum optimal.
Diabetes Mellitus jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata, ginjal, jantung, pembuluh darah kaki, syaraf dan lain-lain. Dengan pengalaman yang baik, yaitu kerja sama antara pasien, keluarga, dan petugas kesehatan, diharapkan komplikasi kronik DM akan dapat dicegah, setidaknya dihambat perkembangannya. Untuk mencapai hal tersebut, keikutsertaan pasien, keluarga untuk mengelola anggota keluarganya menjadi sangat penting. Demikian pula adanya para petugas kesehatan sebagai penyuluh bagi keluarga dalam membantu pasien dengan Diabetes Mellitus. Guna mendapatkan hasil yang maksimal, penyuluhan bagi para petugas kesehatan sangat diperlukan agar informasi yang diberikan pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus bermanfaat.
Berdasarkan penemuan fakta di atas, maka perlu dilakukan penelitian guna membuktikan pengaruh konseling keluarga terhadap peran keluarga dalam mengelola anggota keluarga dengan DM, sehingga peneliti ingin meneliti pengaruh konseling keluarga terhadap peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus di wilayah kerja Puskesmas Torjun.
Perumusan Masalah
Pernyataan Masalah
Keluarga dengan salah satu anggotanya menderita DM belum berperan secara optimal dalam mengelola anggota keluarga dengan DM tersebut. Belum berperannya keluarga secara optimal itu disebabkan oleh kurangnya informasi tentang pengelolaan penderita DM yang diperoleh keluarga. Kurangnya informasi tentang pengelolaan DM yang diperoleh keluarga dapat menyebabkan ketidaktahuan keluarga yang berarti akan mengurangi peran dari keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan pernyataan masalah tersebut maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian, yaitu:
Bagaimanakah pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Mempelajari dan membuktikan pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Tujuan Khusus
1)Mengidentifikasi peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM.
2)Mengidentifikasi peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM.
3)Mengidentifikasi peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM.
4)Mengidentifikasi peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemi pada anggota keluarga dengan DM.
5)Membuktikan pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam mengelola anggota keluarga dengan DM.
Manfaat Penelitian
1)Hasil penelitian ini dapat meningkatkan perkembangan ilmu tentang pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan pasien Diabetes Mellitus.
2)Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi tempat pelayanan kesehatan untuk meningkatkan pelayanan terutama dalam bidang konseling.
3)Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan konseling keluarga.
4)Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, dan dapat dimanfaatkan ilmuwan lain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Relevansi
Pola makan dan gaya hidup merupakan penyebab terjadinya penyakit DM. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi pada penderita DM adalah dengan adanya peran keluarga dalam hal pengaturan pola makan, latihan jasmani, perawatan kaki dan pengelolaan obat hypoglikemia, sehingga konseling tentang hal itu perlu diberikan pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini akan disajikan konsep dasar konseling keluarga, peran keluarga dan pengelolaan Diabetes Mellitus.
Pertama konseling keluarga yang meliputi pengertian konseling keluarga, masalah-masalah keluarga, pendekatan konseling keluarga, tujuan konseling keluarga, bentuk konseling keluarga, proses dan tahapan konseling keluarga dan faktor yang mempengaruhi keberhasilan konseling.
Kedua peran keluarga yang meliputi pengertian keluarga, fungsi keluarga, peran keluarga.
Ketiga pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang meliputi pengertian DM, tujuan pengelolaan, kriteria pengendalian, cara menentukan status gizi, perencanaan makan, latihan jasmani, pemeliharaan kaki dan obat hipoglikemi.
Konseling keluarga
Pengertian
Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi khusus yang berfokus pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga (Latipun, 2001: 174-175). Konseling keluarga merupakan bagian penting dalam pengelolaan DM karena pada konseling keluarga memandang bahwa keluarga tidak hanya dilihat sebagai faktor yang menimbulkan masalah, tetapi menjadi bagian yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah, dimana keluarga dan anggota keluarga merupakan sistem yang saling mempengaruhi sehingga untuk mengubah masalah yang dialami anggota keluarga diperlukan perubahan dalam sistem keluarganya dan permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain.
Masalah-masalah keluarga
Berdasarkan pengalaman dalam penanganan konseling keluarga masalah yang dihadapi adalah: Keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orang tua, konflik antar anggota keluarga, perpisahan dengan anggota keluarga karena kerja diluar daerah, anak yang mengalami kesulitan belajar atau sosialisasi dan salah dalam memberi pengelolaan pada anggota yang bermasalah. Berbagai permasalahan tersebut dapat terselesaikan melalui konseling keluarga. Konseling keluarga ini menjadi lebih efektif untuk mengatasi masalah jika semua anggota mau merubah sistem yang ada dengan cara yang baru untuk membantu mengatasi anggota keluarga yang bermasalah.
Pendekatan Konseling Keluarga
Dalam pelaksanaan konseling keluarga dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu:
1.Pendekatan sistem keluarga.
Menurut Murray Bowen anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (Disfunctioning Family). Karenanya dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama atau melawan yang mengarah pada individualitas.
2.Pendekatan Conjoint
Menurut Satir (1967) (dikutip dari Latipun, 2001) anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain, karena keluarga adalah fungsi bagi keperluan komunikasi dan kesehatan mental sehingga masalah yang dihadapi adalah harga diri (Self Esteem) dan komunikasi, dimana masalah terjadi jika self esteem yang dibentuk oleh keluarga itu sangat rendah dan komunikasi dalam keluarga itu juga tidak baik.
3.Pendekatan struktural
Minuchin (1974) (dikutip dari Latipun, 2001) beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun tidak tepat, dimana batas – batas antara subsistem dari sistem keluarga itu tidak jalas, sehingga untuk mengatasi keluarga yang bermasalah perlu dirumuskan kembali struktur keluarga itu dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai.
Dari berbagai pandangan para ahli tentang pendekatan konseling keluarga maka akan memudahkan penetapan strategi yang tepat untuk membantu keluarga.
Tujuan Konseling Keluarga
Tujuan konseling keluarga oleh para ahli dirumuskan secara berbeda sesuai dengan pendekatan yang dikemukakan di atas. Pada umumnya tujuan konseling keluarga adalah:
1.Memfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antar anggota.
2.Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi.
3.Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditujukan kepada anggota keluarganya yang lain.
Bentuk Konseling Keluarga
Dalam pelaksanaannya konseling berbentuk:
1.Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks system
Pada pelaksanaan bentuk konseling ini klien merupakan bagian dari system keluarga, sehingga masalah yang dialami dan pemecahannya tidak bisa mengesampingkan peran keluarga.
2.Berfokus pada saat ini
Pelaksanaan bentuk konseling ini adalah mengatasi masalah yang dihadapi klien saat ini, bukan masa lampau.
Untuk bentuk konvensionalnya, konseling disesuaikan dengan keperluannya dimana seluruh anggota keluarga harus ikut serta dalam konseling karena mereka tidak hanya berbicara tentang keluarganya tetapi juga terlibat dalam penyusunan rencana perubahan dan tindakannya.
Proses dan Tahap Konseling Keluarga
Dalam mengatasi masalah pada keluarga terjadi beberapa tahap:
1.Sesi pengenalan
Pada sesi ini terjadi perkenalan antara petugas dengan keluarga , dan juga adanya identifikasi masalah.
2.Sesi Pengajaran
Pada sesi ini keluarga mendapatkan pendidikan dalam bentuk perilaku.
3.Sesi Model
Pada sesi ini keluarga melihat cara mengimplementasikan perilaku yang telah dipelajari pada sesi pengajaran.
4.Sesi Terapis/trial
Dimana sesi ini keluarga mencoba mengimplementasikan perilaku yang telah didapat.
5.Sesi penerapan dan evaluasi
Pada sesi ini keluarga menerapkan apa yang telah didapat dan perawat mengevaluasi dengan cara melakukan kunjungan rumah.
Faktor yang berpengaruh pada keberhasilan konseling yang berhubungan dengan karakteristik subyek.
Usia klien
Usia dapat mempengaruhi hasil konseling. Klien berusia dewasa dimungkinkan lebih sulit dilakukan modifikasi persepsi dan tingkah lakunya dibandingkan dengan klien yang berusia belasan tahun, karena berhubungan dengan fleksibelitas kepribadiannya.
Jenis kelamin
Jenis kelamin, terutama berkaitan dengan perilaku model, bahwa individu melakukan modeling sesuai dengan jenis seksnya. Dalam proses konseling, factor modeling ini sangat penting dalam upaya pembentukan tingkah laku baru.
Tingkat pendidikan
Pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandangnya terhadap diri dan lingkungannya, sehingga akan berbeda cara menyikapi proses berlangsungnya konseling pada klien yang berpendidikan tinggi dengan berpendidikan rendah.
Intelegensi
Intelegensi pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri dan cara – cara pengambilan keputusan. Klien yang berintelegensi tinggi akan banyak berpartisipasi dalam proses konseling, lebih cepat dan tepat dalam membuat keputusan.
Status sosial ekonomi
Status social ekonomi berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Individu yang berasal dari keluarga status social ekonomi yang baik akan mempunyai sikap dan pandangan yang positif tentang masa depannya dibandingkan mereka yang berstatus social ekonomi rendah.
Sosial budaya
Yang termasuk dalam social budaya adalah pandangan keagaman, kelompok etnis dimana hal ini sangat berpengaruh pada proses berlangsungnya konseling.
Peran Keluarga
Pengertian
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan didalam perannya masing – masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Salvian G Bailon dan A. Maglaya, 1989).
Fungsi Keluarga
Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga, yaitu:
1.Fungsi pendidikan
Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan bila kelak dewasa nanti.
2.Fungsi sosialisasi anak
Tugas keluarga adalah mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
3.Fungsi perlindungan
Dalam hal ini keluarga bertugas melindungi anak dari tindakan – tindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan aman
4.Fungsi perasaan
Tugas keluarga adalah menjaga secara intuitif, merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
5.Fungsi religius
Dalam fungsi ini keluarga bertugas memperkenalkan dan mngajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama dan kepala keluarga bertugas menanamkan keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang mengatur kehidupan ini serta ada kehidupan lain sebelum ini.
6.Fungsi ekonomis
Dalam fungsi ini kepala keluarga bertugas mencari sumber penghidupan dalam memenuhi fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja memperoleh penghasilan, mengatur penghasilan sehingga dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
7.Fungsi rekreatif
Pada fungsi ini tidak berarti harus pergi ke tempat rekreasi, tetapi bagaimana untuk menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga dapat mencapai keseimbangan kepribadian masing – masing anggotanya.
8.Fungsi biologis
Yang utama dalam tugas ini adalah untuk meneruskan keturunan sebagai generasi penerus dalam keluarga.
Dari berbagai fungsi di atas ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarga, yaitu:
Asih, yang berarti memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada anggota keluarga, sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.
Asuh, yaitu menuju pada kebutuhan dan perawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara, sehingga mereka menjadi anak – anak yang sehat baik fisik, mental, social dan spiritual.
Asah, yang berarti memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga menjadi manusia dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.
Peran Keluarga
Keluarga merupakan system pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan baik sehat maupun sakit pada anggota keluarga yang lain.
Umumnya keluarga meminta bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak lagi sanggup merawat. Oleh karena itu asuhan keperawatan yang berfokus pada keluarga bukan hanya memulihkan keadaan anggota keluarga yang sakit, tetapi juga mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan dalam keluarga tersebut.
Dari bermacam pandangan teori yang ada disebutkan bahwa keluarga adalah sebagai faktor kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus. Faktor kontribusi tersebut adalah
Menurut L. Green yang dikutip oleh Herawati …(et. al) (2001) mengemukakan teori yang menggambarkan hubungan pendidikan kesehatan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan menjadi 3 faktor yaitu faktor predisposisi yang merupakan faktor internal yang ada pada diri individu, keluarga dan kelompok/masyarakat yang mempermudah individu untuk berperilaku. Faktor yang kedua adalah faktor pemungkin yaitu yang memunkinkan individu untuk berperilaku karena tersedianya sumber daya, keterjangkauan, rujukan dan keterampilan. Sedangkan faktor yang ketiga adalah faktor penguat yaitu yang menguatkan perilaku seperti sikap dan keterampilan petugas, teman sebaya, orang tua dan anggota keluarga yang lain.
Dari bermacam pandangan teori yang ada disebutkan bahwa keluarga adalah sebagai faktor kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus. Faktor kontribusi tersebut adalah :
Tingkat pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. (Notoatmodjo, 1997 ). Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni; indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan suatu keluarga, karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974)(dikutip dari Friedman) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, begitu juga dalam keluarga, yaitu :
1.Awareness (kesadaran) dimana orang atau keluarga tersebut menyadari dalam arti lebih mengetahui lebih dulu terhadap stimulus atau obyek.
2.Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut, disini sikap subyek sudah mulai timbul.
3.Evaluasion (menimbang – nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi diri atau keluarganya. Dalam hal ini sikap responden sudah lebih baik lagi.
4.Trial, dimana subyek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
5.Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap seperti tersebut di atas.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan , kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng dan sebaliknya jika tidak didasari oleh pengetahuan , kesadaran dan sikap yang positif perilaku tersebut akan bersifat tidak langgeng.
Menurut Bloom, pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni:
1.Tahu
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang dipelajari sebelumnya, termasuk didalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2.Memahami
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyak yang diketahuai, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang atau keluarga yang telah paham terhadap materi harus dapat menjelaskan, menyimpulkan terhadap obyek yang dipelajari.
3.Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi-materi yang dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
4.Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masalah didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masalah tersebut ada kaitannya satu sama lain.
5.Sintesis
Sintesis menunjukkan kepada suatu bentuk kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau menyusun formulasi baru yang ada.
6.Evaluasi
Ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
Mengacu pada konsep pengetahuan di atas, bila kita kaitkan dengan berbagai alasan ketidakmampuan dalam melaksanakan tugas-tugas keluarga, maka perawat bertugas membantu keluarga dalam melakukan 5 tugas keluarga dalam memahami kebutuhan kesehatan anggotanya. Baylon dan Maglaya (1978) menyatakan bahwa 5 tugas keluarga tersebut adalah :
a.Mengenal masalah kesehatan keluarga.
b.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat.
c.Merawat anggota keluarga yang sakit.
d.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga .
e.Menggunakan sumber di masyarakat guna memelihara kesehatan.
Keluarga yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah adalah dapat mencegah (pencegahan primer), menanggulangi (pencegahan sekunder) dan memulihkan (pencegahan tersier) untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka keluarga perlu mendapat konseling agar peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetus Mellitus bisa optimal.
Tingkat kemampuan keluarga
Yang dimaksud kemampuan keluarga adalah menyangkut tingkat ketrampilan keluarga dalam merawat anggota keluarganya yang mengalami gangguan kesehatan. Ketrampilan dapat berkembang bukan hanya dengan cara membaca ataupun mendengar tetapi juga dengan mengerjakan secara berulang-ulang setelah diberikan pembelajaran. Sedangkan bentuk ketrampilan tersebut dapat berupa ketrampilan bergerak atau bertindak dan ketrampilan verbal atau nonverbal.
Wahyo Samijo, (1987) mengungkapkan bahwa ketrampilan merupakan salah satu factor yang mendorong keluarga untuk berperilaku. Pendapat lain mengungkapkan ketrampilan merupakan penguatan bagi perilaku yang dikehendaki dan sebaiknya dilakukan secara konsisten (BF. Sekiner, 1997) (dikutip dari Notoatmodjo,93).
Sehubungan dengan peran dan tugas dalam kesehatan, keluarga diharapkan memiliki kemampuan yang dapat mengatasi problem-problem kesehatan dalam anggota keluarganya. Nasrul Efendy, (1998) menyatakan bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh keluarga dalam melakukan tugas kesehatan keluarga tersebut meliputi:
1.Mengenal masalah kesehatan keluarga
2.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat
3.Merawat anggota keluarga yang sakit
4.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga yang sakit
5.Menggunakan sumber dimasyarakat guna memelihara kesehatan.
Pengelolaan Anggota Keluarga Dengan Diabetes Mellitus
Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus merupakan sekumpulan gejala pada seseorang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif, dengan tanda dan gejala awal yang sering dikeluhkan pasien atau penderita DM adalah rasa haus, banyak kencing, rasa lapar, badan terasa lemas, dan berat badan yang turun (Dalimartha Setiawan, 2002 ).
Tujuan Pengelolaan
Untuk dapat berhasil mengelola pasien dengan baik diperlukan perencanaan yang matang berupa tujuan jangka pendek, tujuan jangka panjang, tindakan dan kegiatan yang dilakukan, pemeriksaan berkala, serta penyuluhan. Berikut ini perencanaan yang dimaksud:
1.Tujuan jangka pendek
Yaitu menghilangkan keluhan dan gejala penyakit Diabetes Mellitus.
2.Tujuan jangka panjang
Yaitu mencegah komplikasi kronis yang dapat menyerang pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, syaraf, kulit dan kaki.
3.Tindakan yang dilakukan
Adalah menormalkan kadar glukosa, lemak, insulin dalam darah dan memberikan pengobatan bila terdapat penyakit kronis lainnya.
4.Kegiatan yang dilakukan
Kunjungan pertama dilakukan pemeriksaan fisik lengkap untuk mengetahui status gizi, komplikasi yang mungkin sudah timbul, dan adanya penyakit kronis lainnya. Pemeriksaan fisik lengkap meliputi:
Pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah
Menanyakan dan mencari tanda gangguan syaraf seperti rasa
kesemutan
Memeriksa keadaan kaki dan denyut nadi
Pemeriksaan EKG
Rotgen dada
Pemeriksaan fundus mata.
Pemeriksaan laboratorium standart, yang meliput:
a.Darah; darah rutin, gula darah puasa dan dua jam setelah makan, albumin, kolesterol total, HDL & LDL kolesterol, HbA1c, kreatinin, SGPT (ALT) serta trigliserida.
b.Urine; sedimen, albumin, bakteri
c.Laboratorium tambahan yang sesuai dengan kebutuhan.
Pemeriksaan HbA1c, gula darah puasa dan dua jam setelah puasa setiap tiga bulan.
Pemeriksaan fisik lengkap diulang tiap satu tahun
Penyuluhan.
Kriteria pengendalian
Kriteria pengendalian penyakit Diabetes Mellitus meliputi
No
Bagian yang diperiksa
Baik
Sedang
Buruk
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Kadar glukosa darah (plasma vena mg/dl)
a.puasa
b.2 jam pp*
HbA1c (%)
Kolesterol total (mg/dl)
Kolesterol LDL (mg/dl)
a.Tanpa PJK **
b.Dengan PJK
Kolesterol HDL (mg/dl) Trigliserida (mg/dl)
a.Tanpa PJK
b.Dengan PJK
Indeks massa tubuh***
Wanita
Pria
Tekanan darah (mmHg)
80-109
110-159
4-5,9
< 200
< 130
< 100
45
< 200
< 150
18,5-22,9
20-24,9
< 140/90
110-139
160-199
6-8
200-239
130-159
100-129
35-45
200-245
150-199
23-25
25-27
140-160/90-95
140
200
8
240
160
130
< 35
250
200
25/ <18,5
27/ <20
> 160/95
Sumber : Dalimartha Setiawan, (2002 hal 22)
Keterangan :
*) PP = Post Prandial, sesudah makan
**) PJK = Penyakit jantung koroner
***) Indeks masa tubuh (IMT) = Body mass indeks (BMI)
Pasien dengan usia >60 tahun, nilai normal glukosanya adalah: puasa <150 mg/dl, sesudah makan <200 mg/dl. Hal ini disebabkan karena sifat khusus dari usia lanjut dan mencegah kemungkinan timbulnya hipoglikemia.
Cara menentukan status gizi (Dalimartha Setiawa, dr hal 23 - 24)
Indeks Masa Tubuh (IMT)
Keterangan :
BB : Berat Badan
TB : Tinggi Badan
BB Idaman (100%) : IMT Normal
Wanita = 18,5 – 22,9 kg/m2
Pria = 20 – 24,9 kg/m2
BB Normal : 90 – 110% BB Idaman
BB Kurang : <90% BB Idaman
BB over (Gemuk) : 110 – 120% BB Idaman
Obesitas (tambun) : > 120% BB Idaman
Berat Badan Relatif (BBR)
Keterangan:
Normal (ideal) : BBR 90 – 110%
Kurus (underweight) : BBR <90%
Gemuk (over weight) : BBR >110%
Obesitas (tambun) : BBR >120%
Obesitas ringan : BBR 120 – 130 %
Obesitas sedang : BBR 130 – 140%
Obesitas berat : BBR 140 - 200%
Obesitas morbid : BBR >200%
Berat Badan Ideal (BBI)
Rumus Broca :
Bbi (kg) = (TB(cm) – 100) – 10% (BB)
Dengan catatan orang yang berusia > 40 tahun dan tinggi badan <150 cm tidak dikurangi dengan 10 % berat badan (Dalimartha Setiawan, 2002 hal 24 )
Perencanaan makan
Dalam buku yang berjudul ramuan tradisional untuk pengobatan Diabetes Mellitus, Dalimartha Setiawan menyebutkan bahwa perencanaan makan sebenarnya merupakan penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori penderita sesuai dengan usia, berat badan (status gizi), aktivitas sehari – hari, jenis kelamin, beratnya penyakit yang diderita serta penyakit lainnya. Sehingga total kalori dan komposisi makanan ditentukan dalam range (kisaran persentasi, bukan suatu angka mutlak).
Dalam penyusunan menu sebaiknya diusahakan mendekati kebiasaan makan sehari – hari, sederhana, bervariasi, dan mudah dilaksanakan, seimbang serta sesuai kebutuhan dengan tidak mengesampingkan cara hidup, selera, adat serta kebiasaan penderita. Kalau tidak pasti akan ditinggalkan (Dalimartha Setiawan, 2002).
Jadwal makan penderita DM adalah porsi kecil tapi sering. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah peningkatan kadar glukosa darah yang sekaligus tinggi dan juga hipoglikemia bagi pemakai insulin.
Komposisi menu pada makanan sehari – hari dianjurkan seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah – buahan. Komposisi standart makanan yang dianjurkan pada penderita DM sehari – hari adalah:
Karbohidrat : 60 – 70 %
Protein : 10 – 15 %
Lemak : 20 – 25 %
Jumlah kandungan kolesterol < 300 mg/hari, dengan mengutamakan serat yang larut dalam air
Garam secukupnya untuk menghindari darah tinggi.
Pemanis secukupnya.
Untuk jumlah kalori yang dibutuhkan penderita DM setiap hari yang bekerja biasa adalah:
Kurus : BB x 40 – 60 kalori / hari
Normal : BB x 30 kalori / hari
Gemuk : BB x 20 kalori / hari
Obesitas : BB x 10 – 15 kalori / hari
Adapun jumlah kalori yang terkandung dalam zat makan pada setiap gramnya adalah:
No.
Zat Makanan
Jumlah kalori
1.
2.
3.
4.
1 gram karbohidrat
1 gram protein
1 gram lemak
1 gram alkohol
4 kalori
4 kalori
9 kalori
7 kalori
Sumber : Dalimartha Setiawan, (2002 hal 26).
Apabila terjadi keseimbangan antara makanan yang masuk dengan kebutuhan, dan kemampuan tubuh untuk mengolahnya maka diharapkan glukosa darah terkontrol dalam batas – batas normal. Selain itu juga tersedia cukup tenaga untuk kegiatan sehari – hari penderita dan berat badan juga ideal.
Latihan Jasmani
Menurut Dalimartha Setiawan (2002), yang dimaksud dengan latihan jasmani bagi penderita DM adalah Aerobik yaitu olahraga yang berjalan terus menerus dan berlangsung dalam waktu cukup lama serta dilakukan secara sadar. Dengan melakukan latihan jasmani secara teratur dan berkesinambungan diharapkan kadar glukosa darah akan turun.
Untuk penderita yang tergantung insulin ringan atau sedang latihan jasmani bisa dilakukan dengan aman, tapi bagi penderita yang mempunyai resiko atau disertai komplikasi maka latihan jasmani sebaiknya dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu.
Manfaat dari latihan jasmani adalah untuk kesegaran tubuh, membuang kelebihan kalori, mengontrol glukosa darah, mengurangi kebutuhan obat atau insulin, dan untuk penderita yang beresiko latihan jasmani berguna untuk menurunkan tekanan darah tinggi, mengurangi resistensi insulin, dan memperbaiki profil lemak darah yang terganggu.
Latihan jasmani dilakukan selama 50 – 60 menit, dan selama latihan denyut nadi harus mencapai zona latihan yaitu denyut nadi yang harus dicapai selama latihan untuk memperoleh suatu manfaat. Untuk mengetahui denyut nadi yang diperbolehkan selama latihan, dapat dihitung dengan rumus :
Denyut nadi maximal = 220 – umur
Zona latihan = 70 – 85 % dari denyut nadi maximal
Latihan jasmani sebaiknya dilakukan sesuai dengan program CRIPE yaitu :
Continuous : Latihan jasmani dilakukan secara terus menerus selama 50 – 60 menit tanpa berhenti.
Rhytmical : Latihan dilakukan secara berirama dan teratur.
Interval : Latihan dilakukan berselang – seling, kadang cepat, kadang lambat tetapi tanpa berhenti.
Progresive : Latihan dilakukan secara bertahap dengan beban latihan ditingkatkan perlahan – lahan.
Endurance : Latihan ketahanan untuk meningkatkan kesegaran jantung dan pembuluh darah
Pemeliharaan Kaki
Pemeliharaan kaki adalah usaha yang dilakukan dengan selalu memperhatikan dan menjaga kebersihan, serta melakukan latihan secara baik sebelum terjadi gangguan atau komplikasi (Dalimartha Setiawan, 2002 : 31 ).
Dalam pemeliharaan kaki ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu :
Perawatan Kaki
Yaitu segala usaha yang dilakukan untuk menjaga kebersihan kaki. Langkah – langkahnya meliputi:
Periksalah kaki tiap hari untuk menemukan lecet atau luka secara dini.
Cuci kaki setiap hari dengan air hangat dan sabun, lalu keringkan terutama sela jari.
Oleskan cream atau lotion pelembut untuk kaki yang pecah – pecah tapi hindari sela jari.
Gunakan alas kaki baik didalam maupun luar rumah.
Gunakan kaos kaki tiap hari.
Gunakan sepatu yang sesuai, jangan terlalu sempit. Dan periksa sepatu setiap hari untuk menghindari hal yang menyebabkan luka pada kaki.
Gunting kuku secara melintang. Bila terjadi infeksi segera ke dokter.
Jangan mengompres atau merendam kaki dengan air panas, karena respon panas pada kaki menurun sehingga tidak terasa jika sampai melepuh.
Latihan Kaki
Menurut Dalimartha Setiawan (2002) yang dimaksud latihan kaki yaitu gerakkan yang dilakukan untuk melatih jari dan otot kedua kaki serta mengaktifkan aliran darah, dimana dilakukan secara teratur. Latihan kaki yang dapat dilakukan antara lain :
Berjalan cepat setiap hari selama ½ - 1 jam dengan jarak tempuh yang makin hari makin jauh.
Naik tangga dengan menggunakan telapak kaki bagian depan atau jalan ditempat dengan hanya menggunakan jari – jari kaki.
Duduk tegak dibelakang kursi, kedua tangan memegang sandaran kursi, angkat kedua tumit secara serentak keatas dan kebawah secara berulang – ulang.
Duduk tegak disamping kursi, satu tangan memegang sandaran kursi lipat kedua lutut secara serentak sampai paha dengan posisi horizontal dan kedua tumit terangkat, kemudian berdiri tegak lakukan berulang – ulang.
Duduk tegak pada kursi, kedua tangan dilipat dan didekapkan kedada, lakukan gerakan duduk dan bangun berulang – ulang.Berdiri tegak pada satu kaki pada alas setebal 10 cm, satu tangan berpegangan pada dinding atau sandaran kursi, ayunkan kaki kedepan dan kebelakang lakukan berulang – ulang dan bergantian.
Duduk pada lantai sambil bersandar kedinding, kedua kaki lurus kedepan, naikkan sebelah kaki keposisi lurus, lalu putar pada pergelangan kaki searah jarum jam, lakukan berulang – ulang dan bergantian.
Latihan kaki setiap kali dilakukan sampai 10 kali hitungan dan dapat diulang bila perlu dan penderita tidak merasa lelah.
Obat Hipoglikemik
Menurut Dalimarta Setiawan, (2002) obat hypoglikemia adalah obat untuk penderita DM yang berguna untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai petunjuk dokter.
Ada dua macam obat hipoglikemik, yaitu berupa suntikan dan tablet dapat diminum dan biasa disebut OHO atau OAD.
Obat tablet
Yang dimaksud obat tablet adalah obat yang cara penggunaannya dengan diminum.
Berdasar waktu paruh masing – masing OHO, obat dibagi atas tiga jenis :
Short – acting : waktu paruh 4 jam, diberikan 1 – 3 x/hari
Intermediate : waktu paruh 5 – 8 jam, diberikan 1 – 2 x/hari.
Long – acting : waktu paruh 24 36 jam, diberikan tiap pagi.
Cara minum obat dengan dosis terbagi adalah:
Pemakaian 1 x/hari : pagi hari
Pemakaian 2 x/hari : pagi dan siang hari
Pemakaian 3 x/hari : pagi, siang dan sore hari
Apabila obat jenis intermediate perlu diberikan 2x/hari, sedangkan penderita butuh 3 tablet maka obat diberikan pagi hari dua tablet dan siang satu tablet.
Golongan obat ini tidak diminum pada malam hari karena akan menyebabkan hypoglikemia serta menyebabkan dikeluarkannya beberapa hormon misal katekolamin, kortisol dan growth hormon, dimana dalam jangka lama akan mempercepat kerusakan pembuluh darah.
Untuk menambah khasiat menurunkan kadar glukosa darah, maka obat diminum ½ jam sebelum makan.
Obat Suntik / Insulin
Yaitu obat anti hypoglikemia yang pemberiannya melalui suntikan,baik secara intra muscular, subcutan maupun intra vena. Obat jenis ini biasanya diberikan pada penderita DM tipe I, DM dengan gangren, ketoasidosis, koma, DM dengan kehamilan, berat badan penderita menurun cepat,tidak berhasil dengan tablet hypoglikemik,dan DM yang disertai gangguan hati dan ginjal.
Tempat atau lokasi penyuntikan insulin adalah lengan atas, dinding perut, paha dan pantat.
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
Pada bab ini akan dibahas mengenai kerangka konseptual dan hipotesis.
Kerangka Konseptual
Gambar 3.1 Kerangka konseptual interaksi pengaruh konseling keluarga dalam perbaikan peran keluarga terhadap pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Dari gambar 3.1 dapat dijelaskan pengaruh konseling terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Pengetahuan keluarga dengan DM adalah serangkaian usaha yang dilakukan keluarga untuk menghilangkan keluhan, mencegah komplikasi dengan tindakan yang dilakukan untuk menormalkan kadar glukosa, lemak dan insulin di dalam darah, serta memberikan pengobatan bila terdapat penyakit kronis lain pada pasien DM. Di mana pengelolaan DM ini meliputi ; perencanaan makan,latihan jasmani, pemeliharaan kaki dan pengelolaan obat hypoglikemia. Perencanaan makan adalah penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori pasien sesuai dengan usia, berat badan, aktivitas sehari-hari, jenis kelamin, berat ringannya penyakit yang diderita. Latihan jasmani yaitu aerobik/olahraga yang berjalan terus menerus dan berlangsung dalam waktu cukup lama serta dilakukan secara sadar, dimana pelaksanaannya secara continous, rhytmical, interval, progresif dan endurance. Sedangkan pemeliharaan kaki adalah usaha yang dilakukan dengan selalu memperhatikan dan menjaga serta melakukan secara baik sebelum terjadi gangguan/komplikasi yang dibagi menjadi 2 yaitu perawatan kaki dan latihan kaki. Obat hypoglikemia adalah obat untuk pasien DM yang berguna untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai petunjuk dokter, obat ini dibedakan menjadi dua yaitu obat tablet dan obat suntik.
Konseling keluarga adalah merupakan penerapan konseling pada situasi khusus yang berfokus pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga. Keluarga sebagai faktor kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Faktor kontribusi tersebut adalah pengetahuan. Pengetahuan adalah hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu (Notoatmodjo, 1997). Salah satu penginderaan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan konseling keluarga. Pada pelaksanaannya konseling ini akan merubah perilaku orang/keluarga. Dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM konseling ini akan meningkatkan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Hipotesis
Ha dalam penelitian ini yakni :
Ada pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
BAB 4
METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan dibahas tentang metode yang akan digunakan dalam penelitian ini yang meliputi: 1) Desain penelitian, 2) Kerangka kerja 3) Populasi, sample dan sampling, 4) Identivikasi variabel dan definisi operasional, 5) Pengumpulan dan pengolahan data, 6) Masalah etika, dan 7) Keterbatasan.
Desain Penelitian
Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin timbul selama proses penelitian (Burns & Goreve, 1991 :171)
Dalam penelitian ini menggunakan ”pre post test non control group design” dimana suatu kelompok sebelum dilakukan perlakuan tertentu ( x ) diberi pretest, kemudian diberikan perlakuan dan sesudah perlakuan tersebut dilakukan post test atau suatu pengukuran untuk mengetahui akibat dari perlakuan.
Subyek
Pre-test
Perlakuan
Post-test
K
O
X
O1
Keterangan :
K : Subyek
O : Pretest (sebelum konseling)
X : Perlakuan (konseling)
O1 : Post test (sesudah Konseling)
Gambar 4.1 Desain penelitan ”pre post test non control group design” pada penelitian yang berjudul ”Pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Kerangka Kerja
Gambar 4.2 Kerangka kerja penelitian dengan judul ”Pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Populasi, Sampel dan Sampling
Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian atau yang akan diteliti (Notoatmodjo, 1993 :35)
Populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus yang ada diwilayah kerja Puskesmas Torjun sampang.
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti dengan ”sampling” tertentu untuk bisa memenuhi/mewakili populasi (Nursalam & S. Pariani, 2001: 64).
Kriteria Inklusi dalam penelitian ini:
Keluarga bersedia untuk diteliti
Keluarga yang mendapatkan konseling suami, istri, anak ,cucu dan lain-lain.
Keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus
Kriteria Ekslusi dalam penelitian ini:
Keluarga tidak bersedia untuk diteliti
Keluarga yang tidak mendapatkan konseling
Keluarga yang tidak/kurang memperhatikan keluarga yang menderita daibetes mellitus
Besar sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel (Chandra, 1995: 41)
Sehubungan dengan keterbatasan biaya dan waktu yang dimiliki peneliti, sehingga tidak memungkinkan mengambil semua populasi. Oleh karena itu kami mengambil sampel yang kami anggap representatif, 30 keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus dengan perhitungan:
Sampling
Sampling adalah suatu proses dalam penyeleksi porsi dan populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam & S, Pariani, 2001: 66)
Penelitian ini menggunakan ”purposive sampling”. Pada sampling ini dipilih keluarga yang memenuhi criteria dan dapat mewakili karakteristik populasi yaitu keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus. (Nursalam & Siti Pariani, 2001)
Idetintifikasi Variabel
Variabel Independen
Variabel Independen adalah factor yang diduga mempengaruhi variabel dependen (Nursalan & S, Pariani, 2001)
Variabel independen adalah konseling keluarga yang meliputi :
1.Pengertian
Konseling keluarga adalah penerapan konseling pada situasu khusus yang berfokus pada masalah – masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga.
2.Pendekatan konseling keluarga
Dalam pelaksanaannya konseling keluarga dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu;
Pendekatan system keluarga, Keluarga bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi.
Pendekatan Conjoint, keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain.
Pendekatan Struktural, masalah keluarga sering terjadi karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun tidak tepat, dimana batas - batas antara subsistem dari system keluarga itu tidak jelas.
3.Tujuan konseling keluarga
Secara umum tujuan konseling keluarga adalah:
Memfasilitasi komunikasi fikiran dan perasaan antar anggota keluarga.
Mengganti gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi.
Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu yang ditujukan kepada anggota keluarganya yang lain.
4.Bentuk konseling keluarga
Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks system yaitu klien merupakan bagian dalam system.
Berfokus pada saat ini yaitu bahwa pelaksanaan konseling adalah mengatasi masalah yang dihadapi pada saat ini, bukan masa lampau.
5.Proses dan tahap konseling keluarga
Dalam pelaksanaan konseling pada keluarga terjadi beberapa tahap yaitu:
a.Sesi pengenalan
b.Sesi pengajaran
c.Sesi model
d.Sesi terapis/trial
e.Sesi penerapan dan evaluasi
Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel respon atau out put (Nursalam & S. Pariani, 2001: 42).
Variabel dependen adalah pengelolaan pasien dengan Diabetes Mellitus yang meliputi :
1.Perencanaan makan
Penyusunan menu, yang disesuaikan dengan kebutuhan penderita.
Jadwal makan,yang terdiri dari 3x makanan utama dan 3x makanan antara (snack)
Porsi makan,dengan menggunakan porsi kecil tapi sering.
Komposisi menu
Komposisi standar penderita Diabetes Mellitus
Karbohidrat : 60-70%
Protein : 10-15%
Lemak : 20-75%
Jumlah kandungan kolestrol <300mg/hari
Jumlah kandungan serat 25-30mg/hari
Garam secukupnya
Pemanis secukupnya
2.Latihan Jasmani
Jenis latihan jasmani yang dilakukan haruslah bersifat kontinyu, rhythmical, interval, progresive dan endurance.
Waktu pelaksanaan terus menerus secara berkesinambungan
3.Pemeliharaan kaki
Perawatan kaki meliputi;
Pembersihan kaki
Pemberian lotion
Pemakaian alas kaki
Pemilihan sepatu
Pemotongan kuku
Latihan kaki,yang dapat dilakukan adalah :
Jalan cepat
Bediri dengan tegak kaki bagian depan
4.Obat hipoglikemia
Jenis obat hipoglikemia:
Oral
Waktu paruh obat oral:
Short-acting : 4 jam, diberikan 1-3 X/hari
Intermediate : 5-8 jam, diberikan 1-2 X/hari
Long-acting : 24-36jam, diberikan tiap hari
Cara minum obat hipoglikemia
Pemakaian 1 X hari: pagi hari
Pemakaian 2 X hari: pagi &siang hari
Pemakaian 3 X hari: pagi, siang, dan malam hari
Suntikan
Indikasi:
Penderita DM tipe I
Penderita DM dengan ganggren
Ketoasidosis
Koma diabetikum
DM dengan kehamilan
DM dengan penurunan berat badan cepat
Tidak berhasil dengan tablet hipoglikemik
DM yang disertai gangguan hati dan ginjal
Cara penyuntikan:
Intra Muscular
Subcutan
Intra Vena
Tempat penyuntikan:
Lengan bagian atas
Dinding perut
Paha dan pantat
Definisi Operasional
Variabel
Defenisi operasional
Parameter
Alat
ukur
Skala
Skor
Variabel dependent pengelolaan pasien dengan Diabetes Mellitus
1.Perencanaan makan
2.Latihan jasmani
3.Pemeliharaan kaki
4.Obat hipoglikemia
Variabel Independent
Konseling keluarga
Perencanaan
makan adalah penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori penderita sesuai dengan usia, berat badan (status gizi), aktivitas sehari – hari, jenis kelamin serta beratnya penyakit yang diderita
Latihan jasmani adalah suatu aktivitas tubuh yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan pada penderita dengan harapan terjadi penurunan glukosa darah
Pemeliharaan kaki adalah usaha yang ditujukan untuk kesehatan serta kekuatan pada kaki penderita DM.
Obat hipoglikemi adalah obat yang digunakan menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai dengan petunjuk dokter.
Konseling keluarga adalah penerapan konseling pada situasi khusus yang berfokus pada masalah-masalah keluarga yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraanya melibatkan keluarga
Perencanaan makan pada pasien Diabetes Mellitus meliputi :
Penyusunan menu seimbang
Jadwal makan
Porsi makan
Komposisi menu
Karbohidrat :60-70% Protein :10-15%
Lemak : 20 –75%
Jumlah kandungan kolesterol < 300mg/hr
Garam dan pemanis secukupnya
Latihan jasmani pada pasien DM adalah latihan yang bisa memperbaiki kesegaran jasmani yang bersifat :
Continue (terus menerus)
Rhytmical (berirama dan teratur)
Interval latihan (berselang-seling)
Progressive (bertahap)
Endurance
( kesegaran)
Pemeliharaan kaki meliputi:
Perawatan kaki pembersihan kaki pemberian lotion pemakaian alas kaki pemeliharaan sepatu pemotongan kuku secara teratur.
Latihan kaki,jalan cepat setiap hari ½ - 1 jam, berjalan ditempat dengan menggunakan jari – jari kaki.
Obat hipoglikemi pada penderita DM ada dua yaitu oral dan suntikan.
Pada obat oral, obat hipoglikemia mempunyai: waktu paruh short acting, Intermediate, longacting
Cara minum obat sesuai dosis. Obat oral hipoglikemia tidak boleh diminum pada malam hari untuk menghindari hipoglikemia pada waktu tidur.
Diminum ½ jam sebelum makan.
Pada obat jenis suntik biasanya diberikan pada: penderita DM tipe I
DM dengan ganggren ketoasidosis dan koma DM dengan kehamilan BB penderita menurun cepat, tidak berhasil dengan tablet hipoglikemik dan disertai gangguan hati dan ginjal.
Cara penyuntikan: IM IV SC
Tempat penyuntikan: lengan atas dinding perut paha dan pantat
Konseling keluarga meliputi :
a.Pendekatan konseling keluarga
Pendekatan system keluarga
Pendekatan conjoint
Pendekatan struktural
b.Tujuan konseling keluarga
Memfasilitasi komunikasi fikiran dan perasaan antar anggota keluarga
Mengganti gangguan ketidakfleksibelan peran dan kondisi keluarga
Memberi pelayanan sebagai model dan pendidikan peran tertentu terhadap anggota keluarga yang lain
c.Bentuk konseling keluarga
Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks sistem
Berfokus pada saat ini
d.Proses dan tahapan konseling keluarga
Sesi pengenalan
Sesi Pengajaran
Sesi model
Sesi Terapis / trial
Sesi penerapan
K
U
I
S
I
O
N
E
R
K
U
E
S
I.
O
N
E
R
K
U
E
S
I
O
N
E
R
K
U
E
S
I
O
N
E
R
-
O
R
D
I
N
A
L
O
R
D
I
N
A
L
O
R
D
I
N
A
L
O
R
D
I
N
A
L
-
Jawaban “ya” dari 5 item yang ada :
76 – 100 %:Baik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
Jawaban “ya” dari 6 item yang ada :
76 – 100 %:Baik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
Jawaban “ya” pada 6 item yang ada :
76 – 100 %:aik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
Jawaban “ya” dari 7 item yang ada :
76 – 100 %:Baik
56 – 75 % :cukup
55 % : Kurang
-
Pengumpulan dan pengolahan data
Instrumen
Pengumpulan data dalam pen elitian ini melalui observasi dan kuestioner pada keluarga yang akan diteliti, instrumen yang digunakan adalah instrumen kuestioner denga jenis pertanyaan Matrix Question. Semua pertanyaan berjumlah 25 dengan jawaban ya dan tidak .
Lokasi
Lokasi penelitian adalah wilayah kerja Puskesmas Torjun yang terdiri dari 2 Desa yaitu Desa Dulang yang terbagi Dusun Sreseh dan Dusun Roytoroy.
Prosedur
Responden (keluarga) yang diintervensi untuk diberikan konseling keluarga, sebelumnya dilakukan kunjungan rumah untuk observasi langsung dengan perkenalan, penyampaian maksud dan tujuan. Kemudian diberikan pre test. Setelah itu baru diberikan konseling peran keluarga terhadap pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Setelah 3 – 4 minggu responden (keluarga) diobservasi dan diberikan post test.
Cara analisis data
Kuasioner yang telah diisi oleh respoden diberi kode sesuai criteria yang ditentukan, didistribusikan dan dianalisa secara kwantitatif. Selanjutnya data diuji dengan analisa uji statistik “korelasi kendal Tau“ () Untuk mencari koefisien korelasi parsial. Rumus dasar yang digunakan adalah sebagai berikut :
Di mana:
= Koefisien korelasi biserial kendal Tau yang besarnya (-1<0<1)
A = Jumlah rangking atas
B = Jumlah rangking bawah
N = Jumlah anggota sampel
Uji signifikan koefisien korelasi menggunakan rumus z, karena distribusinya mendekati distribusi normal. Rumusnya adalah sebagai berikut :
Masalah Etika
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mendapatkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, Kepala Puskesmas Torjun dan Kepala Desa Dulang.
Setelah mendapat persetujuan barulah melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi:
Lembar persetujuan menjadi responden
Lembar persetujuan diberikan kepada subyek yang akan diteliti. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan riset yang dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Jika keluarga bersedia diteliti, maka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut, jika keluarga menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak – haknya.
Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan keluarga, peneliti tidak mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan data, cukup dengan memberikan nomer kode pada masing – masing lembar tersebut.
Confidentiallity ( kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi keluarga dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset.
Keterbatasan
Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian (Burns & Grove, 1991, 121). Dalam penelitian ini, keterbatasan yang dihadapi peneliti adalah:
1.Sampel yang digunakan terbatas pada keluarga dengan anggota keluarga menderita dibetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas Torjun saja, sehingga kurang representatif untuk mewakili keluarga dengan anggota keluarga menderita Diabetes Mellitus yang ada diwilayah lain.
2.Instrumen pengumpulan data dirancang oleh peneliti sendiri tanpa melakukan uji coba, oleh karena itu validitas dan realibilitasnya masih perlu diuji coba.
3.Penelitian ini hanya dilakukan selama satu bulan dengan pelaksanaan hari pertama datang memberikan pretest dan konseling kemudian datang lagi hari ketiga puluh untuk memberikan post test, sehingga kurang dapat menggambarkan pengaruh konseling keluarga terhadap peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus, karena terbatasnya waktu.
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
Pada bab ini akan dideskripsikan hasil penelitian dan pembahasan sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian meliputi gambaran umum, lokasi penelitian, karakteristik demografi responden berdasarkan status dalam keluarga, umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan keluarga. Gambaran pengelolaan anggota keluarga yang menderita DM baik sebelum dan sesudah dilakukan konseling, yang meliputi perencanaan makan, latihan jasmani, perawatan kaki dan obat hypoglikemia. Hasil penelitan yang telah didapatkan kemudian dibahas dengan mengacu pada tujuan dan landasan teori pada bab 2.
Hasil penelitian
Di dalam hasil penelitian ini akan diuraikan tentang gambaran umum lokasi penelitian, karakteristik responden dan pengelolaan pasien DM, yaitu sebagai berikut :
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Torjun. Jumlah keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM pada saat pengambilan data tanggal 7 - 11 Mei 2009 berjumlah 42 keluarga sedangkan jumlah keluarga yang diambil sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 30 keluarga.
Karakteristik Demografi Responden
Karakteristik demografi responden sebelum dan sesudah konseling keluarga akan diuraikan berdasarkan status dalam keluarga, umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan keluarga.
1.Distribusi responden berdasarkan status dalam keluarga
Gambar 5.1 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan status dalam keluarga di wilayah kerja PKM Torjun pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.1 di atas, responden sebagian besar berstatus anak dalam keluarga yaitu berjumlah 11 orang ( 36,7 %) dan yang paling sedikit adalah responden yang berstatus sebagai kepala keluarga yaitu 9 orang (30 %)
2.Distribusi responden berdasarkan umur
Gambar 5.2 Diagram Pie Distribusi responden konseling berdasarkan umur di wilayah kerja PKM Torjun pada bulan Mei 2009
Berdasarkan gambar 5. 2 di atas, responden berumur > 50 tahun yaitu 18 orang (60%) dan yang paling sedikit adalah responden yang berumur antara 20 – 29 tahun yaitu 2 orang (6,7%)
3.Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin
Gambar 5.3 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5,3 di atas, responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 18 orang (60%) dan yang laki-laki berjumlah 12 orang (40%)
4.Distribusi Responden berdasarkan status perkawinan
Gambar 5.4 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan status perkawinan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.4 di atas, responden sebagian besar adalah kawin yaitu 29 orang (96,66%) dan yang paling sedikit belum kawin yaitu 1 orang (3,34 %) sedangkan duda/janda tidak ada.
5.Distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan
Gambar 5.5 Diagram Pie Distribusi responden konseling berdasarkan tingkat pendidikan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.5 di atas, responden sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan SLTP yaitu sebanyak 19 orang (63,34%), sedangkan paling sedikit adalah responden dengan tingkat pendidikan SD yaitu 4 orang (13,34%)
6.Distribusi responden berdasarkan pekerjaan
Gambar 5. 6 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan pekerjaan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.6 di atas, responden sebagian besar tidak bekerja (sebagai ibu rumah tangga) yaitu berjumlah 15 orang (50%), sedangkan yang paling sedikit adalah bekerja sebagai pegawai negeri yaitu berjumlah 2 orang (6,67%).
7.Distribusi responden berdasarkan penghasilan
Gambar 5.7 Diagram Pie Distribusi responden berdasarkan penghasilan di wilayah kerja PKM Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Berdasarkan gambar 5.7 di atas, responden sebagian besar mempunyai penghasilan sebesar Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 yaitu sebanyak 21 orang (70%), dan yang berpenghasilan < Rp250.000, Rp. 250.000 – Rp. 500.000 dan > Rp. 1.000.000 adalah masing-masing 3 orang (10%).
Pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Berikut akan disajikan mengenai data pengaruh konseling keluarga terhadap pengelolaan pasien DM yang terdiri dari 4 komponen yaitu :
1.Pengaruh konseling terhadap perencanaan makan pasien DM
Peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah konseling disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.1 Tabel data peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
7
23,3%
30
100,0%
Cukup
10
33,3%
0
0,0%
Kurang
13
43,3%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.1 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM, yang ditunjukkan dengan perubahan yang berarti pada semua kriteria. Pada data pre test diperoleh data pada kriteria kurang sebanyak 13 orang (43,3%) sedangkan pada post test diperoleh data pada kriteria kurang adalah 0 (0%). Untuk kriteria cukup diperoleh data sebanyak 10 orang (33,3%) pada pre test dan 0 (0%) pada data post test. Pada kriteria baik diperoleh data 7 orang (23,3%) pada pre test, sedangkan pada post test data yang diperoleh sebanyak 30 orang (100%). Dari data tersebut diperoleh nilai rata-rata perubahan yang terjadi setelah dilakuan konseling pada perencanaan makan 1,2 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi antara konseling keluarga dengan perencanaan makan dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,734 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
2.Latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM
Peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.2 Tabel data peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
0
0,0%
29
96,7%
Cukup
9
30,0%
1
3,3%
Kurang
21
70,0%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.2 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM, dimana hal tersebut ditunjukkan kriteria kurang pada data pre test sebanyak 21 orang (70%) dan pada post test menjadi menjadi 0 (0%). Untuk kriteria cukup pada data pre test diperoleh data sebanyak 9 orang (30%) dan sebanyak 1 orang (3,3%) pada data post test. Sedang pada kriteria baik pada pre test didapat data 0 (0%) dan pada post test sebanyak 29 orang (96,7%). Dari data tersebut diperoleh nilai rata-rata peningkatan 1,7 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi antara konseling keluarga dengan latihan jasmani dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,892 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
3.Pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM
Peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah konseling keluarga disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.3 Tabel data peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
0
0,0%
29
96,7%
Cukup
13
43,0%
1
3,3%
Kurang
17
56,7%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM, dimana perubahan yang berarti tersebut ditunjukkan dengan data pre test pada kriteria kurang sebanyak 17 orang (56,7%) menjadi 0 (0%) pada post test. Untuk kriteria cukup pada data pre test diperoleh data 13 orang (43%) dan sebanyak 1 orang (3,3%) pada post test. Sedangkan pada kriteria baik pada pre test diperoleh data 0 (0%) dan sebanyak 29 orang (96,7%) pada post test. Nilai rata-rata peningkatan yang diperoleh dari pre test dan post test adalah 1,5 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi antara konseling keluarga dengan pemeliharaan kaki dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,877 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
4.Obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM
Peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah konseling keluarga disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 5.4 Tabel data peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling di Wilayah Kerja Puskesmas Torjun Sampang pada bulan Mei 2009.
Kriteria
Pre test
Post test
Baik
4
13,3%
26
86,7%
Cukup
10
33,3%
4
13,3%
Kurang
16
53,3%
0
0,0%
Jumlah
30
100%
30
100%
Berdasarkan tabel 5.4 di atas dapat diketahui sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga terdapat perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM, dimana hal tersebut ditunjukkan dengan data pre test dan post test pada semua kriteria. Untuk kriteria kurang pada pre test diperoleh data sebanyak 16 orang (53,3%) dan 0 (0%) pada post test, sedangkan pada kriteria cukup pada pre test diperoleh data sebanyak 10 orang (33,3%) menjadi sebanyak 4 orang (13,3%) pada post test. Dan pada kriteria baik diperoleh data pre test sebanyak 4 orang (13,3%) menjadi 26 (86,7%). Dari data pre test dan post test terjadi penurunan pada kriteria cukup dari 33,3% menjadi 13,3%, namun dari kesemua data pre test dan post test tersebut diperoleh nilai peningkatan rata-rata 1,3 tingkat.
Hasil uji statistik menggunakan uji Kendal tau sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga didapatkan korelasi anatara konseling keluarga dengan pengelolaan obat hypoglikemia dan memiliki nilai koefisien korelasi 0,720 (berada dalam rentang -1 sampai 1), ini menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang positif. Signifikansi (2-tailed) menunjukkan nilai 0,000 (< 0,05), ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara konseling keluarga dengan perubahan dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM atau H1 diterima.
Pembahasan
Pada pembahasan ini akan diuraikan mengenai hasil penelitian yang telah dilaksanakan dan dilakukan uji dengan Kendal tau dan analisa mengacu pada landasan teori pada bab 2
Peran keluarga dalam pengelolaan anggota dengan DM yaitu:
Peran keluarga dalam perencanaan makan anggota keluarga dengan DM.
Peran keluarga dalam perencanaan makan pada keluarga dengan DM sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga dan dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan, yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM yaitu adanya peningkatan peran keluarga dalam perencanaan makan. Dalimartha Setiawan menyebutkan bahwa perencanaan makan sebenarnya merupakan penyesuaian pola makan dengan kebutuhan kalori penderita sesuai dengan usia, berat badan (status gizi), aktivitas sehari-hari, jenis kelamin, beratnya penyakit yang diderita serta penyakit lainnya. Sehingga total kalori dan komposisi makanan ditentukan dalam range (kisaran persentasi, bukan suatu angka mutlak). Dalam penyusunan menu sebaiknya diusahakan mendekati kebiasaan makan sehari-hari, sederhana, bervariasi dan mudah dilaksanakan, seimbang serta sesuai kebutuhan dengan tidak mengesampingkan cara hidup, selera, adat serta kebiasaan penderita. Kalau tidak pasti akan ditinggalkan (Dalimartha Setiawan, 2002). Jadwal makan penderita DM adalah porsi sering tapi sering. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah peningkatan kadar glukosa darah yang sekaligus tinggi dan juga hipoglikemia bagi pemakai insulin, serta komposisi menu pada makanan sehari-hari dianjurkan seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, sayur dan buah-buahan.
Apabila terjadi keseimbangan antara makanan yang masuk dengan kebutuhan, dan kemampuan tubuh untuk mengolahnya maka diharapkan glukosa darah terkontrol dalam batas-batas normal. Selain itu juga tersedia cukup tenaga untuk kegiatan sehari-hari penderita dan berat badan juga ideal.
Peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM.
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga dan dilakuakn uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan dimana ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM. Hubungan ini ditujukan dengan adanya perubahan ke arah yang lebih baik pada peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM. Menurut Dalimartha Setiawan (2002), yang dimaksud dengan latihan jasmani bagi penderita DM adalah Aerobik yaitu olahraga yang berjalan terus menerus dan berlangsung dalam waktu cukup lama serta dilakukan secara sadar. Untuk penderita yang tergantung insulin ringan atau sedang latihan jasmani bisa dilakukan dengan aman, tapi bagi penderita yang mempunyai resiko atau disertai komplikasi maka latihan jasmani sebaiknya dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu. Latihan jasmani dilakukan selama 50 – 60 menit, dan selama latihan denyut nadi harus mencapai zona latihan yaitu denyut nadi yang harus dicapai selama latihan untuk memperoleh suatu manfaat. Untuk mengetahui denyut nadi yang diperbolehkan selama latihan, dapat dihitung dengan rumus :
Denyut nadi maximal = 220 – umur
Zona latihan = 70 – 85 % dari denyut nadi maximal
Latihan jasmani sebaiknya dilakukan sesuai dengan program CRIPE yaitu :
Continuous : Latihan jasmani dilakukan secara terus menerus selama 50 – 60 menit tanpa berhenti.
Rhytmical : Latihan dilakukan secara berirama dan teratur.
Interval : Latihan dilakukan berselang – seling, kadang cepat, kadang lambat tetapi tanpa berhenti.
Progresive : Latihan dilakukan secara bertahap dengan beban latihan ditingkatkan perlahan – lahan.
Endurance : Latihan ketahanan untuk meningkatkan kesegaran jantung dan pembuluh darah
Manfaat dari latihan jasmani adalah untuk kesegaran tubuh, membuang kelebihan kalori, mengontrol glukosa darah, mengurangi kebutuhan obat atau insulin, dan untuk penderita yang beresiko latihan jasmani berguna untuk menurunkan tekanan darah tinggi, mengurangi resistensi insulin, dan memperbaiki profil lemak darah yang terganggu.
Manfaat ini akan diperoleh apabila latihan jasmani dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga serta dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pemeliharaan kaki dengan ditunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik pada peran keluarga delam pemeliharaan kaki. Pemeliharaan kaki adalah usaha yang dilakukan dengan selalu memperhatikan dan menjaga kebersihan, serta melakukan latihan secara baik sebelum terjadi gangguan atau komplikasi (Dalimartha Setiawan, 2002 : 31 ). Dalam pemeliharaan kaki ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu : 1) Perawatan Kaki, yaitu segala usaha yang dilakukan untuk menjaga kebersihan kaki. Langkah – langkahnya meliputi periksalah kaki tiap hari untuk menemukan lecet atau luka secara dini, cuci kaki setiap hari dengan air hangat dan sabun, lalu keringkan terutama sela jari, oleskan cream atau lotion pelembut untuk kaki yang pecah – pecah tapi hindari sela jari, gunakan alas kaki baik didalam maupun luar rumah, gunakan kaos kaki tiap hari, gunakan sepatu yang sesuai, jangan terlalu sempit. Dan periksa sepatu setiap hari untuk menghindari hal yang menyebabkan luka pada kaki, gunting kuku secara melintang. Bila terjadi infeksi segera ke dokter, jangan mengompres atau merendam kaki dengan air panas karena respon panas pada kaki menurun sehingga tidak terasa jika sampai melepuh; 2) Latihan Kaki, menurut Dalimartha Setiawan (2002) yang dimaksud latihan kaki yaitu gerakkan yang dilakukan untuk melatih jari dan otot kedua kaki serta mengaktifkan aliran darah, dimana dilakukan secara teratur. Latihan kaki yang dapat dilakukan antara lain berjalan cepat setiap hari selama ½ - 1 jam dengan jarak tempuh yang makin hari makin jauh.Latihan kaki setiap kali dilakukan sampai 10 kali hitungan dan dapat diulang bila perlu dan penderita tidak merasa lelah.
Pada pelaksanaannya pemeliharaan kaki ini akan memperoleh hasil jika dilakukan secara teratur dan terus menerus serta secara dini.
Peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling keluarga serta dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pengelolan obat hypoglikemia dengan adanya peningkatan peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia. Menurut Dalimarta Setiawan, (2002) obat hypoglikemia adalah obat untuk penderita DM yang berguna untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah yang penggunaannya sesuai petunjuk dokter. Ada dua macam obat hipoglikemik, yaitu berupa suntikan dan tablet dapat diminum dan biasa disebut OHO atau OAD. 1) Obat tablet, yang dimaksud obat tablet adalah obat yang cara penggunaannya dengan diminum. Berdasar waktu paruh masing – masing OHO, obat dibagi atas tiga jenis :
Short – acting : waktu paruh 4 jam, diberikan 1 – 3 x/hari
Intermediate : waktu paruh 5 – 8 jam, diberikan 1 – 2 x/hari.
Long – acting : waktu paruh 24 36 jam, diberikan tiap pagi.
Cara minum obat dengan dosis terbagi adalah:
Pemakaian 1 x/hari : pagi hari
Pemakaian 2 x/hari : pagi dan siang hari
Pemakaian 3 x/hari : pagi, siang dan sore hari
Apabila obat jenis intermediate perlu diberikan 2x/hari, sedangkan penderita butuh 3 tablet maka obat diberikan pagi hari dua tablet dan siang satu tablet. Golongan obat ini tidak diminum pada malam hari karena akan menyebabkan hypoglikemia serta menyebabkan dikeluarkannya beberapa hormon misal katekolamin, kortisol dan growth hormon, dimana dalam jangka lama akan mempercepat kerusakan pembuluh darah. Untuk menambah khasiat menurunkan kadar glukosa darah, maka obat diminum ½ jam sebelum makan. 2) Obat Suntik / Insulin, yaitu obat anti hypoglikemia yang pemberiannya melalui suntikan, baik secara intra muscular, subcutan maupun intra vena. Obat jenis ini biasanya diberikan pada penderita DM tipe I, DM dengan gangren, ketoasidosis, koma, DM dengan kehamilan, berat badan penderita menurun cepat,tidak berhasil dengan tablet hypoglikemik,dan DM yang disertai gangguan hati dan ginjal. Tempat atau lokasi penyuntikan insulin adalah lengan atas, dinding perut, paha dan pantat.
Untuk memperoleh khasiatnya yang optimal maka sebaiknya penderita mencermati cara-cara/aturan obat anti DM yang digunakan baik itu OHO maupun suntikan.
Peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Sebelum dan sesudah dilakukan konseling kemudian dilakukan uji statistik dengan uji kendal tau diperoleh hasil yang signifikan yang berarti ada pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pengelolan anggota keluarga dengan DM. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara konseling keluarga dengan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang ditunjukkan adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Untuk dapat berhasil mengelola pasien dengan baik diperlukan perencanaan yang matang berupa tujuan jangka pendek, tujuan jangka panjang, tindakan dan kegiatan yang dilakukan, pemeriksaan berkala, serta penyuluhan. Berikut ini perencanaan yang dimaksud : 1) Tujuan jangka pendek, yaitu menghilangkan keluhan dan gejala penyakit Diabetes Mellitus, 2) Tujuan jangka panjang, yaitu mencegah komplikasi kronis yang dapat menyerang pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, syaraf, kulit dan kaki, 3) Tindakan yang dilakukan adalah menormalkan kadar glukosa, lemak, insulin dalam darah dan memberikan pengobatan bila terdapat penyakit kronis lainnya, 4) Kegiatan yang dilakukan meliputi : Kunjungan pertama dilakukan pemeriksaan fisik lengkap untuk mengetahui status gizi, komplikasi yang mungkin sudah timbul, dan adanya penyakit kronis lainnya. Pemeriksaan fisik lengkap meliputi:
Pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah
Menanyakan dan mencari tanda gangguan syaraf seperti rasa
kesemutan
Memeriksa keadaan kaki dan denyut nadi
Pemeriksaan EKG
Rotgen dada
Pemeriksaan fundus mata.
Pemeriksaan laboratorium standart, yang meliputi:
a.Darah; darah rutin, gula darah puasa dan dua jam setelah makan, albumin, kolesterol total, HDL & LDL kolesterol, HbA1c, kreatinin, SGPT (ALT) serta trigliserida.
b.Urine; sedimen, albumin, bakteri
c.Laboratorium tambahan yang sesuai dengan kebutuhan.
Pemeriksaan HbA1c, gula darah puasa dan dua jam setelah puasa setiap tiga bulan.
Pemeriksaan fisik lengkap diulang tiap satu tahun
Penyuluhan.
Sehubungan dengan peran dan tugas dalam kesehatan, keluarga diharapkan memiliki kemampuan yang dapat mengatasi problem-problem kesehatan dalam anggota keluarganya. Nasrul Efendy, (1997) menyatakan bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh keluarga dalam melakukan tugas kesehatan keluarga tersebut meliputi:
1.Mengenal masalah kesehatan keluarga
2.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat
3.Merawat anggota keluarga yang sakit
4.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga yang sakit
5.Menggunakan sumber dimasyarakat guna memelihara kesehatan.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, maka keluarga perlua mendapatkan konseling, dimana konseling keluarga merupakan salah satu penginderaan yang bisa dilakukan untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Latipun (2001) konseling keluarga merupakan bagian penting dalam memperoleh perubahan perilaku yang langgeng karena pada konseling keluarga, memandang bahwa keluarga tidak hanya dilihat sebagai faktor yang menimbulkan masalah, dimana keluarga menjadi bagian yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah, dimana keluarga dan anggota yang lain merupakan suatu sistem yang saling mempengaruhi sehingga untuk mengubah masalah yang dialami anggota keluarga diperlukan perubahan dalam sistem keluarga lainnya dan permasalah yang akan dialami seorang anggota keluarga akan lebih efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Konseling ini akan memperoleh hasil yang baik apabila dilakukan secara teratur dan berkesinambungan, sehingga diharapkan konseling keluarga tentang pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang diberikan pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM akan dapat meningkatkan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga yang menderita DM secara optimal.
Pengaruh konseling terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM
Konseling keluarga secara signifikan memberikan perubahan ke arah yang lebih baik terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM yang ditunjukkan dari data pre test dan post test yang kemudian dilakukan uji dengan uji Kendal tau terhadap semua komponen pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Berdasarkan hasil penelitian keluarga sebagai sitem pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan baik sehat maupun sakit terhadap anggota keluarga yang lainnya mengacu pada konsep tersebut, bila kita kaitkan dengan berbagai alasan ketidakmampuan dalam melaksanakan tugas-tugas keluarga, maka perawat bertugas membantu keluarga dalam melakukan 5 tugas keluarga dalam memahami kebutuhan kesehatan anggotanya. Baylon dan Maglaya (1978) menyatakan bahwa 5 tugas keluarga tersebut adalah :
a.Mengenal masalah kesehatan keluarga.
b.Mengambil keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat.
c.Merawat anggota keluarga yang sakit.
d.Memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga .
e.Menggunakan sumber di masyarakat guna memelihara kesehatan.
Keluarga yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah adalah dapat mencegah (pencegahan primer), menanggulangi (pencegahan sekunder) dan memulihkan (pencegahan tersier) untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka keluarga perlu mendapat konseling agar peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan Diabetus Mellitus bisa optimal.
Menurut Latipun (2001) keberhasilan konseling pada pelaksanaannya dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah yang berhubungan dengan karakteristik subyek. Karakteristik tersebut adalah tingkat pendidikan dimana pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandang terhadap diri dan lingkungannya sehingga akan berbeda cara menyikapi proses berlangsungnya konseling pada orang yang berpendidikan tinggi dan yang berpendidikan rendah. Tingkat pendidikan responden yang sebagian besar adalah tingkat menengah (SLTP) sehingga tingkat pemahaman keluarga relatif cukup baik. Dengan demikikian keluarga cepat memahami penjelasan yang dijelaskan oleh peneliti (sebagai konselor) pada pelaksanaan konseling. Hal ini mendukung terjadinya perubahan peran dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM ke arah yang lebih baik. Tetapi dalam penelitian ini peneliti tidak dapat mengidentifikasi hubungan tingkat pendidikan dengan peningkatan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM. Materi dan pelaksanaan konseling yang dilakukan oleh peneliti dipersiapkan dengan baik sesuai dengan kriteria pelaksanaan konseling keluarga, dimana hal ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan konseling yang berhubungan dengan konselor dan proses konseling.
Selain tingkat pendidikan tingkat pengetahuan juga mempunyai kontribusi dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM dimana orang yang berpengetahuan luas atau mempunyai informasi lebih banyak tentang pengelolaan DM maka ia akan mempunyai atau dapat berperan dalam keluarga. Peran tersebut akan menjadi langgeng apabila didasari oleh suatu pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (1997) Pengetahuan adalah hasil ”tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan pada suatu keluarga, karena dari pengalaman dan penelitian, prilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Konseling keluarga merupakan salah satu penginderaan yang bisa dilakukan untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Latipun (2001) konseling keluarga merupakan bagian penting dalam memperoleh perubahan perilaku yang langgeng karena pada konseling keluarga, memandang bahwa keluarga tidak hanya dilihat sebagai faktor yang menimbulkan masalah, dimana keluarga menjadi bagian yang perlu dilibatkan dalam penyelesaian masalah, dimana keluarga dan anggota yang lain merupakan suatu sistem yang saling mempengaruhi sehingga untuk mengubah masalah yang dialami anggota keluarga diperlukan perubahan dalam sistem keluarga lainnya dan permasalah yang akan dialami seorang anggota keluarga akan lebih efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain.
Penelitian Roger (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, begitu juga dengan keluarga yaitu 1) Awareness (kesadaran) dimana orang atau keluarga tersebut menyadari dalam arti lebih mengetahui lebih dulu terhadap stimulus atau obyek 2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut, disini sikap subyek sudah mulai timbul 3) Evaluasion (menimbang – nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi diri atau keluarganya. Dalam hal ini sikap responden sudah lebih baik lagi 4) Trial, dimana subyek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus 5) Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Berdasarkan data, ulasan teori di atas perlu kiranya diberikan konseling secara berkala dan berkesinambungan pada keluarga dengan anggota keluarga menderita DM sebab kecukupan informasi yang dimiliki oleh keluarga akan meningkatkan pengetahuan keluarga dimana hal ini akan menimbulkan kesadaran serta sikap yang positif dari anggota keluarga yang lain dan dapat meningkatkan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan, dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:
1.Peran keluarga dalam perencanaan makan pada anggota keluarga dengan DM mengalami perbaikan setelah dilakukan konseling pada keluarga.
2.Peran keluarga dalam latihan jasmani pada anggota keluarga dengan DM mengalami perbaikan setelah dilakukan konseling pada keluarga.
3.Peran keluarga dalam pemeliharaan kaki pada anggota keluarga dengan DM mengalami perubahan yang lebih baik setelah dilakukan konseling keluarga.
4.Peran keluarga dalam pengelolaan obat hypoglikemia pada anggota keluarga dengan DM mengalami perubahan ke arah yang lebih baik setelah dilakukan konseling.
5.Ada pengaruh yang bermakna antara konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM di wilayah Puskesmas Torjun Sampang dimana terjadi perbaikan peran keluarga pada pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM di wilayah kerja Puskesmas Torjun Sampang, maka perlu kiranya dilakukan :
1.Pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita DM seyogyanya diberikan konseling yang baik dan benar sebagai upaya untuk memperbaiki peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
2.Pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga dengan DM, dan sesudah berperan secara optimal hendaknya tetap diberikan konseling keluarga untuk mempertahankan perannya yang baik.
3.Penelitian ini ditemukan adanya pengaruh yang bermakna konseling keluarga terhadap perbaikan peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM, maka seyogyanya di setiap wilayah kerja Puskesmas dilakukan konseling secara berkala dan berkesinambungan tentang peran keluarga dalam pengelolaan keluarga dengan DM.
4.Perlu kiranya diadakan penelitian lebih lanjut tentang anggota keluarga (anak, istri, suami, cucu, dan lain – lain) yang sangat berperan pada pengelolaan anggota keluarga dengan DM, juga tentang faktor-faktor yang mempengaruhi peran keluarga dalam pengelolaan anggota keluarga dengan DM.
Daftar Pustaka
Andhana Wayan, (1983). Beberapa Metode Statistik Untuk penelitian Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya.
Charles. Abraham dan Eamon. Stanley, (1997). Social Psychology for Nurse: edisi 1. EGC, Jakarta.
Djarwanto PS, (1993). Statistik Induktif, Edisi ke 4. BPFE, Jogyakarta.
Gunarso Singgih, (2001), Konseling & Psikoterapi, Cet.4, Gunung Mulia Jakarta.
Latipun,(2001). Psikologi Konseling. Edisi 3. Universitas Muhamadiyah Malang.
Malilyn m. fridman, (1998). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik, Edisi 3. EGC, Jakarta.
Mappiane Andi AT, (2002), Pengantar Konseling & Psikoterapi, Cet. 3. Edisi I. Rajawali Press Citra Niaga Buku perguruan Tinggi Jakarta.
Marcia Stanhope, Jeanette Lancaster, (1997). Perawatan Kesehatan Masyarakat (Suatu proses dan praktek untuk peningkatan kesehatan I), Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.
---------------------------------------------, (1997). Perawatan Kesehatan masyarakat (Suatu proses dan praktek untuk peningkatan kesehatan II), Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.
Merry. E beck, (1993). Nutrition and Dietetics for Nurses, Yayasan Esentia Medica, Yogyakarta.
Nasrul Efendi, (1998). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, Edisi @, EGC, Jakarta.
Noer. Syaifoellah, (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. jilid I. Edisi 3. Balai Penerbit FK UI, Jakarta.
Notoatmodjo Sukijo,(1997). Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.
------------------------, (1993). Pengantar Ilmu Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Andi Offset Yogyakarta.
------------------------, (1993). Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi 1, Melton Putra Omset, Jakarta.
Pusat Diabetes dan Nutrisi RSUD DR. Soetomo- FK UNAIR, (2001). Majalah Deabetes, Volume 1, edisi 1, Surabaya.
---------------------------------------------------------------–FK UNAIR, (2001). Majalah Diabetes, Volume II, edisi 1, Surabaya.
Pranadji Diah K V, Martianto Dwi H, Ir, Subandriyo Vera Uripi, (2001). Perencanaan menu untuk penderita diabetes mellitus, cetakan 4. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sastro Asmoro. S dan Ismail, (1995). Dasar-dasar Methodologi Penelitian Klinik, Bina Rupa Aksara, Jakarta.
Setiawan Dalimartha, (2002). Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Diabetes Mellitus, Penebar Swadayu, Jakarta.
Suharsimi Arikunto, (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,, Edisi 4, Rineka Cipta, Jakarta.
Sulita et al, (2001). Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. EGC. Jakarta.
Tjokroprawiro. Askandar, (2001). Diabetes Mellitus Klasifikasi, Diagnosa dan Terapi, Edisi 3, Pt Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sudjana ,(1996). Metode Statistik, Edisi 6. Tarsito Bandung.
Sugiono, (2001). Statistik Nonparametris Untuk Penelitian, Edisi 2. CV. ALFABETA Bandung.
Wijaya IR, (2001). Statistik Non Parametris ( Aplikasi Program SPSS), Cet. 2. CV. ALFABETA Bandung.
Langganan:
Postingan (Atom)